Tag

,

Summary: “Jadi, Tuan Mata Merah sangat sedih ketika wanita tomboi berambut coklat itu, menikahi seorang yang sangat ia benci, Tuan Kacamata. Ia tahu itu, ia merasa bahwa dirinyalah pasangan terbaik untuk gadis itu.” “Nee… Cerita ini terdengar membosankan. Akan kuputar cerita ini. Dari jalan yang tak terduga…

Cerita sebelum tidur telah berakhir. Sang kakak meletakkan lembaran cerita itu di meja dekat tempat tidur adiknya, lalu pergi meninggalkan sang adik yang terlihat tertidur lelap.

Setelah beberapa lama, sang adik terbangun dari pura-pura-tidurnya itu, dan mengendap-endap pelan ke meja. Ia membaca cerita itu sebisanya, karena ruangannya cukup gelap. “Kurasa pasangan ini cukup populer di ranah internet sana.” Katanya, terus membaca cerita itu. “Nee… cerita ini membosankan sekali… akan kubuat cerita yang sama tapi berbeda…” Bisiknya pelan, tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai.

Ia mengambil kertas dan pensil, lalu mulai memikirkan ide. “Hmm… AH!” ia menuliskan huruf-huruf di kertas, membentuk kata-kata, dan seterusnya. “Jika kusakiti Tuan Kacamata, mungkin mereka akan lebih bahagia, barangkali~” Ia terus menulis, dengan senyuman masih terpampang di wajahnya.

Beberapa lama kemudian, cerita itu selesai. “Hoaahm… aku ngantuk. Kuketikkan saja besok.” Ia langsung tertidur lelap, tanpa memindahkan kertas dan pensilnya.

Keesokan paginya, hari libur, ia terbangun agak telat dan melihat kertas cerita itu berakhir di lantai. “Oh, sebaiknya kubaca ulang dulu sebelum kuketik.” Katanya. Ia mulai menarik napas, untuk membaca cerita itu.

Jika kalian sendiri tertarik untuk membacanya, akan kutuliskan apa yang ia buat di kertas itu.

Kata Terakhirku, Untuknya

“Eli… kau bahagia, kan? Katakan padaku iya. Kau sudah bersama yang kau cintai, hidup tenang di -sniff- nun jauh di suatu tempat…” Seorang lelaki, belum terlalu tua, masih berusaha menahan tangisnya, mengingat wanita itu. lelaki itu terpenjara, dan ia hanya tinggal menunggu hari untuk pergi.

“Tak terasa, tinggal tiga hari lagi rupanya aku disini… Disana bagaimana ya, rasanya? Semoga menyenangkan~” Katanya lagi, terduduk di kursinya dan melepas kacamatanya untuk menghapus air matanya. “Ha-ha… Masa’ aku menangis terus, sih?” Tawanya sedih.

Di suatu tempat, nun jauh disana seperti yang disebutkan…

Sedang diadakan sebuah pesta dansa, semua orang di daerah sekitar itu diundang. Setelah sesi dansa pertama, seorang lelaki lain yang gagah, meski ia memiliki sedikit kelainan genetik, tetapi tidak menyurutkan kebahagiaannya. Di sebelahnya, terlihat seorang wanita, berambut coklat dan bermata hijau, dengan hiasan bunga di rambutnya, sedang tersenyum, sama bahagianya dengan lelaki itu. “Pengumuman, pengumuman. Semuanya diharap memperhatikan. Saya dengan sangat bahagianya menyatakan bahwa saya dan tunangan saya akan segera menikah dalam tiga hari!” Semua orang bertepuk tangan, menyambut bahagia pemberitahuan itu.

Kembali ke lelaki-yang-terpenjarakan…

Hari-hari berlalu dengan cukup cepat. Tak terasa, sudah hari dimana ia akan pergi. Lelaki itu mengancingkan bajunya dan merapikan rambutnya, menyisakan sehelai rambut nakal yang tidak pernah mau disisir ke belakang. “Tak kusangka… Selamat tinggal, tempat ini… Selamat tinggal, kawan besar… Selamat tinggal, semuanya…” Lalu ia duduk, menunggui para penjaga menjemputnya.

Tak berapa lama, beberapa penjaga mendatangi selnya. “Kunci.” Kata salah seorang diantara mereka, dan yang lain memberikan kunci. Ia membuka pintunya, dan kedua rekannya menarik lelaki itu keluar. Tanpa berkata apapun, ia mengisyaratkan kedua rekannya untuk membawa lelaki itu pergi.

Lelaki itu dibawa naik kereta yang ditarik oleh seekor kuda hitam yang nampak kelelahan dari terlalu banyak menarik kereta ke tempat eksekusi. Diam-diam, lelaki yang hendak pergi itu juga merasakan kelelahan, kesedihan, dan kepahitan yang sama. ‘Kasihannya kuda ini. Sudah berapa kali ia menyaksikan orang dieksekusi?’ Pikirnya.

Kereta itu berhenti. Di sekitarnya, lelaki itu melihat berbagai pemandangan yang membuatnya sedikit takut. Sebuah tiang, dengan tali yang sudah siap tergantung di situ. ‘Tenangkan dirimu… aku tahu, bagaimanapun, kau harus siap.’ Kata sebuah suara dalam dirinya.

Ia digiring ke tiang itu. beberapa orang yang kebetulan lewat berhenti dan melihat. Salah satu penjaga mengalungkan tali itu ke lehernya. “Bagaimana, Tuan? Ada hal terakhir yang ingin dikatakan?” Lelaki itu melepas kacamata yang masih dipakainya, dan menyerahkannya ke penjaga yang bertanya. “Aku hanya ingin kau menyampaikan ini ke istri pemimpin daerah ini. Kudengar dia hendak menikah, sampaikan juga selamat dariku. Jangan lupa sampaikan permintaan maafku karena aku tak bisa memberikan hadiah untuknya.” Pesannya.

“Ada lagi yang lain?” Tanya penjaga. “…Tidak ada.” Jawab lelaki itu, tenang dan mantap. “Baiklah. Bersiap. Satu…” Lelaki itu berpikir, ‘Hmm… Selamat tinggal, kawan besarku. Mungkin kau akan berakhir di pasar barang bekas atau dihancurkan…’ “Dua…” ‘Selamat tinggal, semuanya… semoga kalian hidup lebih bahagia…’ Ia menutup matanya, merasakan sedikit angin yang berhembus. Pada saat itu, ia melihat seseorang yang dikenalnya. Salah satu orang yang selalu membantunya. ‘Ratu Maria!’ wanita itu melambai ke arahnya, seolah mengajaknya untuk pergi bersama. ‘Ahh… sayang tempatnya agak tinggi. Aku akan lompat, kalau begitu. Tunggu aku, Bu. Aku datang…’

“Tiga.” Ia dapat merasakan, penyangganya disingkirkan, dan ia merasa terjatuh, tapi tersangkutkan. Setelah itu, ia tak merasakan apapun lagi. Ia sudah benar-benar melompat, menghampiri Ratu Maria. Melompat, pergi dari dunia.

Ia sudah tergantung kaku di tiang itu.

Di sebuah tempat, yang kita sendiri tak tahu itu dimana…

“Hmm… kurasa memang sudah takdirmu untuk berakhir sendirian… Tak apa-apa, Nak,” Kata Maria, berbincang dengan lelaki itu. Kurasa, aku sudah lelah menyebutkan kata tersebut. Sudahlah, kupanggil saja dia Roderich, dan dua orang yang bertunangan tadi adalah Gilbert dan Eliza. “Semoga saja mereka hidup lebih baik.” “Tapi, aku masih menyukainya…” Kata Roderich. “Yah, memangnya apa yang bisa kau lakukan untuknya? Sudah berbeda dunia, kau dan dia itu.” Jawab Maria. Roderich hanya terdiam.

Sementara itu, hanya beberapa kilometer dari tempat ia tergantung, sebuah pesta pernikahan besar sedang diadakan, semua orang berpesta pora, hingga si penjaga berdiri di pesta itu. “Nyonya Beilschmidt… Tuan Edelstein ingin menyampaikan sesuatu untuk anda, hanya saja ia titipkan pada saya karena ia… Tidak bisa menyampaikannya langsung.” Ia menyerahkan kacamata tersebut ke Eliza. Eliza sendiri hanya terdiam sebentar, dan bergumam, “Roderich…”

“Haaah… Kurasa sudah bagus. Tinggal kuketik dan kumasukkan di blog pribadiku!” Kata anak itu, mulai menyalakan komputer. Tak lama kemudian, jemarinya sudah menari-nari di atas keyboard, menuliskan kata-kata dari draftnya itu. “Ia akan tersembunyi… Blogku kan jarang didatangi…”

TAMAT

Iklan