Tag

Summary: Kisah awal dari Roderich, hal-hal yang terjadi padanya, dan sebuah tindakan gegabah yang berujung pada kematiannya. Related with Twistin’ The Story and Meeting With The Dead
————————————————————————————
Babak 1: War and Antonio’s Death

Di sebuah tempat, daerah yang luas, dua kompi pasukan berisi ratusan prajurit sedang bertempur satu sama lain. Salah satu diantara para prajurit itu adalah komandan Gilbert, yang terus melibas musuhnya dengan sadis menggunakan pedang kesayangannya. Di sisi lainnya, kedua teman dekatnya, Francis dan Antonio juga membantu menghalau musuh yang lain. Di belakang, Roderich, dibantu oleh Toris dan Eduard melindungi tempat sang raja dengan menebas musuh apapun yang mendekat.

Sayangnya, Roderich terlalu sibuk dengan musuh di depannya, sehingga ia tidak memperhatikan ada orang lain di belakang, telah siap dengan pedangnya yang terhunus. Antonio yang menyadari hal tersebut langsung menghalaunya, tapi berakhir dengan ia yang tertusuk pedang orang itu. Francis yang kaget langsung mencoba memanggil bantuan, tapi saat mereka datang, Antonio sudah… sangat kehabisan darah.
—–
Babak 2: An Important Statement

Beberapa bulan setelah kematian Antonio, Gilbert mengunjungi rumah Roderich. Terdengar suara bel rumah dibunyikan. “Ya, silahkan ma-HEI!” Gilbert, dengan marah langsung mencengkeram kerah baju Roderich dan mendorongnya ke dinding. “Kau penyebab semuanya!” teriak Gilbert marah. “Apa?! aku tidak mengerti maksudmu!” “Kau membunuh Antonio! Aku tahu! Kalau kau tidak ada disini, atau mungkin lebih baik kau tidak hidup di dunia ini, ia pasti masih hidup sekarang!” kata Gilbert sambil terus menekan Roderich ke dinding. “Diamlah kau! Dia sendiri yang melakukan itu! Aku tidak memintanya! Kalau aku memintanya, aku yakin dia pasti tidak mau!” teriak Roderich.

Tiba-tiba, pintu terbuka, dan terlihat Ferdinanda bersama kakaknya, Franz, membawa keranjang penuh makanan untuk piknik. “Roderich~ kau jadi pergi dengan ki- ya ampun…” Ferdinanda kaget melihat Roderich, dalam keadaan yang sangat babak belur, dan Gilbert yang masih mengepalkan tinjunya. “Ah, rupanya itu kalian, keturunan dari wanita yang telah mendidik orang ini… menjadi seorang pengecut.” Gilbert berjalan pergi meninggalkan rumah, sementara dua saudara itu berusaha mengobati Roderich.
—–
Babak 3: The Election

Kisah meninggalnya Antonio, juga disusul oleh kematian dari pemimpin daerah setempat. Sistem pencarian pemimpin baru adalah pemilihan, jadi semuanya diharuskan memilih. Roderich, sebagaimanapun dia, tidak pernah berminat, jadi ia tidak mengajukan diri. Setidaknya, ia hanya akan menemukan mulutnya menganga saat melihat bahwa Gilbert-lah yang terpilih menjadi pemimpin berikutnya. “Ini mungkin hanya berarti dua hal: Jika aku menjaga sikap, semua akan baik-baik saja. Jika ada kesalahan sedikit saja, semuanya akan berantakan. Tapi, menurut strategi kehidupan *?* jika musuhmu menjadi seseorang yang penting dalam sesuatu yang mengekangmu aka pemerintahan, maka itu hanya berarti… satu rintangan tambahan.”
—–
Babak 4: Life’s Declining

Beberapa lama setelah kejadian di rumah Roderich tempo hari, semua keluarga bangsawan di negeri itu diundang ke sebuah pesta dansa di balai kota. Termasuk diantara mereka adalah Roderich dan pacarnya, Elizaveta. Gilbert juga diundang, membuat Roderich harus menyiapkan kemampuan diplomasi yang baik untuk kabur dari bermacam masalah yang kemungkinan muncul.

Anehnya, hari ini Eliza nampak tidak bahagia. Meski gaun hijaunya yang dihiasi banyak permata berkilauan memantulkan cahaya dari lampu hias yang tergantung megah diatas para undangan, mata gadis itu malah menyiratkan sebuah kesedihan dan keinginan yang kuat… untuk sesuatu yang akan mengubah semuanya.

Di tengah dansa, ia berhenti. Sebagaimana namanya berdansa, jika seseorang berhenti, maka pasangannya mesti berhenti untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan. “Ada apa, Eliza? Ini belum selesai.” Kata Roderich. “Aku… kurasa kita harus bicara sebentar.” Eliza mengajak Roderich ke taman di belakang balai kota.

“Sebenarnya, apa tujuanmu mengajakku ke sini?” tanya Roderich. “Aku hanya… ingin kita selesai. Aku merasa tugasku sudah selesai, dan tugasmu juga. Jadi, mungkin ini ujung yang selama ini kita pikirkan.”

Kata Eliza. “Bisa jadi, tapi kurasa jawaban akan lebih condong ke arah ‘ya’ ketimbang ‘tidak’, jika menurutmu begitu, maka ini memang ujungnya.” Jawab Roderich datar.

Jelas ia mengerti maksud semua kata-kata itu. Bagi Eliza, hubungan itu seperti misi rahasia. Mereka bekerja bersama selama tenggat waktu yang tak diketahui, dan setelah seorang merasakan ujung dari kerjasama mereka, mau tak mau mereka akan berpisah dengan sendirinya. Terkadang ada yang beruntung bisa mempertahankannya bertahun-tahun, tapi malah kehilangan dan berhasil meningkatkan status pada orang lain yang bahkan baru dikenal beberapa bulan. Itu semua menggunakan insting, katanya. Tak ada yang bisa menentukan kapan suatu kerjasama berakhir sebelum waktunya tiba.

Kesimpulannya hanya satu: Eliza-Ingin-Putus-Dari-Roderich.

Di balik jawaban datar itu, ia menahan kesakitan yang sangat dalam. ‘Ya Tuhan… apa salahku padanya, kumohon tunjukkan padaku…’ ia berdoa dalam hati, berusaha mati-matian mencari alasan untuk dirinya sampai-sampai gadis itu meninggalkannya.

Ia kembali, dan menemukan dansanya sudah selesai. ‘Baguslah, pasanganku menghilang.’ Pikirnya. Sekilas, di belakang ia bisa melihat Gilbert bersama Eliza, tertawa bersama, sebuah pasangan baru. “Ha-ha, bagus. Seorang wanita cantik dan pemimpin baru. Hebat.” Katanya sarkatis. Ia berusaha tidak melihat mereka, mengambil sepotong kue yang disediakan di meja. Dan sebagai tambahan, ia mengambil tisu. Untuk memastikan bajunya tidak kotor dan untuk mengelapi air matanya yang turun terus dari tadi. Hidup mulai terasa menurun baginya.
—–
Babak 5: Such Madcap-ous Thing

Kasus di pesta dansa waktu lalu, membuat Roderich merasa marah tiap hari. Tak jarang ia mengusir semua orang yang datang ke rumahnya, termasuk Ferdinanda dan Franz yang datang beberapa kali untuk menghiburnya.

Sampai akhirnya, ia menemukan satu hal yang menurutnya akan membuatnya tenang selamanya. “Aku tahu. Aku harus membunuhnya.” Ia pergi keluar, dan membeli sebuah pisau. Selama ia menunggu waktu, ia merawat pisau itu dengan baik, seakan-akan pisau itu adalah pengganti Eliza. Sampai-sampai ia tidak keluar dari rumahnya, sekaligus juga tidak menyadari bahwa rumor mulai menyebar di kalangan tetangga-tetangganya bahwa ia mulai gila. Ada pula yang bilang ia sudah menjadi seorang sadis yang suatu waktu akan membantai semua orang, dan sebagainya lagi.

Beberapa hari persiapan rencana dengan matang, ia akhirnya siap melakukannya. Dengan pisau di tangan dan sedikit teknik menyelinap, ia pergi tengah malam dan mencapai kamar Gilbert. Dia mengendap-endap ke tempat tidur Gilbert, melihat Gilbert yang sedang tidur. “Aku memang bukan orang yang bisa membunuh, hanya dengan sedikit bantuan aku bisa melakukannya.” Ia menggenggam pisau erat-erat, dan bersiap menghujamkannya ke Gilbert. Tiba-tiba, pintu terbuka, dan terlihat seorang wanita tua yang sepertinya adalah pelayan Gilbert. Meski sudah tua, ia sepertinya masih memiliki mata yang baik. “Ah, ada pengunjung malam disini, dengan pisau terhunus. Apa keperluan yang baik untuk pembawa pisau yang menyelinap kecuali untuk menusuk yang tertidur?”
——
Babak 6: Deepest

“…Dengan saksi dari pelayan korban, maka tuan akan dijatuhi… hukuman mati.” Kata sang hakim, matanya melirik kasihan pada Roderich. Dari nada bicaranya, bisa terlihat bahwa ia seperti mengucapkan kata ‘hukuman mati’ untuk pertama kalinya.
Beberapa jam kemudian, ketika Roderich kembali ke selnya, Ferdinanda dan Franz datang berkunjung.

“Roderich, a-aku tidak percaya…” Ferdinanda menangis tersedu-sedu, sementara Franz berusaha menenangkannya. Ia tidak menangis, tapi raut wajahnya menyiratkan keedihan yang sangat ditahan. “Jika nenek disini, pasti dia tidak bahagia…”

“Jangan sedih, ini juga salahku, aku terlalu marah waktu itu.” kata Roderich. “Sebaiknya kalian tidak datang sekarang, dan lebih baik untuk tidak datang.” Lanjutnya.

“Baiklah, jika itu katamu,” kata mereka, lalu beranjak pergi. “Tunggu.” Kata Roderich. “Berjanjilah satu hal padaku.”

“Apa?” tanya Franz. “Kalian tidak akan datang ke tempat-tempat dimana aku berada, mulai sekarang. Saat aku sudah tidak terlihat lagi di seluruh kota, maka kalian boleh mengetahui bahwa saat itu aku sudah pergi. Ingat, jangan sedih.” Pesan Roderich.

“Baiklah.”

Iklan