Tag

,

Waktu terus berlalu, hingga satu jam kemudian…

“Baik, untuk yang sudah selesai, silahkan dikumpulkan. Soalnya di sebelah kiri, jawabannya di kanan.” Kata Bu Hellenia. “Ibu akan segera mengoreksinya secepat mungkin, jadi kalian bisa mengetahui nilainya sebelum kalian pulang nanti.” Gilbert, yang sudah memeriksa ulang hasilnya, mengumpulkan kertasnya dan kembali ke tempat duduknya.

Dengan ajaibnya, pengoreksian Bu Hellenia sangat cepat selesai. Toris, salah satu teman sekelas Gilbert, sedang sibuk membagikan hasilnya. Saat ia memberikan hasil ulangan Gilbert, ia berkata, “Bu Guru tadi titip pesan, ia sangat terkesan dengan kemajuan nilaimu yang sangat, bahkan bisa dibilang terlalu pesat. Selamat ya!” ia menyerahkan kertasnya.

Gilbert melihat hasilnya sambil menutupi matanya dengan tangan, khawatir melihat nilainya itu. “Mon ami! Nilaimu bagus! Aku hanya dapat enam puluh lima, sayang sekali. Kau dapat sembilan puluh tujuh!” kata Francis. “Aku tujuh lima.” Komentar Antonio.

“Hei, apa?” Gilbert kaget. Ia membuka mata dan melihat kertasnya. Benar apa kata kedua temannya itu. Angka sembilan puluh tujuh tertulis berdampingan di kanan atas kertas ulangannya itu.

“Sayangnya, mon ami…” Francis menunjuk ke arah bangkunya Roderich. Toris memberikan kertas ulangannya sambil berkata, “Selamat ya, nilaimu tertinggi di ulangan kali ini.” “Terima kasih, Toris.” Kata Roderich, menerima kertasnya. Sekilas, Gilbert dapat melihat nilainya. Ada angka sembilan. Tapi, disebelahnya ada angka delapan. Beda satu angka dari nilai Gilbert.

Gilbert merasa hidupnya akan segera berakhir sekarang. Sampai tiba-tiba, ia melihat Roderich berjalan ke arah meja guru sambil membawa hasil ulangannya. Tak lama kemudian, ia kembali ke tempat duduknya. Gilbert berjalan pelan menghampirinya dan bertanya, “Nilaimu berapa?”

“Awalnya sembilan puluh delapan, tapi aku baru menyadari suatu kesalahan hitungan yang kulakukan dan melaporkannya ke Bu Hellenia, dan hasil akhirnya sembilan puluh lima.” Jelas Roderich. “Nilaimu sendiri?” tanyanya balik ke Gilbert. “…Sembilan puluh tujuh.” Jawab Gilbert.

“Ah, berarti kau mengalahkan nilaiku.” Roderich bangkit dari tempat duduknya. “Tapi sebelum aku memberikan janjiku… apakah kau sempat menengok jawaban orang lain aka menyontek?”

“Untuk apa aku melakukan hal tidak awesome seperti itu?! Apa kau mau serentet ceramah yang lebih panjang dari ceramahku waktu makan siang tadi?!” kata Gilbert.

“Tidak, terima kasih. Baik, kau sudah mengalahkanku dengan jujur dan adil. Ini kue yang kujanjikan waktu itu. Silahkan tunggu besok pagi.” Kata Roderich sambil menyerahkan kotak kuenya. “Kalau kau mau, ambil saja kotaknya.” Lalu ia membereskan barangnya, memasukkannya ke dalam tas dan berjalan keluar dari kelas.

———

Esoknya, jam setengah enam pagi…

Gilbert masih tidur dengan nyenyak di rumah milik keluarganya yang ada di dekat sekolah. Di depan pintu, seseorang menekan bel pintu rumahnya berkali-kali dan berteriak, “Food Delivery!” padahal Gilbert tidak memesan makanan apapun.

Orang itu mulai frustasi. Ia mengeluarkan sebuah penjepit kertas, meluruskannya, dan berusaha membuka kunci pintu dengan benda kecil itu. Usahanya itu berhasil. Ia memasuki rumah, mencari pemiliknya. Ia menemukan Gilbert tertidur dengan pose yang sangat aneh. Bagi para pembaca sekalian, silahkan bayangkan sendiri pose apa yang paling aneh bagi seorang awesome semacam Gilbert.

Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Gilbert, dan berteriak, “Food delivery! Jika tidak diambil akan dimakan!” Gilbert terlonjak bangun, dan berkata dengan kaget. “Roderich?! Bagaimana kau bisa masuk ke rumah awesome-ku ini?!”

Roderich yang dengan uniknya memakai baju ala pizza delivery boy berkata, “Aku pakai penjepit kertas. Ini makananmu, Gilbert. Tolong dimakan. Aku sudah susah-susah membuatnya dengan perasaan halus dan seikhlas-ikhlasnya lalu mengantarkannya jauh-jauh kemari menggunakan sepeda.” Ia meletakkan bungkusan makanan itu di meja dekat ranjang Gilbert dan pergi.

Gilbert hanya ternganga melihat Roderich yang makin menjauh bersama sepedanya. Karena sudah mendekati waktu Gilbert biasa bangun, ia segera memakan ‘sarapan ekstra pagi’-nya dan bersiap-siap untuk sekolah.

———

Terdengar keributan di sekitar selasar sekolah. Gilbert yang datang lebih awal melihat ke kerumunan besar yang mengerubungi alfred si ketua kelas. “Waaaah~ Masa’ sih~?” “Gila, co cwit bangeeet~!” terdengar teriakan para anggota klub fotografi.

Alfred terlihat membaca koran sekolah, sementara yang lain memperhatikan dengan antusias. Beberapa anak keluar dari kerumunan untuk membeli koran di koperasi.

Gilbert mengintip di belakang Alfred, berdesakan dengan yang lain. Sekilas, ia bisa melihat foto halaman utama, termasuk headline-nya. ‘Gilbert yang Awesome Telah Menemukan Pasangan di Bangku Taman’, begitulah yang tertulis disana. Di bawahnya, terpampang foto saat Gilbert sedang meminta kue pada Roderich dengan tampang memelas yang entah kenapa lebih mirip seperti tampang menyatakan cinta pada seorang wanita. Roderich, di foto itu hanya diam dan terus memakan bekalnya. Sepertinya, foto itu sedikit disunting – dengan menambahkan sedikit garisan rona merah di pipinya Roderich.

Gilbert segera kabur sebelum murid-murid mengejarnya. ‘Benar kata Francis,’ pikirnya. “mon ami, apa itu?” tanya Francis yang baru datang bersama Antonio. “Hei, tumben-tumbennya kau tidak menunggui kami!” kata Antonio, protes akan datang awalnya Gilbert. “Ngomong-ngomong, mereka ngapain, amigo?” tanyanya bingung melihat kerumunan yang berjarak beberapa puluh meter dari mereka.

“Benar katamu, Francis. Mereka memang melebihkannya. Kalau ingin cepat, beli saja korannya.” Kata Gilbert.

“Tak perlu. Kau tahu kan, aku langganan koran sekolah?” kata Francis, dan kemudian Vash menghampirinya. “Ini koranmu.” Katanya ketus sambil menyerahkan satu eksemplar koran lalu langsung pergi.

Francis melihat korannya, dan terkaget saat membaca headline. “Gilbert si awesome mendapat pasangan di bangku taman… mon ami, mereka tidak mengerti rupanya! Seorang anak remaja malang yang hendak mencari sahabat baru, untuk menambah jumlah sahabatnya, disalahartikan menjadi sebuah kelakuan seperti itu?! Yang sebagai teman dekat Gilbert, aku percaya dan bersumpah, ia tak akan pernah melakukan perbuatan itu!” katanya berapi-api.

“Yang sabar, Gil.” Timpal Antonio sambil menepuk-nepuk pundak Gilbert. “Tetap tabah, mon ami.” Kata Francis ikut-ikutan melakukan hal yang sama. “Ayo kita taruh tas dulu.” Kata Antonio, mengajak dua temannya ke kelas mereka di lantai atas.

“Aku tak percaya, mon ami. Mereka bisa-bisanya melakukan ini padamu. Dan aku juga tak percaya, bodoh sekali ketua redaksi koran sekolah sampai bisa menyetujui berita utama seperti itu.” kata Francis sambil menaruh tasnya di kursi. “Iya. Kurasa, Pak Kepsek harus lebih memperhatikan urusan ‘jurnalistik’ sekolah!” komentar Gilbert.

Tiba-tiba, pintu dibuka (baca: didobrak) dengan keras, dan di sana terlihat… Roderich. Ia terengah-engah, mukanya merah padam, menahan marah yang sangat besar.

Gilbert kaget, tapi ia masih menjaga sikap awesome-nya. “Gilbert.” Panggil Roderich dengan suara yang keras, dingin, dan sangat datar, persis Pak Berwald, guru fisika di sekolah Gilbert.

Roderich akhirnya berhasil mengendalikan amarahnya. Setelah ia mengatur napasnya, ia bertanya, “Gil, kau… baru saja lihat koran, kan?” “Ya.” jawab Gilbert seadanya. “Kau… sudahlah. Lupakan soal berita halaman utama. Apa makanannya enak?” tanya Roderich.

“Mmm… enak! Sejak kapan kamu pintar bikin kari?” “Aku belajar dari anak baru yang berasal dari India itu. Kalau dia bikin, rasanya… Uoh, pedes banget. Ngomong-ngomong, terima kasih untuk pujiannya. Sayang sekali aku hanya dapat ayam untuk bahan karinya. Kata anak itu, unggas terbaik untuk membuat kari adalah spesies burung kuning langka yang hanya ada di Jerman daerah timur.” Roderich melihat tegas ke arah burung di pundak Gilbert.

“CIIIP!” burung itu terbang pergi. Roderich mengeluarkan jaring entah dari mana dan berlari mengejar burung kecil itu keliling-keliling kelas. “Jangan kabur kau, burung kari!”

Iklan