Tag

,

Summary: setelah kisah pertamanya, ia masih belum jera juga untuk yang berikutnya. Tentang pertemuan lelaki itu dengan empat orang mati yang penting baginya semasa mereka hidup. Temannya, mentornya, dan sedikit dari keluarga sang mentor.

Warn: OOC, Gaje, dan… sisanya belum saya temukan
——
Di penjara, jam sepuluh malam…

“Akhirnya, hari ini berakhir. Aku tak percaya. Kenapa mereka masih saja keras kepala, menyangka aku membawa benda tajam kesini…” katanya, mencoba berbaring dengan tenang di tempat tidurnya.

Baru beberapa detik ia menutup mata, tiba-tiba… “Kunci.” Kata seseorang di luar, dan terdengar suara pintu dibuka. “Silahkan masuk. Jangan lama-lama. Kami tinggal dulu, dimohon agar anda-anda semua tidak mengganggu, apalagi membuat rencana kabur bersamanya.” Kata seorang penjaga, dan ia pergi meninggalkan empat orang itu. Keempat orang itu memakai tudung, dan sepertinya ia mengenali mereka, dari suara-suara mereka.

“Halo, itu kau, kan? Roderich?” tanya salah satu dari mereka. “Y-Ya, ada apa? Siapa kalian?” tanya lelaki itu, agak sedikit bingung dan takut. “Ini kami, ternyata kau pelupa juga!” kata seorang yang lain, memberi sedikit aba-aba, dan mereka membuka tudung yang mereka kenakan secara bersamaan, menunjukkan empat orang yang sangat dikenal oleh Roderich.

Hola, amigo.” Kata Antonio, masih dengan aksen Spanyolnya. “Servus.” Kata tiga orang lainnya bersamaan.
“Bagaimana kalian bisa kesini? Kalian kan sudah…” Roderich kebingungan. “Kami diperbolehkan pergi ke dunia untuk menghiburmu sebelum kau pergi. Sebentar lagi kau akan bersama kami. Membahagiakan bukan, amigo?” kata Antonio. “Mmm… ya, tapi…” Roderich terdiam.

“Ada apa, Nak?” kata salah seorang dari mereka, seorang wanita yang nampak tangguh, berusia sekitar empat puluhan. Roderich benar-benar kaget sekarang. Ratu Maria, salah satu teman sekaligus mentornya. “Tidak ada apa-apa…” Roderich kembali terduduk di tempat tidurnya. “Katakan saja, Roderich, mungkin kami bisa membantumu~” kata seorang wanita lain, berusia sekitar tiga puluhan. “Sayang waktu itu Joseph kakakku tidak bisa ikut, padahal mungkin dibalik caranya yang aneh itu, dia bisa membantumu.” Ialah Antonia, Maria Antonia. Atau mungkin kau lebih mengenalnya sebagai Marie Antoinette.

“Memang sih, ada satu hal yang menggangguku terus sejak aku masuk sini…” kata Roderich, mengaku. “Ya, kami siap mendengarmu. Apa yang membuatmu pusing? Apa kau tidak senang bersama kami?” tanya seorang bapak tua yang terus mendampingi ratu Maria dari tadi. “Tidak, tapi aku menyukai seseorang. Dia belum mati. Dan sekarang… dia dengan orang lain.” Kata Roderich. “Aku masih menyukainya, sampai sekarang. Tapi nampaknya ia tetap tidak peduli.”

“Siapa dia? Perempuan, kan? Katakan padaku dia perempuan. Bukan laki-laki. Ya kan?” kata Antonio. “Tentu saja tidak, bodoh. Kau kira aku homo?!” kata Roderich protes. “Tidak, kawan. Hanya saja… bisa jadi, kan?” tanya Antonio.

“Ah, tolong abaikan dulu dia. Siapa namanya?” tanya Maria. “Elizaveta.” Jawab Roderich dengan nada agak sedih. “Oh, Elizaveta yang biasa ke tempatku dulu itu? Dia dengan siapa?” “…Gilbert.” Jawab Roderich, kali ini menahan sedikit sedih dan marah di suaranya.

“Apa? Gilbert yang terus-terusan mengejekmu?” tanya Si Bapak. “Ya. Aku awalnya agak tidak percaya juga.” “hmm… aku tahu, Gilbert teman lamaku, teman yang sangat baik. Aku sudah banyak memberikan waktu untuknya semasa hidupku, maka aku akan berikan waktuku untukmu sekarang, kawan.” Kata Antonio, memegang pundak Roderich tanda dukungan. “…aku tak percaya ini tapi, terimakasih, kawan. Kukira kau hanya menemani Gilbert dan Francis sepanjang hidupmu, meski sebenarnya memang begitu.” Mereka tertawa bersama, membuat salah satu penjaga yang lewat sedikit bingung.

“Ngomong-ngomong, kami tidak bisa mendapat berita terbaru dari dunia, jadi kami langsung kesini. Apa saja yang sudah terjadi?” tanya Sang Bapak. Raja Francis, suaminya Maria. “Banyak. Ada perang melawan kerajaan seberang, dan pada saat itu kau meninggal, kan, Antonio? Lalu ada pemilihan raja baru untuk memimpin disini. Gilbert terpilih. Kurasa statusnya sebagai pahlawan membuatnya lebih mudah. Pada pesta dansa di tahun yang sama, Elizaveta, yang dulunya pacarku, kalian tahu sendiri, minta putus dan beralih ke Gilbert. Karena saking marahnya, aku membuat rencana untuk membunuh Gilbert, tapi aku ketahuan dan… begitulah jadinya.” Jelas Roderich.

“Sekarang, apa yang kau dapat untuk rencana itu?” tanya Marie. “hukuman mati.” Jawab Roderich santai dan tidak merasa bersalah. Keempat orang itu langsung terloncat dari tempat duduknya. “Ya ampun… hukuman mati, dan kau sama sekali tidak khawatir akan itu?!” kata Antonio panik. “Ya, apa gunanya aku khawatir ataupun berusaha kabur? Paling gagal lagi. Aku juga… ingin cepat-cepat ketemu kalian…” jawab Roderich. “Ngomong-ngomong, jenis hukuman mati yang mana? Pancung? Tembak?” tanya Marie. “gantung.” Jawab Roderich.

“Kau masih lebih baik, kepalamu masih bersama tubuhmu. Kepalaku, terkadang bisa dilepas dengan mudahnya karena aku dipancung.” Kata Marie, dengan santainya mencopot kepalanya sendiri. “Ayah dan ibuku tidak keberatan.” Ia memasangnya kembali, sementara Bu Maria dan Pak Francis sudah sembunyi di balik Antonio.

“Nah, kembali ke topik soal Eliza. Emm… begini, kami sangat tidak bahagia mengatakannya, tapi kami sendiri tidak bisa membantu apa-apa. Kalau kami menggunakan kekuatan arwah untuk menakuti Gilbert dan membuatnya nampak memalukan di mata Eliza, belum tentu juga ia akan kembali padamu.” Kata pak Francis. Roderich nampak sangat putus asa. “T-Tapi, bukan berarti tak ada kemungkinan bahwa kau akan selalu gelap dan sedih tanpanya, bukan?” kata Bu Maria.

“Ya! kau masih bisa bersikap tenang, tanpanya. Kalau kau bertingkah seperti orang gila, atau sebangsanya, semuanya akan terlihat kacau. Kau akan melewati ini semua dengan baik. Dan, kau harus mulai mencoba bersikap baik pada semua yang kau temui, penjaga, tamu, orang lewat, bahkan tikus sekalipun!” kata Antonio. “Kau kira tikus itu akan menjawab?” tanya Roderich agak retoris. “Ya… tentunya tidak!” Roderich pun hanya menggeplak kepala Antonio dan berujung tangannya menembus kepala lelaki Spanyol itu, secara dia masih sejenis arwah.

“Intinya, ingat, Nak. Kau bisa bertahan tanpanya. Mati tanpanya termasuk. Kau pasti bisa, aku yakin itu. Kami semua akan dengan setia menunggumu disana.” Kata Maria.

“Nanti tolong tunjukkan trik gantung yang keren!” kata Marie. “Bisa kau beritahu resep kopimu nanti?” kata Pak Francis. Mereka sudah tidak sabar membayangkan hal yang bisa mereka lakukan saat mereka sudah bersama.

Tiba-tiba, suara bel kecil terdengar. “Hampir waktunya. Ingat, Nak. Jangan merasa tergantung pada gadis itu. aku tak ingin kau mati sambil terus bersedih hanya gara-gara seorang perempuan.” Kata Pak Francis, memberikan pesannya. Lalu, mereka keluar dari situ, dan pergi ke suatu tempat yang meski ia tak tahu seperti apa, ia tahu ia akan segera kesana.

Seminggu kemudian…

Beberapa hari setelah pernikahan, Eliza malah mengajak Gilbert ke tiang gantungan. Disana, dengan anehnya masih tergantung jasad Roderich. “Kita harus tetap menghormatinya, meski aku tahu kau membencinya, Gil.” Eliza membantu melepaskan tali gantungan itu, dan mereka membawa pergi jasad itu untuk dikuburkan.

Di atas langit… “Waaah… makasih udah mindahin jasadku! Dikuburin pula! Gak enak nggantung terus…” kata Roderich, tersenyum senang. Lalu, ia pergi bersama empat orang itu. “Trik gantungnya mana!” Protes Marie. “Kopi, bro. Kopi…” kata Pak Francis.

Iklan