Tag

,

Hallo! Bonjour! Ni Hao! Dst!

Fly yang lagi gila-gilanya habis baca Ao no Exorcist kali ini kembali, membawakan chapter baru dari cerita kacau nan abal berjudul layaknya teenlit!

Hei, ini bukan berarti judulnya ‘Layaknya Teenlit’. Judulnya ‘Sekotak Kue’, sudah tertera besar-besar di atas barusan.

Sebelum mulai membaca, tolong perhatikan bagian permintaan maaf berikut.

PERMINTAAN MAAF kepada seluruh kakak-kakak kelas 8-3 di sekolahku maupun di sekolah-sekolah lainnya karena aku sudah ‘meminjam’ kelas kalian semua untuk ceritaku~

Selamat membaca!
—–

Hari ini, ada pelajaran geografi. Ada ulangan tentang cuaca. Gilbert yang lagi kambuh insting murid bajingannya sedang membujuk Roderich untuk menjahili guru geografi, Pak Ivan.

“Ayo, Rod… Kau tak pernah tahu keindahan seni menjahili guru~” kata Gilbert sambil menoel-noel pipi Roderich dengan isengnya.

“Seni?! SENI?! Otakmu kemana, Gilbert~” kata Roderich kesal, menepis tangan Gilbert yang terus mengganggu sejak tadi. “Kalau kau lakukan itu, akan kuputus tanggunganku.”

“Oh, terserah, jika kau ingin melihat temanmu ini mati kelaparan?” tanya Gilbert.

Saat itu, Gilbert telah mengenai titik terlemah dari Roderich; sebenci apapun ia pada seorang teman, ia tak akan pernah mau melihatnya mati. Apalagi, jika tindakannya itulah yang membuat teman itu mati. “…Baiklah, tapi kau harus pastikan bahwa ini tidak akan menghancurkan reputasiku sebagai murid teladan kelas 8-3. ” kata Roderich menyerah, membuat senyum jahil terkembang di wajah Gilbert.

Saat istirahat…

“Francis! Antonio! Ayo mulai! Mana lemnya?” tanya Gilbert.

Antonio dengan sigap memberikan lem kuat yang ia beli di warung kemarin. “Ini, amigo! Ayo oles yang banyak!” katanya bersemangat, sementara Roderich memperhatikan dengan takut.

Gilbert mengoleskan lem itu di kursi guru. “Haah… selesai! Tinggal tunggu!” katanya senang.

“Selamat pagi, da~” kata Pak Ivan di depan pintu. Otomatis keempat orang nista tadi langsung kembali ke tempat duduk mereka secepat kilat. “Hari ini, kita -eh, kalian ulangan, da~” katanya. Ia menghampiri meja guru dan duduk di bangku. Bertepatan dengan ia duduk, lemnya mengering.

“Jadi, apa kalian sudah belajar, da?” tanyanya. Ia mengambil lembaran ulangan, dan hendak membagikannya ketika ia menyadari bahwa ia tidak bisa bangkit dari bangku itu.

“Da~ siapa yang memberi lem?” tanya Pak Ivan. Murid-murid terdiam sekaligus menahan tawa terutama para Bad Touch Trio yang bersusah payah menahan tawa mereka.

“Toris, tolong bagikan dulu ini, da. Bapak mau mencari dulu pelakunya.” Perintah Pak Ivan.

“I-iya, Pak.” kata Toris takut, mengambil kertas ulangan dan mulai membagikan.

Pak Ivan melepas jaket yang ia pakai dan bangkit dari kursinya. Keempat orang nista yang menaruh lem tadi kaget melihat ternyata hanya jaket Pak Ivan yang menempel di bangku.

“Aura, periksa para murid! Alfred, tidak ada anak kelas lain yang masuk, da?” Tanya Pak Ivan.

“Tidak ada, Pak! Sudah saya pastikan!” jawab Alfred layaknya seorang tentara yang ditanyai komandannya. Kemudian Pak Ivan menggumamkan kata-kata aneh, membuat Alfred takut dan langsung kembali ke tempat duduknya.

Aura-aura menyebar ke seluruh kelas. Salah satunya menuju ke arah Vash yang sibuk mengisi identitasnya di kertas ulangan. “Kurasa dia tidak mungkin pelakunya.” Aura itu meninggalkan Vash yang tetap sibuk dengan urusannya sendiri.

Ada pula aura yang mendekati Roderich. “Bagaimana, Murid Teladan? Apa karena kau disenangi guru, kau melakukannya?” Tanya aura itu.

“Tidak!” bantah Roderich. “Itu satu hal yang tak akan pernah kulakukan seumur-umur aku di sekolah!”

“Baiklah, tapi kami akan tetap mengawasimu.” aura itu pun pergi ke murid berikutnya.

“Da~ kalau begitu caranya tidak akan ketahuan pelakunya!” kata Pak Ivan. “Coba kalian rasuki mereka…” katanya menakutkan, membuat semuanya bergidik termasuk Vash yang sedang mengerjakan ulangan.

Aura besar naik ke langit-langit kelas, lalu melesat cepat ke arah Kiku yang sedang menulis jawaban di kertas. Tiba-tiba, aura itu keluar dari tubuh Kiku, meninggalkan Kiku yang pingsan di tempat duduknya.

“Bukan dia pelakunya, tapi aku merasa…” aura itu melesat ke arah Sadik yang malah sedang bermain bunga tulip. Setelah beberapa lama di tubuh Sadik, aura itu keluar, membuat Sadik pingsan tetapi malah tidak dipedulikan oleh Herakles di sebelahnya yang sedang sibuk mengerjakan.

Para aura melapor ke Pak Ivan. “Bukan mereka pelakunya!”

“Mereka juga tidak mungkin pelakunya, da~ Kiku ‘kan, anak alim… Sadik rasanya juga tidak mungkin…” kata Pak Ivan.

“Hmm… benar juga. Kami cukup yakin, pelakunya masih ada di kelas ini.” Kata mereka.

“Aha! Kami tahu. Semoga ini benar.” Aura naik ke langit-langit (lagi), memecah diri jadi 4, lalu merasuki masing-masing Antonio, Francis, Gilbert, dan Roderich. Beberapa detik kemudian, para aura keluar dan kembali ke Pak Ivan, meninggalkan keempat orang itu kebingungan meski tidak pingsan.

“Benar! Mereka pelakunya!” kata salah satu aura.

“Terima kasih, da~” kata Pak Ivan.

“Sama-sama. Kalau ada masalah, kami siap membantu.” Balas para aura.

Bad Touch Trio, ditambah Roderich, hanya sibuk mengerjakan ulangan dengan santainya, menganggap urusan itu selesai.

Setelah para murid mengumpulkan dan bel makan siang berbunyi, Pak Ivan berkata, “Sekarang kalian boleh istirahat, da~ Tapi untuk Francis, Antonio, Gilbert, dan secara tidak kupercaya, Roderich, dipanggil ke kantor. Selamat siang, da.” Ia berjalan keluar kelas, membawa barang-barangnya.

“Yah, kita ketahuan, deh.” Komentar Gilbert santai. Francis dan Antonio juga tenang-tenang saja. Lain halnya dengan Roderich. Karena ini pertama kalinya ia terlibat pelanggaran, ia jadi merasa sangat bersalah. “Oke, ayo kita pergi ke kantor sebelum Pak Ivan menakol kita. Mana Roderich? Rod? Hei, kau kemana, kawan?” Gilbert melihat Roderich telah menghilang dari mereka.

“Ya ampun… ayolah, Roderich, ini bukan hal serius! Kalaupun Pak Ivan hendak menakolmu sampai pingsan, aku akan menolongmu! Bagaimana, awesome, ‘kan?” bujuk Gilbert pada Roderich yang nampaknya saking merasa bersalah, ia terduduk lesu di bangkunya dan membenamkan wajahnya di tangan.

“Hei, kau tidak awesome sekali, nangis terus, seperti cewek saja.” Komentar Gilbert.

“Amigo, kasihan juga dia. Coba kupakai ‘mantra’ku!” usul Antonio. Ia berdiri di depan Roderich, lalu mulai. “Fusosososo~ Fusosososo~ Ini akan berhasil~ Fusosososo~”

“Mon ami, kurasa itu tidak berpengaruh padanya. Coba begini.” Kata Francis, menyiapkan jurus mautnya.
“Roderich~ kalau kau bisa melawan ketakutanmu pada Pak Ivan dan setidaknya disuruh mengerjakan tugas tambahan, aku corettidakakanmenyemeimucoret akan mengajarimu resep kue baru!” tetapi, Roderich tetap bergeming di posisinya.

Antonio akhirnya menemukan cara lain. “Hmm… aku baru ingat, amigo. Namanya juga Roderich. Orangtuaku berteman baik, bahkan bersaudara dengan orangtuanya. Dia hanya bisa diajak baik-baik, jadi begini saja.
Roderich, hei, ayo, kita harus sedikit bertanggungjawab atas ini. Ayolah, sepupuku~”

“Tunggu. Jadi, selama ini, kau dan Roderich…” kata Gilbert, membuat anggota klub fotografi yang mengintai mereka jadi sangat penasaran, bahkan beberapa diantara mereka sudah menggelepar-gelepar dengan hidung berdarah.

“Saudara sepupu?” lanjutnya, membuat anggota klub fotografi bergubraks-ria karena jawabannya tak sesuai perkiraan.

Tak lama kemudian, Roderich bangkit dari pundungnya, dan berkata, “Tadi kayaknya ada kilatan cahaya, deh…”

“Waduh, klub fotografi! Jangan-jangan… apa yang kulakukan ke Roderich tadi… kerekam, jadi berita utama, dan dikatehui semua orang?! No~” Antonio panik.

“Tenang. Ayo kita pergi. Roderich, kita yang lakukan, maka kita yang hadapi.” Kata Gilbert.

“Ayo, sepupuku~ kalau kau tak mau, kusuruh kau menari Flamenco keliling sekolah!” kata Antonio, dan kata-kata itu sangat efektif membuat Roderich bangkit dari bangkunya. “Lengkap dengan kostumnya.” Lanjut Antonio.

“Kalaupun dihukum, paling ditakol sekali. Atau disuruh bikin ‘Peta’ Rusia.” Kata Gilbert santai. Maksud Gilbert di sini, menggambar seluruh peta dunia dan menulisi nama Negara yang ada dengan nama Rusia. Bagian paling tidak enaknya adalah, ketika mereka mesti menulis nama Negara mereka jadi ‘Rusia’.

Mereka pergi ke kantor guru, menuju ruangan tempat Pak Ivan. TOK-TOK-TOK… Antonio langsung mulai dengan mengetuk pintu. “Pak Ivan!”

Terdengar sahutan dari dalam. “Kalian, da? Silahkan masuk.” Bad Touch Trio dan Roderich masuk.

“Jadi, kenapa kalian menaruh lem di kursinya, da? Kalau yang duduk pak berwald, bisa tewas kalian!” kata Pak Ivan. Dengan bapak pun, bisa tewas kami ditakol pipa air! Pikir Gilbert.

“Kenapa, da?” Tanya Pak Ivan lagi.

“Emm… Gilbert… Insting murid bajingannya mulai kambuh, Pak… Jadi dia mulai jahil lagi.” Kata Roderich seadanya, dan berakhir dengan Gilbert menjitak kening anak tompel itu.

“Ini udah jujur nih…” kata Roderich sambil memegangi keningnya.

“Jadi, Gilbert punya insting murid bajingan, da? Gilbert, jangan aktifkan itu, da~ tunggu saja sampai kau selesai sekolah~” kata Pak Ivan.

“Iya, tahu.” Bisik Gilbert setengah mengejek. Pak Ivan yang mendengar langsung menakolnya sekali. Saking kerasnya, Gilbert sampai terjatuh dari posisi berdirinya.

Gilbert bangkit lagi sambil memegangi kepalanya. Roderich meliriknya kasihan, dan menemukan setitik cairan merah diantara rambut perak Gilbert. “Gil… kau berdarah?” bisiknya pelan.

“Aku tidak tahu. Kalaupun iya, nanti kuobati di rumah.” Jawab Gilbert santai.

“Nah, sekarang, yang paling membuat bapak bingung. Roderich, bagaimana kau bisa terlibat, da?” Tanya Pak Ivan.

Roderich terlihat gugup. “Emm… Itu…” kata-katanya terhenti. “Maafkan saya, Pak! Tadi Gilbert yang mengajakku, tapi aku kurang tegas untuk menolaknya…” lanjutnya tiba-tiba.

“Da~ tidak apa-apa, Roderich.” Kata Pak Ivan sambil menepuk-nepuk kepala Roderich, membuat anak malang itu berpikir bahwa ia akan memendek 10 sentimeter dan mempermudah Gilbert menjahilinya.

“Hukuman untuk kalian berempat, da~ buat peta Rusia, yang besar dan bagus, tapi sebelumnya bersihkan dulu bekas lemnya~” kata Pak Ivan, membuat keempat anak itu mengalami ‘Trauma Rusia’ lagi.

Sepulang sekolah, mereka berkumpul di rumah Gilbert untuk membuat peta Rusia. Sebelumnya, Antonio pergi untuk membeli barang-barang yang diperlukan untuk membuatnya.

“Amigo, ini barang-barangnya -Gilbert?! Apa yang terjadi dengan kepalamu?!” Tanya Antonio kaget melihat Gilbert, dengan Francis di sebelahnya membawa obat-obatan, dan Roderich yang sedang berkonsentrasi membalut bagian atas kepala Gilbert dengan perban.

“Ah, tadi waktu aku ditakol Pak Ivan, Roderich melihat ada darah di kepalaku. Ketika kau pergi membeli bahan, Roderich dan Francis memeriksa lukanya. Ternyata, ada luka yang lumayan besar disana. Lalu, mereka memberi obat dan memakaikan perban-perban ini. ” jelas Gilbert, menunjuk hasi balutan perban Roderich.

“Mon ami, aku benar-benar bersyukur kau punya peralatan dasar kesehatan yang lengkap.” Kata Francis.

“Kita bisa mulai pembuatannya sekarang?” Tanya Roderich.

“Kau tidak gegar otak, ‘kan, amigo?” Tanya Antonio khawatir.

“Ya, kita bisa mulai, dan… tentu saja tidak!” Gilbert menjawab kedua pertanyaan tadi.

“Mana atlasmu?” Tanya Roderich.

“Di tas, kuambil dulu.” Jawab Gilbert, mengambil atlas dari tasnya.

“Semuanya, bantuin gambar, ya!” kata Antonio sambil mengeluarkan pensil dengan semangat, bersiap mengeroyok kertas dan membuat peta.

“Oke!” jawab yang lain bersamaan.

Setelah berjam-jam kemudian…

“Siapa yang mau mulai duluan menulis ‘Rusia’ di atas daerah negaranya?” Tanya Antonio.

“Aku saja.” Jawab Francis lesu. Ia mulai menulis, kemudian berteriak, “Maafkan aku, Republique Francaise yang Magnifique!”

“Giliranku,” kata Gilbert. Ia menulis, lalu berteriak, “Maafkan aku, Republik Deutschland!” sambil merutuki Pak Ivan dalam hati.

“Kuambil saja giliran ini, biar Roderich yang terakhir.” Kata Antonio.

“Cie~ buat saudara nih…” koor Gilbert dan Francis.

Antonio menjitak kening mereka, dan berkata, “Udah, dong. Gak elit amat nge-‘cie’-in orang.” Ia mulai menulis, dan kemudian berteriak, “Maafkan aku, Reino de Espana! Hua~”

“Aku tak percaya ini. Semoga ini hanya mimpi.” Kata Roderich. Gilbert mencubit pipinya dengan keras.

“Aduh! Untuk apa tadi itu?!” Tanya Roderich marah.

“Untuk mengetes apakah ini mimpi atau bukan. Mimpi atau bukan, kalau dinikmati tetap awesome, kok!” kata
Gilbert, membuat Roderich memiliki hasrat yang sangat kuat untuk menjitak kepala anak albino itu berkali-kali.

Roderich mulai menulis, lalu ia berteriak, “Maafkan aku, Republik Oesterreich!”
—–

Sekedar catatan, jika ada yang mau ngasih improvement untuk model penulisan cerita ini -bukan idenya karena cerita ini sudah kelar- silahkan tulis di comment. Happyday, Crazebuds!

Iklan