Tag

,

Suatu malam, Roderich seperti biasanya mengantarkan makanan ke rumah Gilbert. Ia juga membawa buku-buku fisika di tas, untuk sekalian belajar fisika karena ada ulangan besok. Dan sialnya lagi, guru fisika adalah salah satu guru paling mengerikan di sekolah, selain guru geografi. Ia memiliki pandangan yang tajam dan menusuk, sementara guru geografi itu memiliki sepasukan aura hitam yang sangat intimidatif.

Ia menekan bel, tapi tak ada yang membukakan pintu. Ia mencoba memutar kenop pintu, dan menemukan bahwa pintunya TIDAK dikunci. ‘Ya ampun… kalau begini, bagaimana jika ada pencuri masuk?’ pikirnya bingung melihat sikap Gilbert yang bisa-bisanya lupa mengunci pintu. “Tapi, justru lebih mudah masuk dong, akunya.” Katanya ringan, dan langsung masuk tanpa permisi, meski ia tahu bahwa itu adalah sebuah tindakan yang sangat tidak aristokrat.

Ia mencari-cari Gilbert, dan ia menemukan anak albino itu… di depan TV. Baca komik dan main videogame menggunakan kaki, yang diakui Roderich merupakan keahlian Gilbert yang terkategori cukup awesome.

Tapi, janji ulangan-fisika-besok yang tertanam di otaknya tidak mau membiarkan Gilbert berkomik dan ber-videogame-ria tanpa jaminan nilai yang baik. Ia pergi ke dapur, mencari mangkok dan piring untuk menaruh makanannya. Lalu, ia mengambil sebuah sendok kayu.

Ia menghampiri Gilbert pelan-pelan, sementara Gilbert sendiri tak menyadari kehadirannya. Setelah berancang-ancang dengan hati-hati, ia memukul kaki Gilbert, yang sedang memijaki tombol-tombol di alat permainan itu, dengan tenaga yang sangat besar.

Secara refleks, Gilbert langsung berteriak, “WADAO~!” ia berteriak selama 5 detik –menurut stopwatch milik Roderich- dan kemudian berkata, “Roderich?! Bagaimana kau bisa sampai sini?! Dan memukul kaki awesome-ku ini?! Bagaimana juga caranya kau masuk?!”

“Pintunya tidak dikunci, jadi aku masuk saja. Lagipula…” Roderich memandangi peralatan videogame dan komik-komik action yang berserakan di lantai rumah. “Dengan keadaan seperti itu, aku yakin sembilan-puluh-sembilan-koma-sembilan-puluh-sembilan persen kau tak akan mendengarku di pintu.”

Gilbert baru saja hendak kembali melanjutkan permainannya ketika Roderich mencegahnya. “Gilbert, dengar. Apa saja agenda kita besok?” “Tidak ada PR dan ulangan untuk semua pelajaran besok, kecuali…” Gilbert melirik papan tugas di dekat lemari bajunya. “Fisika.” Lanjutnya santai.

“Kau sudah belajar?” tanya Roderich. “Belum.” Jawab Gilbert (terlalu) seadanya. Roderich menggeplak kaki Gilbert lagi. “Sebenarnya, terkadang aku juga berharap untuk bertanggung jawab atas urusan pembelajaran temanku, selain urusan konsumsinya. Ayo belajar, mumpung aku bawa bukunya.”

Gilbert, yang terus memegangi kakinya yang sakit bukan kepalang hanya bisa memperhatikan Roderich mengeluarkan buku fisika yang dibawanya. “Dimana bukumu, Gil? Kalau kakimu benar-benar sesakit itu, biar kuambilkan.” Kata Roderich tenang. Baru kali ini, selama yang diperhatikan Gilbert, Roderich menawarkan diri mengambilkan sesuatu untuknya.

“Ada di lemari,” kata Gilbert yang tengah memijati kakinya sendiri. Roderich menghampiri lemari buku Gilbert, dan kembali membawa buku fisika milik Gilbert beberapa saat kemudian.

————-

Mereka belajar bersama dengan aura-aura tak enak di sekeliling mereka. Gilbert, yang memiliki indera ‘keenam’, yang ia namai ‘indera awesome’, merasakannya, begitu pula Roderich yang mendengar hiruk pikuk aneh dan kilatan cahaya di luar padahal langit cerah penuh bintang.

“Ayo kita siapkan pertahanan darurat. Tutup semua lubang, usir semua yang ditemui di lubang sebelum menutup.” Perintah Gilbert. Mereka, dibantu burung-burung kuning Gilbert, menutup gorden, mengusiri semua hal yang ada di lubang-lubang rumah, termasuk anggota klub fotografi yang masih saja menyempatkan diri untuk memotret. “Sial!” kata ketua klub fotografi, Elizaveta, dari luar rumah Gilbert.

————-

“Huh, tadi malam itu merepotkan sekali, ya?” tanya Gilbert pada Roderich. Untungnya, klub fotografi sedang pergi entah kemana, mungkin melakukan ‘dokumentasi’ Alfred dan Arthur yang sedang mencetak surat edaran. “Sangat.” Jawab Roderich.

Tiba-tiba, Pak Berwald sudah sampai di depan pintu kelas. “Selamat siang, anak-anak. Sesuai janji minggu lalu, kita –ehm, kalian ulangan. Kumpulkan buku paket kalian ke depan.” Pak Berwald berjalan menuju meja guru, sementara para murid, kebanyakan dengan tidak rela mengumpulkan buku mereka di meja kecil yang terletak di sebelah meja guru.

Sindrom persaingan mulai tumbuh dalam diri Roderich dan Gilbert. Sementara Pak Berwald membagikan kertas ulangan, Gilbert dengan nekatnya mulai berbicara keras. “Ha, aku yang awesome ini sangat yakin bisa mengalahkanmu!” katanya pada Roderich. “Oh, ayolah, mana mungkin aku kalah dengan seorang albino?” balas Roderich, dan murid-murid tertawa.

“Ingat ulangan matematika minggu lalu? Ahli matematika kelas kalah oleh albino! Ha, mau bilang apa kau, Tompel?” balas Gilbert. Tawa murid-murid makin riuh.

“Aku mau bilang, aku lebih pintar daripada seorang kakek!” jawab Roderich. Tawa murid-murid makin keras.
“Grrh… ya, aku memang seorang kakek, yang awesome, jauh lebih awesome daripada sebuah TOMPEL!” kata Gilbert. Para murid tertawa terbahak-bahak, sementara Roderich memalingkan mukanya dengan marah.

Ketika Roderich hendak membalas, Pak Berwald memukulkan sekaligus menekan kertas ulangan ke mejanya dan meja Gilbert –yang berada tepat di sebelahnya- dengan sangat keras.

“Ada baiknya kalian membuktikan kehebatan kalian dengan melihat hasil ulangan kali ini.” Kata Pak Berwald dengan sangat dingin, membuat Gilbert dan Roderich sama-sama keder. “Selamat mengerjakan.” Pak Berwald kembali ke meja guru.

————-

Gilbert yang sibuk menghitung, melirik Roderich di sebelahnya, karena ia tidak melihat ‘penanggung jawab’-nya itu melakukan perhitungan apapun. Ia melihat Roderich… bengong di depan soal. ‘Perhitungan macam apa itu? Tidak awesome sama sekali gayanya!’ pikir Gilbert.

Pemikiran tadi, sebenarnya cukup tepat. Roderich ternganga, memelototi lembar soal, dan sepertinya tanpa ia sadari, sudah menetes satu keringat di lembar jawabnya. Ditambah peluang menetesnya iler, pose tersebut merupakan hal yang agak krusial. ‘Dia… kayak orang ngiler ngeliat blackforest di jendela toko kue.’ Pikir Gilbert.

Tiba-tiba, Roderich nampak menegang. Sepersekian detik kemudian, ia menyambar pulpen dan menulis semua cara –yang ia pikirkan tadi, sepertinya- secara lengkap dan rinci, berhasil membuat Gilbert terpana dengan suksesnya.

Roderich kembali ke ‘pertapaan khusus’-nya untuk mengerjakan soal berikutnya. Gilbert mengikuti pandangan mata Roderich, yang mengarah ke soal terakhir. Nomor 20. ‘Awesome! Udah mau selesai dia!’
Sialnya, Pak Berwald menghampiri meja mereka. karena pandangan tajam yang dibawa guru asal Swedia itu,

Roderich tiba-tiba menegang, lebih cepat dari biasanya. Ia nampak panik. Di kepalanya… ‘Yak, ayo terus kesana…’ ia sibuk mengarahkan susunan angka-angka dengan tongkat konduktornya. Tiba-tiba, susunan itu bergetar hebat, membuat Roderich panik. ‘Tidak, jangan, jangan roboh!’ katanya –dalam pikiran tentunya- sambil berusaha menjaga susunan itu. tapi, getarannya makin hebat, dan akhirnya susunan itu hancur. ‘TIDAAAK!’ teriaknya –dalam pikiran lagi-

Roderich memandang kosong lembar soalnya, dan menghela napas. Tiba-tiba, ia berdiri, dan berkata pada Pak Berwald dengan agak marah. “Pak… Bapak sudah menghancurkan hitungan terakhir saya. Sekarang, tolong beri saya tambahan waktu, Pak!”

Gilbert berusaha menenangkan Roderich sebelum amarahnya makin menjadi. “Roderich! Dasar tidak awesome! Lihat jam!” Gilbert mengarahkan Roderich melihat jam di dinding belakang. Masih setengah jam lagi rupanya. “Apa?”

————-

Setelah mereka semua mengumpulkan, dan Pak Berwald mengoreksi hasilnya…

“Aah… nilaiku pasti lebih awesome daripada sebuah Tompel!” kata Gilbert. “Oh ya? Kurasa, kakek-kakek sudah pikun sehingga ia lupa semua rumusnya!” balas Roderich.

“Lebih baik pikun, daripada anatomi Tompel. Aku yakin sekali, otak pun tak ada!” balas Gilbert. Murid-murid tertawa keras. “Grrrh…” geram Roderich.

Pak Berwald masih mengoreksi hasil ulangan, dilatari tawa anak-anak, dan perdebatan antara Roderich dan Gilbert. Tak lama kemudian, ia menyelesaikan pekerjaannya. Ia menyusun kembali kertas-kertas untuk dibagikan. Tapi, ia dengan sengaja menyembunyikan kertas milik Roderich dan Gilbert. ‘Mereka berdua… sangat menyebalkan, juga membanggakan.’ Pikirnya.

“Toris,” panggil Pak Berwald. Toris tidak mendengarnya, karena ia malah menonton Gilbert dan Roderich, yang kegiatannya telah berubah dari berdebat menjadi berduel. Roderich menggunakan tongkat-tongkat-tongkat dirigen yang selalu ia bawa dan memfungsikannya sebagai jarum bidik, sementara Gilbert menggunakan kemampuan beladirinya yang awesome untuk menghindar dan menyerang balik, atau mungkin juga mengubah ‘jarum bidik’ Roderich menjadi senjata makan tuan.

“Kakek tua bangka!” teriak Roderich, melesatkan tongkatnya ke arah Gilbert. Gilbert sendiri berhasil menghindar, dan tongkat itu tertancap di dinding kelas dengan kuat.

Gilbert tak melewatkan kesempatan. Ia cabut tongkat itu, dan melesatkannya balik ke Roderich. “Tompel sok aristokrat! Tidak awesome!” balasnya.

Tongkat itu melesat, dengan tampilan banyak api di belakangnya. Roderich menghindar dengan elegan, menangkap tongkat itu dengan gaya (sok) aristokrat, dan menyimpannya di dalam kantong.

Gilbert memulai invasinya, memusatkan penyerangan ke arah daerah vital Roderich, matanya. Roderich, yang sebelumnya melepas kacamatanya untuk keadilan dalam duel, meloncat mundur dan menangkis serangan Gilbert dengan tongkatnya. Nyaris saja mata Roderich terkena pensil, penghapus, bahkan jari Gilbert sendiri.

“Toris,” panggil Pak Berwald lagi. Toris masih tidak mendengar. Ia malah mulai menyemangati dua anak shaolin lewat yang sedang unjuk kemampuan (baca: Roderich dan Gilbert)

“Ehm, Toris!” panggil Pak Berwald untuk yang ketiga kalinya. “Eh, iya, Pak?” Toris akhirnya menoleh. “Tolong bagikan ini.” Pak Berwald menyerahkan kertas hasil ulangan anak-anak. “B-Baik, Pak.” Kata Toris. ‘Duuh… gimama aku bisa membagikan ini tanpa ancaman ditendang atau terkena jarum bidik raksasa?’ pikirnya.

Setelah membagikan sambil jumpalitan agar tak terkena hal-hal yang ia pikirkan, Toris menyadari bahwa
Gilbert dan Roderich belum mendapat hasil ulangan mereka. Saat itu, di tengah-tengah sengitnya duel,
Roderich melesatkan kembali tongkatnya. Gilbert melah menangkap tongkat itu, dan melesatkan balik ke arah mata Roderich. Tetapi, Roderich berhasil menghindar dan matanya selamat, sementara tongkat itu melesat ke arah Pak Berwald.

Tanpa disangka-sangka, Pak Berwald menjepit tongkat itu dengan sigap menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Roderich, Gilbert, silahkan duduk. Semuanya juga, kembali ke tempat duduknya.” Katanya dingin, lalu mematahkan tongkat itu jadi dua, masih dengan dua jarinya.

Pak Berwald menghampiri meja dua anak shaolin nyasar itu, dan berkata, “Kalian sudah sangat keterlaluan. Tapi, nilai kalian menolong kalian dari hukuman yang lebih buruk.” Ia menaruh kertas milik mereka, dan berbalik ke meja guru. “Untuk sekarang, silahkan lihat dulu.”

Para murid menyemangati mereka untuk membuka nilainya. “baik, kek, kita buka sama-sama.” kata Roderich. “Oke, Tompel.” Balas Gilbert.

Mereka membalik kertas mereka bersamaan, dan terbelalak melihat nilainya. “Tidak mungkin! Nilai seorang kakek awesome sama dengan nilai sebuah TOMPEL?! Tidak awesome!” “Tidaak! Kenapa nilai kita mesti sama?!” teriak Roderich. Terlihat ada angka 1, ditambah dua angka nol di belakangnya, di masing-masing kertas.

“Nah, Gilbert, sepulang sekolah bersihkan kelas. Roderich, tulis kalimat ‘aku tidak akan melempar tongkat dirigen lagi’ sebanyak 50 kali di papan tulis. Selamat siang, anak-anak.” Pak Berwald keluar dari kelas.

Iklan