Tag

,

Seorang anak kecil bernama Julie sedang berjalan pulang dari sekolah ke rumahnya. Di tengah jalan, ia melihat sebuah kerumunan. Tertarik, ia berjalan ke kerumunan tersebut.

“Permisi, permisi, woops! Ah, maaf!” Ia melewati beberapa orang untuk mencapai bagian depan kerumunan itu. Di sana, ia melihat seorang pemusik, membawa biola. Orang itu menatapnya, tersenyum ramah, tapi tak mengatakan apapun.Julie membalas senyumannya.

Tiba-tiba, pemusik itu mengangkat biolanya tinggi-tinggi, lalu memposisikannya di bawah dagunya dan mulai bermain. Permainannya indah, mengalir, dan terdengar agak familiar di telinga Julie. Ia selalu mengingat komposisi ini, yang pertama ia dengar di pesta pertunangan tantenya. The Blue Danube, karya Johann Strauss Jr. Lagu yang pertama kali membuatnya ingin menari, pertama ia merasakan penghayatan tingkat tinggi dari para pemusiknya, dan pertama kali ia melihat seorang lelaki tua yang menjadi konduktornya saat itu. Kakeknya sendiri.

Julie berasal dari keluarga pecinta musik, terutama musik klasik. Entah ada berapa kotak partitur favorit mendiang kakeknya yang tersimpan baik di rumahnya. Ibunya sendiri mahir bermain piano, dan anggota keluarga besarnya dapat memainkan alat musik lain yang berbeda-beda. Kakeknya juga menjadi konduktor dari pesta-pesta keluarganya, sementara anggota keluarga yang lain menjadi pemusiknya.

Permainan berakhir, semua orang di kerumunan itu bertepuk tangan, terutama Julie yang dengan semangatnya memberi aplaus kepada si pemusik. Setelah semuanya bubar, Julie menghampiri pemusik itu, yang sedang mengemas biolanya. “Nama tuan siapa?” Tanya Julie. Pemusik itu diam saja, tapi memberikan berbagai isyarat yang Julie tidak mengerti. Melihat Julie mulutnya ternganga, akhirnya ia mencari jalan lain. Ia menunjuk tanda jalan St. William. Julie hanya bisa berasumsi kalau orang ini hendak mengatakan namanya William. Lalu, ia menunjuk papan nama Grafs Motel. ‘Oh, berarti, nama orang ini William Grafs.’ Pikir Julie. “Terimakasih.” Katanya, dan orang itu tersenyum ramah.

Julie berlari pulang ke rumah, diliputi perasaan senang dan takut. Ia senang karena menonton pertunjukan musik jalanan tadi, dan takut dimarahi ibunya karena pulang terlambat.
Ia mengetuk pintu dan dibukakan oleh ibunya. “Julie? Kenapa kau pulang sesore ini, Nak?” “Tadi aku menonton pertunjukan musik jalanan, Bu. Keren sekali~” Jawab Julie.

“Dimana?” tanya ibunya. “Di trotoar perempatan yang biasa kulewati saat pulang sekolah. Anehnya, pemusiknya diam terus, Bu. Tidak bilang apa-apa kalau ditanya.” Kata Julie bingung.

“Ibu duga, dia si musisi jalanan tuli yang pernah terlihat di beberapa tempat itu, ‘kan?” Duga ibu. “Dia Tuli?” Tanya Julie kaget. “Karena dia tuli, dia tak pernah mendengar apa-apa, jadi dia juga bisu. Dia pernah lewat sini beberapa kali.” Jelas ibunya. “Hebat sekali dia!” Julie terkagum-kagum.

“Ibu,” Panggilnya. “Aku boleh latihan biola juga nggak?” “Tentu saja boleh. Kau bisa pakai biolanya kakek. Sebelum kakek meninggal, ia mewasiatkan agar ibu menyimpan biola kesayangannya, juga agar tidak melarang siapapun dari keluarga kita menggunakan biola tersebut untuk menjadi penerus pemain biola berikutnya.” Kata ibu, yang kemudian mengajak Julie pergi ke gudang.

KRIEET… pintu yang nampaknya sudah cukup tua itu terbuka. “Kalau tidak salah, kotak biolanya ditaruh di antara partitur.” Ibu masuk ke gudang mencari kotak biolanya, sementara Julie menunggu di luar.

“Ini dia, nak,” ibunya kembali dengan membawa sebuah kotak, ditambah beberapa kertas yang Julie asumsikan adalah partitur. “Berlatihlah perlahan, tapi rajin. Nanti lama kelamaan kau juga bisa. Ini kunci kotaknya.” Nasihat ibu, dan ia memberikan kunci kotak biola itu ke Julie. “Baik, bu!” Kata Julie senang, menggunakan kunci itu untuk membuka kotak biolanya. “Whoa…” Ia takjub melihat sebuah biola yang tersimpan rapi. “Kita latihannya di ruang keluarga saja, ya?” Kata ibu, membantu membawakan kotak itu ke bawah. Kemudian, terdengar suara-suara gesekan biola.

-6 tahun kemudian-

“Yeah! Bravo!” Terdengar suara sorakan dari ruang keluarga rumah Julie. Seluruh keluarga besarnya menonton konser kecil-kecilan Julie memainkan ‘The Sad Violin’ bersama ibunya sebagai pengiring dengan piano.

“Kau berbakat sekali, saudaraku!” Kata Herbert, sepupunya, yang kemudian memainkan ‘lagu kejayaan’ buatannya sendiri dengan sulingnya. “Kakekmu akan jadi sangat bangga.” Kata pamannya, Gustaf. “Kapan-kapan, coba berduet dengan oboe milik paman.” Katanya. “Kalau kakek ada di sini, dia pasti jadi sangat terkesan.” Kata tantenya, Anita. Julie hanya tersenyum dan berkata, “Terimakasih.”

Setelah semuanya pulang ke rumah mereka, Julie berkata pada ibunya. “Bu, boleh aku bicara sebentar?” “Tentu. Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya ibu. “Aku… merasa ada yang kurang.” Kata Julie. “Memangnya, apa yang masih kurang? Kau sudah lumayan mahir bermain biola, beberapa kali tampil di pesta keluarga dengan gemilang, dan kau juga berhasil tampil bagus di pesta perpisahan sekolah.” Kata ibu.

“Aku merasa ada satu hal yang hilang, dan tanpa itu, aku hanya seorang pemain biola biasa.” Kata Julie. “Oooh… kau ingat si musisi tuli itu? karena ketulian dan kebisuannya itulah yang membuatnya berbeda dari pemain biola lain.” Jelas ibunya. “Nah, aku perlu perbedaan seperti itu, bu.”

“Membuat dirimu berbeda dan memiliki nilai lebih itu bagus,” Kata ibu. “Tapi kau tak perlu mengorbankan telinga dan mulutmu, ‘kan?” “Iya, Bu, tapi aku sudah sebelas tahun sekarang, tidak semuda saat aku masih di TK dulu. Kalau aku sudah mahir sejak TK, mungkin aku malah di-cap sebagai ‘pemain biola termuda di kota’.” Kata Julie.

“Sebenarnya, Nnak,” kata ibu sambil merangkul Julie. “Yang lebih penting bukanlah untuk menjadi spesial dan berbeda, tapi untuk melakukannya sebaik yang kau bisa. Seseorang yang menulis tak akan disebut penulis sampai ia mempublikasikan tulisannya. Berapapun usianya, entah tiga tahun, sepuluh tahun, bahkan delapan puluh tahun sekalipun, jika ia simpan saja tulisannya, maka ia bukan penulis.”

“Tapi, Bu, bukannya nanti yang tiga tahun umurnya itu jika mempublikasikan tulisannya dan terkenal akan di-cap ‘penulis termuda’ dan yang delapan puluh tahun akan di-cap ‘penulis tertua’?” Tanya Julie. “Ya, memang. Tapi gelar-gelar itu tidak abadi. Yang berumur tiga tahun itu nanti akan bertambah umurnya, dan gelarnya sebagai penulis termuda tak akan berlaku lagi. Yang berumur delapan puluh tahun itu nanti juga akan mati, cepat atau lambat, sehingga perlu orang lain untuk memegang gelar tersebut.” Jelas ibu.
“Tapi, aku tetap ingin jadi berbeda dan bernilai lebih, bu!” Kata Julie bersikeras. “Kau juga bisa jadi berbeda dengan apa-apa yang kau hadapi dalam hidup. Bisa saja, kalau misalnya teman-temanmu mengucilkanmu karena kau main biola, atau ibu tidak setuju dan memaksamu main klarinet? Keistimewaan juga tak mesti disiarkan, keistimewaan juga terkadang tak diketahui, jadi ia terus tersimpan.” Jelas ibu. Julie terdiam.

“Ingatlah, Nak. Kalaupun di seluruh jagat raya tak ada yang menganggapmu istimewa, masih ada keluarga, sahabat, mereka akan tetap mendukungmu. Jadi, kau tak perlu mengorbankan kedua indera untuk jadi spesial, ‘kan?” Jelas ibu. “Mm… Ya! Ibu benar juga! Makasih, Bu!” Kata Julie riang, lalu kembali ke kamarnya. ‘Anak yang unik, memang dia itu.’ Pikir ibunya, dan kembali ke kamar. Lalu sunyi, hanya terdengar suara-suara gesekan biola dari kamar Julie.

-14 tahun kemudian-

Julie sudah dewasa, menjadi anggota orkestra di kotanya. Ibunya masih hidup, dan terkadang Julie beserta keluarganya mengunjunginya untuk konser kecil-kecilan bersama. Julie sendiri sudah mempunyai seorang suami dan dua anak, yang juga menyukai musik seperti seluruh keluarganya. ‘Ibu benar, meski tak pernah ada yang mengatakan aku itu istimewa, keluarga dan teman-temanku tahu aku istimewa.’ Pikirnya.

THE END

Iklan