Tag

, , , , , ,

Huaah… setelah vakum ide, akhirnya bisa balik juga gue! Gara-gara video, jadi gatel pengen nulis soal Perang Tujuh Taon. Kalo diperhatikan, Perang Tujuh Taon adalah salah satu perang yang (dengan anehnya) tidak berguna sepanjang sejarah. Bayangkan saja, tujuh tahun berperang, krisis finansial, jutaan orang mati, dan ujungnya semua kembali seperti semula sebelum perang. Buang waktu saja.
Secara pengertian, perang ini adalah sebuah perang yang berlangsung di Eropa pada tahun 1756-1763. Meski perang ini banyak di Eropa, beberapa perang ini juga terjadi di koloni-koloni milik Inggris dan Prancis seperi Amerika, Filipina, India, dan Afrika Barat. Ini semua mrupakan hasil dari konflik hegemoni dan teritorial di Eropa, terutama konflik Austria-Prusia dan konflik Inggris-Prancis. Perang ini melibatkan Austria, Prancis, Rusia, Swedia, Spanyol, dan Sachsen di satu pihak dan Prusia, Inggris, Hannover, Brunswick-Wolfenbüttel, Konfederasi Iroquois, Hesse-Kassel, dan Schaumburg-Lippe di pihak lain. Perang ini diakhiri oleh 4 traktat (bayangkan, sodara-sodara! Empat!) untuk mengakhiri beberapa bagian sekaligus. Keempat traktat tersebut adalah Traktat St. Petersburg (1762), Paris (1763), Hubertusburg (1763), dan Hamburg (1762).
Latar belakang, seperti biasanya! #shot
Awal mula dari perang ini adalah Prusia berhasil mengambil Silesia yang merupakan daerah penting di Austria. Maria Theresia, Ratu Austria saat itu, menandatangani Traktat Aachen (1748) untuk membangun kembali kekuatan militernya dan mendirikan aliansi baru, yang cukup berhasil. Revolusi diplomatis, membuat Austria mendirikan “League of the Three Petticoats” yang terdiri dari Ratu Elizaveta dari Rusia, Madame de Pompadour dari Prancis, dan Maria theresia dari Austria. Austria juga mendapat hongaria, Swedia, dan Sachsen sebagai sekutunya. Menghadapi hal ini, Prusia mendirikan aliansi dengan Inggris, juga karena melihat daerah Hanover (yang penguasanya adalah orang yang sama dengan penguasa Inggris) terancam oleh Prancis. Persekutuan dua negara ini menggabungkan dua kemampuan besar: Pertempuran darat yang baik dan armada laut yang hebat.
Maria, yang pengetahuan militernya saja dengan suksesnya membuat jenderal-jenderalnya facepalm, lebih tetarik meningkatkan kesejahteraan tentaranya, dan memberikan dia rasa hormat dari tentaranya. Austria sudah banyak mengalami kekalahan (yang memalukan) di perang sebelumnya, dan mereka juga merasa tidak puas dengan bantuan sangat terbatas dari Inggris. Karena itu, Austria merasa Prancis adalah sekutu yang tepat. Rusia dan Swedia bergabung untuk membantu mengepung Prusia dari timur dan utara.
Strat’gery Time!
Strategi Prancis, sama seperti perang-perangnya yang lain di abad 18, ia membiarkan koloninya membela diri sendiri, dengan cara mengirimkan sedikit tentara –atau yang tidak berpengalaman- ke sana. Jalur laut yang didominasi Inggris membuat mereka tidak bisa mengirim banyak orang. Prancis juga memusatkan pertempuran mereka di eropa, karena mereka berharap bisa menang lebih dekat ke rumah.
Strategi Inggris, ia memutuskan untuk membantu pengatur strategi terhebat di masa itu, Pak Frederick dan kerajaannya, Prusia. Mereka memberikan bantuan baik berupa biaya maupun tentara untuk membantu serangan-serangan Frederick. Inggris juga beraliansi dengan kekuatan kontinental yang meski tak ada hubungannya dengan mereka, tapi memiliki keinginan yang menentang musuh-musuh Inggris, terutama Prancis. Inggris, berlawanan dengan Prancis, lebih memusatkan pertempuran di koloni-koloni, menggunakan kekuatan pertempuran laut. Inggris juga menggunakan gabungan strategi blokade dan pengeboman.
Perkembangan pertahun!
Disini, akan dijelaskan perkembangan selama tujuh tahun itu, bagaimana serangan masing-masing pihak, serta kejadian-kejadian yang secara langsung maupun tak langsung memengaruhi perang.
1756
Prancis mulai mengepung Minorca, yang merupakan kepunyaan Inggris sejak 1713. Pulau itu berhasil dikuasai tanggal 28 Juni. Tanggal 29 Agustus, Pak Frederick melewati perbatasan Sachsen untuk mengantisipasi serangan Austro-Prancis ke Silesia. Orang Sachsen dan Austria yang tidak siap langsung jadi kacau balau. Di Pertempuran Lobositz, Prusia berhasil mencegah pasukan Sachsen yang dikepung dibantu oleh Austria. Ujungnya, Prusia mengambil daerah itu dan berlanjut ke pendudukan Sachsen dan menyerahnya pasukan negara kecil itu di pertempuran Pirna. Penyerangan Prusia ke Sachsen membuat semuanya marah dan beberapa bergabung ke aliansi melawan Prusia.
Inggris kaget dengan serangan tiba-tiba partnernya ini, dan mencoba membantu dengan cara membujuk Belanda untuk ikut mendukung Prusia, tapi ditolak karena Belanda ingin tetap netral.
1757
Di pertempuran Praha, Pak Frederick dan pasukannya berhasil memaksa pasukan Austria untuk mundur, dan pasukan Prusia mengepung kota tersebut. Tetapi, mereka harus menyelesaikan pengepungan mereka setelah serangan balasan yang lebih besar dari Austria. Pak Frederick pertama kali kalah di pertempuran Kolín. Beberapa kekalahan berikutnya menyusul. Pak Frederick berhasil bertahan, dan akhirnya dia berhasil di Rossbach dan Leuthen. Setelah itu, semuanya berjalan sesuai keinginan. Pak Frederick berhasil mengambil hampir seluruh Pomerania, sementara Inggris seringkali kalah di Amerika. Pak Frederick memperhitungkan tak ada gangguan dari Rusia sampai 1758.
1758
Prusia mulai menyerang Moravia, dan mengepung Olomouc. Setelah pertempuran Domstadtl, pak Frederick menghentikan pengepungan dan menarik pasukan dari Moravia, menandai usaha terakhirnya untuk melakukan serangan besar ke daerah Austria. Prusia timur telah dikuasai Rusia, dan tetap dikuasai sampai 1762. Di bulan April, Inggris berjanji membayar subsidi tahunan sebesar 670.000 Poundsterling (£) ditambah 9.000 orang untuk membantu Hannover mengusir orang-orang Prancis. Marshal von Daun dari Austria berhasil mengejutkan pasukan utama Prusia di Hochkirch. Pak Frederick kehilangan beberapa artilerinya tapi berhasil kabur, dibantu oleh daerah berhutan. Usaha Austria mengambil Dresden gagal, sehingga Prusia tetap menguasai Sachsen.
1759-60
Ada beberapa kekalahan lagi bagi Prusia. Di Kay, Rusia berhasil mengalahkan Prusia, meski mungkin itu juga karena sikap tidak bijaksana Prusia untuk menyerang pasukan Rusia yang lebih besar. Di Minden, Hanover seperti biasa berhasil mengalahkan Prancis. Di Maxen, Austria memaksa Prusia menyerah dan nyaris menghancurkan seluruh pasukannya (dari sekitar 14.000 orang Prusia, yang tersisa tinggal beberapa ratus). Pak Frederick kehilangan separuh pasukannya di pertempuran Kunersdorf, yang dianggap oleh beberapa sejarawan sebagai kekalahan terburuk Pak Frederick selama karirnya sebagai Jenderal Prusia. Tahun 1760 lebih bencana lagi. Jenderal Fouqué dari Prusia kalah di Landeshut, Prancis berhasil mengambil Marburg, Swedia mengambil Pomerania Prusia, dan Hanover berhasil mengalahkan Prancis (seperti biasanya dibilang) di Warburg, mencegah Prancis mengirim bantuan ke Austria untuk menyerang Prusia di timur. Meski begitu, Ernst von Laudon (Austria) tetap berhasil mengambil Kłodzko (sekarang Glatz) di Silesia.
1761-62
Pak Frederick mulai lagi dengan 100.000 orang, mayoritas masih baru. Spanyol dan Portugal memasuki perang dan menempati posisi yang berbeda. Spanyol bersama Austria (suit suit~) dan Portugal bersama Prusia. Spanyol (dibantuin Prancis) berhasil mendapat Almeida. Di pertempuran Villinghausen, Brunswick berhasil mengalahkan Prancis. Rusia mengepung Kolberg dan Austria mengambil Schweidnitz. Bagi Prusia, kehilangan Kolberg sama dengan kehilangan pelabuhan laut terakhirnya di Laut Baltik. Inggris merasa Prusia akan kolaps sebentar lagi. Tanggal 5 Januari 1762, Ratu Elizaveta meninggal, dan digantikan oleh kerabat terdekatnya, Peter. Peter adalah seorang pangeran Jerman yang mengagumi Prusia dan Pak Frederick, jadi dia memerintahkan untuk menarik pasukan dari Prusia dan membantu menciptakan perdamaian Prusia-Swedia (kejadian ini dikenal sebagai “Keajaiban Wangsa Brandenburg”). Rusia berpindah sisi ke Prusia di Traktat St. Petersburg. Austria, ditinggal sendirian di timur, jadi lebih mudah kalah pada saat ini. Di pertempuran Freiberg, Pak Frederick berhasil mengusir pasukan Austria dari Silesia.
1763
Silesia kembali ke tangan Prusia (Silesia: Kakak! *nganggap gilbo kakaknya* Gilbo: Sil! Akhirnya kamu balik juga! Gimana rasanya di tempat si aristokrat itu? Sil: Bosen kak! Gilbo: Makanya, sama kakak aja~ Sil: Oke! Writer*darikejauhan*: GUBRAKS!) Prusia juga sempat menguasai beberapa bagian HRE. Subsidi ke Hanover dihentikan oleh perdana menteri Inggris yang baru, John Bute. Peter dikudeta istrinya sendiri, Catherine, yang membalik dukungan ke Austria dan menyerang Prusia kembali. Austria, yang sudah dilemahkan oleh krisis keuangan seperti yang lainnya, akhirnya membuat Traktat Hubertusburg untuk menyelesaikan urusannya dengan Prusia.
Akhir(nya~) perang ini… SELESAI!
Perang panjang bin merepotkan ini diakhiri oleh empat traktat untuk mengakhiri beberapa bagian terpisah. Keempat traktat tersebut adalah traktat St. Petersburg, Hamburg, Paris, dan Hubertusburg.
Traktat pertama adalah traktat St. Petersburg, ditandatangani tanggal 5 Mei 1762 di kota St. Petersburg, Rusia. Traktat ini, menurutku lebih tepat disebut “Traktat bantuan bertahan 7 bulan” karena hanya dapat bertahan selama tujuh bulan sebelum Tsar Peter III (yang bikin) meninggal. Di traktat ini, Rusia memutuskan untuk menarik pasukan dari Prusia Timur, membantu Prusia berkonsentrasi dalam menghadapi musuh-musuhnya yang lain seperti Austria dan Sachsen, dan membantu menciptakan perdamaian Prusia-Swedia. Biar gak susah, gimana kalau tak bikinin adegan untuk membantu.
*burung pengantar pesan dari Rusia datang* Gilbert: Hei! Ada surat dari Rusia! Semoga awesome!
*Pak Frederick nimbrung* Frederick: Wah, coba lihat isinya, nak! *Gilbert ngebuka surat* Gilbert: tak bacain ya pak, ehm. Untuk Prusia, Gilbert Beilschmidt, dan siapapun yang baca surat ini (Gilbert: ???) raja baruku menyukai Prusia, jadi ia memutuskan untuk menarik pasukan dari daerah kalian, membantu menciptakan perdamaian antara kalian dan Swedia, dan tidak mengganggu kalian memerangi musuh-musuh kalian. Salam aura hitam, Rusia. *BGM: Don’t Stop Believing Glee cover* Frederick: Ya Tuhan… ini keajaiban! *Gilbert dan Pak Frederick senang bukan kepalang*
*setelah penandatanganan…* Frederick: Cepat adakan festival! Ini benar-benar keajaiban~
Okei, tadi itu aneh. Traktat berikutnya adalah Traktat Hamburg, ditandatangani tanggal 22 Mei 1762 di kota Hamburg, Jerman, antara Prusia dan Swedia. Sebenarnya traktat ini adalah traktat perdamaian, yang mengakhiri Perang Pomerania sebagai bagian dari Perang Tujuh Tahun. Kalau ditanya, sebenarnya Pak Frederick ogah berdamai ama Swedia, cuman karena mediator perdamaian itu adalah Louisa Ulrika, Ratu Swedia yang juga saudarinya Frederick, akhirnya dia mau juga.
Traktat ketiga adalah Traktat Paris, ditandatangani tanggal 10 Februari 1763 antara Inggris, Prancis, dan Spanyol. Sepanjang perang, Inggris, Prancis, dan Spanyol saling mengambili koloni lawannya. Di traktat ini, mayoritas daerah koloni dikembalikan ke pemiliknya, tapi Inggris mendapat banyak daerah dari Prancis. Inggris mendapat Kanada, Dominika, Grenada, St. Vincent dan Grenadine, juga Tobago dari Prancis, sementara St. Lucia, Martinique, Guadelope, stasiun dagang budak di Goreé, dan pusat dagang di India dikembalikan. Separuh Louisiana di bagian timur Mississippi diberikan Prancis ke Inggris, meski ada sebuah traktat rahasia yaitu Traktat Fontainebleau (1762) yang menyatakan Prancis memindahkan pengurusan Louisiana ke Spanyol. Prancis berjanji tak mengirim pasukan ke Benggala, Inggris setuju membubarkan benteng di Belize, tetapi memiliki tempat pemotongan kayu disana.
Traktat keempat (dan terakhir) adalah Traktat Hubertusburg, ditandatangani tanggal 15 Februari 1763 di istana Hubertusburg, Jerman antara Prusia, Austria, dan Sachsen. Traktat ini memiliki dua bagian, sebagan untuk mengurus permasalahan Austria-Prusia dan sebagian yang lain untuk mengurus permasalahan Prusia-Sachsen. Di bagian Austria-Prusia, Maria dan penerusnya setuju untuk tidak mencoba mengklaim daerah yang dikasih ke Prusia pada Traktat Breslau dan Berlin. Prusia juga setuju untuk tidak menuntut ganti rugi atas semua kerugian dalam perang. Konflik dihentikan dan pasukan-pasukan ditarik dari berbagai tempat. Glatz dibalikin ke Prusia, dan Prusia mengabulkan permintaan penduduk setempat untuk menarik pasukan dari sana. Arsip-arsip Prusia yang disita Austria dikembalikan. Prusia memberi kebebasan beragama pada penduduk Silesia, dan mengakui hak serta kepemilikan mereka. Kedua negara juga berjanji untuk memajukan kerjasama dagang antar mereka.
Pasal rahasia, jangan beritahu siapapun: Frederick, sebagai Raja-Pemilih Brandenburg setuju memilih Joseph (anaknya Maria) untuk menjadi HRE (27 maret 1764) dan mengakui klaim Habsburg atas Modena.
Antara Prusia dan Sachsen, gencatan senjata, semua batas daerah dikembalikan seperti sebelum perang, menurut Traktat Dresden (1745). Prusia juga memperbolehkan pasukan Sachsen pergi ke Polandia melewati Silesia.

Hidup emang koplak. Perang kok bisa-bisanya se-tak berguna itu. makanya Bu Maria, Pak Fritz, jangan kebanyakan perang dong~ jangan dendam~ peace, man, peace… *Writer ditodongin pedang ama Pak Fritz*

Iklan