Tag

,

Warn: OOC, OOT, gaje, abal, materi pelajaran sekolah menengah yang kurang tepat, sengaja mengambil setting timeline SMP meski tokohnya tampang SMA, murid teladan!Gilbert, dll.

Genre: Friendship/Humor

Summary: Kisah sahabat-musuh yang berawal dari bokek dan kue. Untuk FFC Sans Romance

———-

Gilbert sedang mengalami banyak masalah dalam kehidupan sekolahnya. Ia mulai kehabisan uang, sementara kiriman dari rumah masih beberapa lama lagi. Nilai-nilainya mulai menurun, terutama nilai matematikanya, dan jika itu tidak segera diatasi, ia harus siap berpuasa tanpa sahur selama beberapa hari ditambah mimpi buruk semua siswa a.k.a tidak lulus.

“Gilbert! Nilaimu terus saja tiga puluh! Apa yang terjadi padamu, nak? Tolong perbaiki, ya. Ibu tahu, sebenarnya kau bisa. Dulu nilaimu tidak pernah seburuk itu.” kata guru matematikanya, seorang wanita klasik bergaya Yunani, yang cukup diyakini menurut rumor yang tersebar di sekitar sekolah adalah ibunya Herakles.

“Ya, Bu.” Kata Gilbert lesu. Entah sudah yang keberapa kalinya nilai matematikanya menurun cukup signifikan. Ia keluar dari kelas, menyimpan baik-baik ulangannya di balik jasnya. Sudah waktu makan siang, dan ia belum bisa makan apapun. Akhir-akhir ini, ia makan dengan bantuan dari dua sahabatnya, Francis dan Antonio.

Francis dan Antonio datang membawa beberapa makanan. “Hei mon ami, kau tidak makan dengan kami?” tanya Francis. “Tidak apa-apa, amigo. Kami yang tanggung semuanya~” kata Antonio.

“Tidak usah, kawan-kawan. Terimakasih untuk yang sudah waktu itu. kalian benar-benar awesome. Mungkin aku makan dengan kalian besok saja.” Kata Gilbert, berusaha untuk tidak merepotkan kedua teman dekatnya.

“Baiklah, kalau begitu. Kau yakin kau tidak lapar? Kalau ya, aku akan memasakkan makanan terbaik~ untukmu. Atau aku akan mencoba melobi Arthur untuk meminta tehnya sedikit.” Kata Francis, meski dibagian melobi Arthur terdengar mustahil di telinga Gilbert.

“…Oke, tapi tidak sekarang.” Jawab Gilbert. “Baiklah, jika kau cukup yakin kau tidak memerlukan makanan. Jika perlu, bilang saja pada kami.” Kata Antonio, dan mereka berdua pergi.

Mein gott… aku tak tahan lagi… tapi aku tidak ingin merepotkan temanku…” kata Gilbert. Ia melihat ke bangku taman sekolah, dimana teman sekelas sekaligus musuh bebuyutannya sedang duduk santai dan memakan bekalnya sementara anak-anak lain mengitarinya sambil mengejeknya karena sudah besar tapi masih membawa kotak bekal.

Setelah anak-anak itu pergi, Gilbert mengendap-endap ke arah orang itu, yang tentu saja diketahui karena penyebutan musuh-bebuyutan adalah Roderich. ‘Ini memalukan! Tidak awesome!’ pikirnya.

“Emm… Roderich…” kata Gilbert agak gugup. “Apa? Mau mengejekku belakangan karena aku membawa kotak bekal lagi?” tanya Roderich. “B-Bukan… tapi, bolehkah… aku minta itu?” tanya Gilbert. “Minta apa? Maaf tidak melayani contekan.” “Hei, aku yang awesome ini tidak akan pernah menyontek! Menyontek, adalah sebuah tindakan yang tidak awesome! Menyontek, dapat menyebabkan kemalasan, nilai palsu, dan berbagai gangguan pembelajaran!” Gilbert nyerocos panjang lebar tentang menyontek.

“Cukup, aku tahu. Apa yang kau minta sebenarnya?” tanya Roderich. “Emm… kuemu?” kata Gilbert agak ragu. Ia memandangi isi kotak bekal Roderich. Beberapa potong kue coklat yang nampak enak.

“Kau minta kue? Sebenarnya, secara teknis jawabannya tidak.” Kata Roderich. Gilbert kaget, dan berkata “Ya sudah. Terima kasih. Maaf sudah mengganggumu.” Lalu pergi dengan sedih ke pohon terdekat untuk pundung di sana.

Roderich menghela nafas, menutup kotak bekalnya, dan menghampiri Gilbert yang berpundung ria di bawah pohon mangga sambil berkata, “Hidupku… akan segera berakhir…” berkali-kali.

“Gilbert,” panggil Roderich. “Aku belum selesai bicara dan kau langsung pergi begitu saja. Sungguh tidak sopan.” Gilbert menengadah, dan melihat Roderich. Wajah anak aristokrat yang diragukan garis leluhurnya itu nampak sangat serius, dan sekilas Gilbert merasakan beberapa kilatan cahaya dari suatu arah lain.

“Ada baiknya kita cepat. Aku mulai merasakan aura tidak enak disini. Setelah kupikirkan, kau… boleh meminta kueku. Semuanya juga boleh.” Kata Roderich.

Gilbert terbelalak. Sejak kapan teman sekaligus musuhnya berubah jadi baik seperti ini?

“Dengan syarat, kau berhasil mengalahkan nilaiku di ulangan matematika di pelajaran terakhir nanti. Bukan hanya kue ini yang kuberikan, tapi aku juga akan menanggung urusan konsumsimu selama sebulan penuh, dimulai besok. Ingat, jika kau berhasil.” Jelas Roderich, kemudian ia berbalik pergi.

“Kusarankan kau mulai bela-” ia menoleh sebentar, dan menemukan Gilbert sudah menghilang. Sekilas, ia bisa melihat Gilbert menaiki tanggan menuju lantai dua.

“Aku tahu yang terjadi pada Ludwig. Lagipula, ulangan kali ini materinya salah satu yang paling rumit sepanjang semester ini. Bersiaplah.” Kata Roderich.

———-

Gilbert membuka buku matematikanya, dan belajar dengan perut lapar. Tiba-tiba, seseorang meletakkan sepotong roti di meja Gilbert. “Mon cher… kau tekun sekali…” kata Francis. “Kami melihat semua percakapanmu dengan Roderich. Kau nampak bersemangat sekali dengan penawarannya, jadi kami belikan roti untukmu, setidaknya cukup untuk menahan lapar. Bersemangatlah, amigo!” kata Antonio.

Gilbert berhenti membaca buku, dan menoleh ke arah dua temannya. “Tunggu. Jadi kalian bagian dari ‘aura tidak enak’ yang dikatakan Roderich waktu itu?” tanyanya.

“Secara teknis, tidak. Secara realita, tepat. Secara tidak sengaja, ya. Waktu itu, kami baru saja dihukum kepsek. Biasa, kami ber‘main’ dengan Sey. Kami sedang lewat ketika kami mendengarmu sedang meminta kue pada Roderich. Setelah kau pergi ke kelas untuk belajar, kami pergi membelinya –maksudku roti…” jelas Antonio. “Oh, terimakasih, kawan. Tapi, kalau kalian aslinya bagian dari ‘aura’ itu, kenapa kalian tidak menjadi bagiannya secara teknis?” tanya Gilbert.

“Karena, ada grup lain yang teknisnya ya, realitanya ya, dan sengaja. Mereka adalah klub fotografi-jurnalistik sekolah. Nampaknya mereka menganggap percakapan tadi sebagai sebuah bahan berita besar. Berharap saja beritanya tidak berlebihan, mon ami.” Jelas Francis. “Ayo, Antonio. Jangan ganggu Gilbert teman kita yang belajar demi bertahan hidup.” Francis mengajak Antonio pergi. “Oh ya, ini air untukmu.” Antonio menaruh segelas air di meja Gilbert.

———-

Pelajaran terakhir… matematika. Jantung Gilbert berdegup kencang. ia teringat kata-kata Francis di jam sebelumnya. “Hati-hati, mon ami. Kau sudah tahu reputasinya sebagai ahli matematika kelas, bersama Vash. Ingat kan, si Vash sering dipanggil ‘titisan’-nya Leonhard Euler meski tidak ada kemiripan pada si ahli matematika itu dengannya?” Ia jadi agak tidak yakin bisa mengalahkan nilainya Roderich.

“Selamat siang, anak-anak. Herakles, silahkan bangun. Ulangan akan segera dimulai.” kata Bu Hellenia, guru matematika, berjalan masuk ke kelas sambil membawa banyak kertas.

Herakles terbangun dari tidur nyenyaknya di kursi. “Baik, sesuai yang dijanjikan Hari Senin lalu, sekarang kalian ulangan. Sudah pada belajar semua, kan?” kata Bu Hellenia. Gilbert berpikir. ‘Bagaimana ini… kalau aku berhasil, aku punya jaminan hidup sebulan lagi. kalau gagal… no wei! Orang awesome tak boleh gagal! Kalau gagal sih, coba lagi…’ Sementara ia berpikir lama sekali, kertas-kertas soal dan lembar jawaban dibagikan oleh guru.

“Kalian bisa mulai mengerjakan sekarang. Kiku, tolong awasi teman-temanmu. Jangan sampai ada yang menyontek. Ibu pergi dulu ke bawah.” Kata Bu Hellenia, dan ia keluar dari kelas.

Gilbert menyambar pensilnya, dan mulai melakukan macam-macam operasi hitungan di sebuah kertas bekas, yang telah dialihfungsikan menjadi kertas coret-coretan, sementara Roderich dengan tenang langsung menggoreskan jawaban di lembar jawaban miliknya.

TBC

Iklan