Competition Addict

Tag

,

Yo, saya kembali lagi. Saya sebagai Author blog ini sedang sibuk menulis serialnya yang sudah menginjak chapter ke-42. Tapi, yah, Author ini bosan, jadi ia akan curcolan di sini dulu.

Author satu ini dikenal sebagai seorang ahli di bidang IPS dan pengetahuan umum. Ia dikirim untuk beberapa lomba, bahkan yang tingkat nasional. Dalam lomba itu, kadang ia menang, tapi lebih sering lagi kalah. Ia merasa kesal dan ingin membalas kekalahannya itu di lomba yang lain. Ia berpikir, kenapa ia ikut lomba sementara dari awal ia tidak suka kompetisi?

Ia mulai membenci dirinya karena satu alasan; ia tidak menang. Ia kalah. Selalu saja, kemampuannya tidak cukup untuk bersaing dengan orang lain. Kalaupun semua itu tergantung sedikit saja pada keberuntungan, keberuntungan tidak memihak padanya. Semuanya tidak akan berjalan sesuai harapannya. Harapannya tak terkabulkan, atau selalu tak bisa dikabulkan.

Secret Hobby

Heya! Makasih banyak buat yang baca, yang buka doang tapi gak baca, yang baca tapi gak buka #keajaiban, yang baca dan review, yang review tapi gak baca #tunggudulu, yang baca tapi gak review, Makasiiiih~
Langsung baca aja, ya?
________________________________________
Hari Sabtu sore…
Gilbert sibuk memakai lensa kontaknya, mengambil jaket dan topi. Kemudian, Ludwig yang lagi membawa sapu datang ke kamarnya dan bertanya, “Bruder, mau kemana? Bantuin aku bersih-bersih sono!” “ga bisa, west! Aku yang awesome ini ada janji latihan nge-pump sama-sama di rumahnya Rosalie! Jumat pekan lalu aku udah janjian!” kata Gilbert yang langsung cabut. “Jiah, mesti sendirian aku beres-beresnya. Bruder! Woi!” Ludwig mencoba menghentikan Gilbert, tapi tak berhasil; Gilbert sudah keburu pergi naik pasukan burung ke rumah Rosalie.
________________________________________
Di rumah Rosalie…
“Hmm… George datang nggak, ya?” tanya Rosalie penasaran. Tiba-tiba, Dominik datang. “Rosalie, ada orang aneh tuh di depan, nyariin kamu. Aku balik ke rumah dulu, ambil doujin setumpuk lagi.” Dia pun cabut ke bawah.
“Terserah, silahkan, gak balik juga gak apa-apa, bagus malah!” kata Rosalie. Dari bawah terdengar suara, “Tumben ngusir!” “Terserah aku dong! Rumahku juga!” balas Rosalie. Setelah tak terdengar balasan dari Dominik, Rosalie turun ke bawah.
“Ya, silahkan ma- GEORGE! Kau datang!” kata Rosalie senang. “Ya iyalah! Aku kan awe-eh, keren! Orang keren masa’ tidak menepati janji?” kata Gilbert. “Ayo, silahkan masuk! Kau mau minum apa?” kata Rosalie, mengajak Gilbert masuk. “Apapun itu, jangan minta bir, nanti kamu malah mabuk dan gak bisa main!”
Gilbert duduk dengan tenang di kursi tamu. Rosalie pergi ke dapur, dan tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah nampan berisi teko, dua cangkir the, dan sepiring kue. “Ah, ini tehnya.” Ia menuangkan teh ke cangkir Gilbert dan memberikannya.
“Eh George,” kata Rosalie. “Waktu itu, aku dikirimi surat misterius. Isinya puisi cinta, bertema pump pula! Kamu tahu nggak, siapa yang berpeluang jadi penulis puisi itu?” tanyanya.
Gilbert tersentak. ‘Pasti puisi itu yang dia maksud!’ pikirnya. “Aku tidak tahu. Namanya saja surat misterius. Ngomong-ngomong, bagaimana isi suratnya?” tanyanya balik. Rosalie mengeluarkan kertas dari saku bajunya. “Karena aku penasaran, aku membawanya kemana-mana. Oh, sepertinya ada yang lupa kubaca waktu itu.” Rosalie membuka lipatan kertas itu. “…Nah, disini. Pesan, jika kau menyukaiku balik, jangan sampai kisah cinta kita seperti lagu Oh! Rosa. Dan jika kau penasaran, tolong kirim balasan. Puisi, tema Pump It Up.”
Tiba-tiba, Rosalie menutupi wajahnya dan terisak pelan. “Hiks – hiks” “Rosalie, kau kenapa?” tanya Gilbert panik. “Aku -hiks- belum mau mati… -hiks- ” jawab Rosalie sambil tetap terisak. “Tenang…” Gilbert berusaha menenangkannya. Dalam hati Gilbert… ‘Bego bego bego! Kok bego banget aku bisa lupa kalau namanya Rosalie? Aaaah… Gak awesome! Baru kali ini aku bilang diriku nggak awesome!’
Beberapa saat kemudian, Rosalie berhenti menangis. “Mau mulai sekarang?” tanyanya. “Boleh! Dimana mesinnya?” tanya Gilbert bersemangat. “Di kamarku. Ayo.” Rosalie mengajak Gilbert ke lantai atas.
Di kamar Rosalie… “Woa… gede juga kamarmu!” kata Gilbert. ‘Yes! Aku berhasil masuk kamarnya! Lebih baik langsung kutaruh dia di kasur dan kuraep dia! Eh, jangan. Nanti penyamaranku ketahuan!’ pikirnya.
“Nah, ini mesinnya!” kata Rosalie, menunjukkan sebuah mesin besar yang langsung dikenali Gilbert sebagai mesin pump. “Ngomong-ngomong, aku juga merancang Sleep It Up *?* siesta untuk membantuku tidur~” katanya, sambil menunjuk sebuah mesin lain di sebelah mesin pump itu. “Baru ada tiga lagu sih…”
“Kau mau latihan lagu apa?” tanya Rosalie. “Chimera! Aku payah banget sama lagu itu!” kata Gilbert. ‘Apa? aku mengakui kelemahanku sendiri pada seorang wanita, terutama dia? Sudahlah, yang penting aku bisa belajar…’ pikir Gilbert.
“Nah, begini saja. Dulu, kalau aku belum bisa, biasanya aku buat diagram langkahnya, atau cari video orang lain memainkan lagu tersebut dan menirunya. Untuk diagram, aku bisa buat, cari sendiri, atau kalau kau mau, kau bisa pinjam punyaku!” kata Rosalie. “Kalau video sih, aku yakin di luar sana ada banyak, kecuali untuk lagu yang tak terlalu terkenal, mungkin.”
“Lalu, aku mulai dari mana?” tanya Gilbert. “Hmm… mungkin kau perlu lihat video dulu. Lihat, bukan tiru. Pahami pola yang terlihat disana, dan kalau ada yang membuatmu bingung, tanya aku. Aku bisa bantu peragakan gerakan itu.”
Rosalie mengeluarkan laptopnya, menyalakannya, dan membuka satu video. “Nah, ini video saat aku memainkan lagu Chimera di reuni sekolah tahun lalu. Sebenarnya, ada satu hal yang kubenci dari video ini, karena setelah aku main, ada yang menantangku, dan aku… kalah.” Katanya.
Gilbert duduk di depan laptopnya Rosalie, menekuni video itu, memperhatikan setiap langkah disana, mengingat pola yang muncul beberapa kali. ‘Aku harus bisa! aku tak mau mempermalukan diriku yang awesome ini di depannya!’ pikirnya.
Tiba-tiba, Rosalie berkata, “Aku ke bawah dulu sebentar, mau memeriksa apa Dominik sudah kembali dari rumahnya.” Lalu ia beranjak ke pintu. “Lakukan itu beberapa kali, sampai kau mengerti beberapa bagian. Sisanya kau bisa tanya nanti.” Rosalie keluar kamar.
Gilbert terus memutar video itu berkali-kali. “Oh, jadi begitu… kalau dilihat, simpel juga…” katanya melihat salah satu bagian.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Rosalie masuk. “Bagaimana? Sudah mengerti?” “Aku mengerti beberapa bagian, tapi ada yang masih bikin pusing…” jawab Gilbert. “Yang mana?” tanya Rosalie. “Eh, yang ini, bagian yang sebelum terakhir.” Jawab Gilbert. “Ohh… yang itu. biar kuperagakan.” Rosalie mengambil tempat di ubin lantai kamarnya dan memperagakan bagian itu.
“Sebenarnya, kalau kau jeli, George, Chimera ini seperti bentuk muter dengan variasinya. Emm… bukan muter seperti di Starian, ya, bukan itu maksudku. Kalau sudah mengerti, pasti tinggal main aja dan bisa dapat A, bahkan S atau juga SS aka The Absolute Perfect. Kalau kata orang yang sudah ngerti sih, ini kayak muter-muter doang.” Kata Rosalie. ‘UAPAH? Itu mah kata seorang ahli sepertimu, Rosa…’ pikir Gilbert.
Mereka terus berlatih sampai malam. “Sudah lebih paham?” tanya Rosalie. “Ya, sangat lebih. Boleh aku bawa pulang kertas ini? Aku juga hendak latihan di rumah.” Pinta Gilbert. “Silahkan, ambil aja, aku masih punya salinannya.” Kata Rosalie. “Aku pulang dulu, ya.” kata Gilbert, beranjak ke pintu.
________________________________________
Esoknya, Gilbert berlatih keras. Ia melakukan semua hal sambil nge-pump, mulai dari masak, menjemur baju, memberi makan gilbird, bahkan saat ia mandi pun ia nge-pump, dan berakhir dengan… “Whoaa..!” BRUKK… Gilbert terpeleset dan jatuh.”Bruder! Sudah kubilang, jangan mandi sambil nge-pump!” teriak Ludwig dari dapur.
Setelah diobati sebentar oleh adiknya, Gilbert rupanya tidak kapok untuk nge-pump sambil mengepel lantai, dan berujung pada kejadian yang sama.
________________________________________
Hari Seninnya…
Aaahh… hari Senin, hari yang sangat menyebalkan, terutama untuk orang yang masih ingin libur lebih lama, seperti Lovina. Tunggu, kuta tidak membicarakan Lovina disini, jadi tolong lupakan soal itu.
Rosalie datang ke kantor dengan ogah-ogahan, rambutnya masih sedikit berantakan, dan ia sesekali menguap. “Hoaahm… Semoga saja mereka tidak menggangguku hari ini. Ngomong-ngomong, tumben mereka tidak kelihatan.” Katanya.
Tiba-tiba, Gilbert datang… sambil nge-pump. Ludwig di sebelahnya hanya facepalm. ‘Ayolah, Bruder… kau nampak seperti orang terkena koreomania…’ pikirnya. Feliks yang kebetulan lewat langsung berteriak, “Pony! Wabah tarian itu kembali setelah lima ratus tahun! Kita akan mati~ like, Toris, bagaimana ini?”
Rosalie hanya menatap Gilbert kebingungan. Meski beberapa orang panik karena mengira wabah koreomania telah kembali, tarian pump Gilbert malah mengajak orang-orang lain untuk menari bersama, seperti Alfred yang juga mengajak Arthur. Francis dan Antonio juga bergabung bersama ketua *?* mereka. Sayangnya, Francis menari bugil dengan sensor mawar seperti biasanya, membuat Rosalie pergi dan mengunci diri di ruangannya.
“Pony! Mereka tertular wabahnya! Tapi wabah ini seru juga, like pony. Ayo!” Feliks mengajak Toris untuk bergabung. Rupanya, Feliks sendiri corettertularwabahcoret tertarik untuk menari bersama rekan-rekannya.
Akhirnya, wabah koreomania berakhir jam setengah sembilan, saat jam masuk kerja. Ludwig sudah menyiapkan pentungan di sebelahnya, kalau-kalau ada orang yang masih menari. Semua bergidik, dan akhirnya berhenti juga. Dan, hari itu pun berjalan dengan cukup normal, kalau bagian Bad Trio menjahili Rosalie tidak dihitung.
________________________________________
Makasih udah baca~ ngomong-ngomong soal koreomania, dulu ceritanya saya pernah lihat buku kakak kelas yang membahas tentang itu, dimana orang-orang menari berhari-hari sampai pada jatoh kelelahan. Akhirnya, saya buat versi saya sendiri dengan pump sebagai pengganti tarian. Tunggu, bukannya pump juga dihitung tarian? #dilemparduit #kesenengan #ditendangkelaut #baliklagi
Makasih banyak buat Review-nya yarnballVandal yang udah ngasih pendidikan EYD gratis ke saya~ Kalau bisa, nanti saya coba cari diksi yang lebih baik~
Apapun itu, Review-nya, monggo~

Liburan, Anime Time!

Tag

, , ,

Yo, kembalilah saya setelah begitu lama nggak nge-post apa-apa. Jadi, kali ini adalah masa liburan. Liburan adalah nganggur di rumah, nggak begitu ngapa-ngapain. Kerjaan di masa ini adalah, nulis cerita, nge-game, baca manga, dan download anime. Pada beberapa kesempatan, saya ini akan menonton anime bersama saudara saya alias author sebelah. Hari-hari nganggur yang menyenangkan~

Celebration

Tag

, ,

Halo, kembali lagi setelah saya ilang berapa lama gak balik gara-gara sibuk ngurusin cerita-cerita serial fantasi dan tukaran cerita dengan adek saya, saya kembali juga… #persiapkanperayaan #ditendangkeluar

Jadi, entah bawaannya apa, saya ikut sebuah challenge di infantrum -yang untungnya ngebolehin naroh fic di luar FFn-, dan tanpa disangka-sangka, aku jadi juara favorit… padahal di awal ikutan beginian juga cuma iseng…. #airmatabahagia

Begitu ngeliat, rasanya nggak percaya. Emang sih, gak juara 1, juara 2, apalagi juara 3, tapi tetep aja seneng.

BTW, hadiahnya pulsa…. ._. dan aku gak ada HP… orz

Gara-gara itu, aku jadi semangat lagi, dan pengen masukin serial cerita ke blog ini. Tawarannya, mau yang ada kekuatan gajenya atau ada misterinya? Silahkan pilih~

NB: kalo golput semua, aku pikir sendiri nanti #gedebuks

Kesadaran Diri di Malam Hari

Tag

, , , , ,

Halow, met malem pas saya lagi nulis ini post. Mulai sekarang, perasaan saya…

GALAU! Inilah galau paling berkesan sejauh hidup saya! #galaugalaubangga

Jadi, awalnya saya nemu Page FB penuh gambar anime. Di sana, tentunya ada gambar Kirito dan Asuna yang nongol di SA[w]O. Mereka berdua orang-orang rupawan nan pandai berpedang. Tapi… ngeliat si Kirito, malah jadi inget tokoh sendiri dari cerita sendiri. Dasar plot sang cerita akan diceritakan di bawah.

Cerita malang ini, yang terjuduli ‘Exams and Battles’ direncanakan akan tampil di blog ini jika ada kesempatan. Dimulai dari portal cermin ajaib menuju dunia yang tak diketahui -Plis. Jangan bilang cermin ajaib itu mirip apapun! Udah sakit ati mikirin Eduardo dan Kirito, trus ketiban cermin seubrek!- di gudang rumah seorang tokoh bernama Eduardo Saclateri, yang kebetulan mengajak temannya yang bernama Albertina Farnes yang menemukan jalan pintas ke rumahnya lewat sebuah cermin lain ke dalam si cermin gudang tersebut. Mereka lalu bertemu pria aneh pembawa senjata yang menawari mereka seperangkat alat panah dan sebuah pedang. Dengan kompetisi duel untuk mendapatkan hadiah seubrek ditambah sedikit air ajaib bernama Agueri yang konon dapat menguatkan bermacam-macam benda dan orang juga mengabulkan permintaan, mereka dan 3 teman baru dari dunia di balik cermin itu mulai berusaha. Di balik pedang yang di tawarkan pria itu, ternyata ada rahasia besar yang membuat Eduardo dan Albertina terlibat dalam kasus keamanan dan kriminal tingkat tinggi.

Well… plot dasar cerita ini nggak ada mirip-miripnya sama SAO. SAO punyanya game, kalo ini dunia aneh. SAO yang terkenal pedang, kalo ini senjatanya macem-macem seubrek. SAO juga -cukup. Ini bakal memperlama.

Intinya, ngeliat Kirito bikin saya ini keingetan tokoh sendiri. Karena Kirito itu cowok, maka saya keingetan cowok juga, yaitu si Eduardo. Secara tampang, dia pakai kacamata, dengan rambut hitam yang lumayan lurus (voila! ini dia!) dan mata kekuningan ala batu amber kuning. Sekarang aku bersyukur sangat melihat kenyataan bahwa Kirito tidak pakai kacamata dan matanya sendiri hitam.

Lalu, tokoh utama kedua: Albertina. Dalam bayangan saya, gaya rambut anak ini agak mirip dengan Asuna. Hanya warnanya saja yang coklat dan jauh lebih tua. Plus, matanya biru. Aku langsung bersyukur dengan kenyataan bahwa Asuna rambutnya berwarna agak oranye dan matanya juga berwarna sama.

Syukur berikutnya, aku belum melihat cerita ini terkenal, dan digambar tokohnya. Pasti ada banyak yang mengira base-nya dari Kirito dan Asuna dan cuma diwarna ulang.

Ada yang mau bantu hibur saya?

Furaifu-san

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.