Tag

,

Fic baru! Yay! Sebenarnya ngerjain ini udah agak lama juga sih, cuman takut publish, khawatir akan diapa-apain~ tapi, sesuai lagu Pumptris Quattro, sempet kedengaran kata ‘DO IT’, akhirnya ke-publish juga…

Warn: Gaje, Abal, OOC akut terutama si Rosalie yang diharapkan juga cuek sama kayak Roderich tapi malah jadi ramah gini, OOT (mungkin dikit), penggabungan Hetalia dengan elemen yang ada di dunia nyata aka mesin simulasi dansa, DLDR plz, Genderbent karena ternyata saya kaga tahan juga bikin yaoi, Prufem!Aus karena saya suka dan gak akan pernah kapok bikin pairing satu ini, dll.

Diclaimer: Hetalia jelas-jelas punya Hidekaz Himaruya, nama Rosalie-nya punya saia #plak. Pump It Up hak ciptanya ke Andamiro di KorSel sono karena jika Pump It Up punya saya, maka saya akan sangat senang dan terus main walau tagihan listrik naik berlipat-lipat #pemboros. Lagu-lagu yang disebutkan milik Yahpp, BanYa, dan beberapa artis lain.
————–

“FRANCIS! ANTONIO! BRUDEEEER!” Teriak Ludwig keras, membahana ke seluruh lantai 15 sebuah perkantoran di Hetalia City. Semua di lantai tersebut langsung menoleh ke sumber suara. Bos mereka, seperti biasanya memarahi trio pengganggu karena mereka memulai kembali aksi mereka: menggaggu seorang cewek.

Felicia, sekretaris Ludwig, ikut mengintip tempat bos dan ehempacarehem-nya itu marah-marah. “Ve~ France nii-chan?” Iia melihat Francis sedang berbugil ria, Antonio berpakaian seperti suku primitif dan mengucapkan mantra fusosososo-nya, sementara Gilbert menggunakan pasukan burungnya dipimpin oleh gilbird, untuk mencolek cewek itu berkali-kali.

Cewek itu sendiri, sudah mojok di sudut ruangan, memeluk lututnya sambil gemetaran. “O-Obaka-san… Gilbert…”

Ludwig langsung mendepak trio pengganggu dan menghampiri cewek itu. “Sudah, Rosalie… sudah aman, mereka sudah pergi. Nanti aku coba blokir mereka dari sini. Cepat kembali ke mejamu.” Rosalie aka cewek tadi langsung bangkit dari mojoknya, masih gemetar, dan kembali ke mejanya.
————–

Semuanya berlangsung cukup damai setelah kerusuhan ‘kecil’ itu, dan Rosalie memutuskan untuk pulang lebih awal hari ini. Jumat malam, seperti kebiasaannya, ia pergi ke mall. ‘Hari yang melelahkan, sedikit loncatan di pump pasti bisa menenangkanku.’ Pikirnya.

Itulah hobi rahasia Rosalie, yang tak ada satupun temannya yang tau, apa lagi trio pengganggu itu, terutama Rosalie. Setiap jumat malam, ia selalu pergi ke mall bermain pump di pusat permainan. Dan diam-diam, dia juga sudah sangat profesional.

Setelah memasukkan koin (ya, di pusat permainan Hetalia City masih menggunakan koin bukan kartu), ia mengatur kecepatan dan mode-mode lain, lalu memulai memilih lagu.
————–

Di sisi lain mall itu…

“Hei, West! Coba lihat yang itu!” Gilbert sedang bersemangat memilih baju di factory outlet. Dia ‘sedang kehabisan baju yang awesome’, katanya. Hebatnya, Gilbert tidak mengenal urusan harga dalam baju awesomenya itu. Jadi, tak jarang uang adiknya yang malang itu jadi korban.

Mereka keluar dari factory outlet itu, membawa banyak barang yang dikatakan Gilbert ‘awesome’.

“West! Kita ke pusat permainan yuk!” Ajak Gilbert.

“Sabar, Bruder… Kau tidak lihat aku bawa apa?” Ludwig menyusulnya, membawa banyak kantong belanja.
————–

Mereka sampai di pusat permainan. Permainan pertama yang mereka lihat adalah mesin pump, jenis mesin simulasi dansa. Disana, ada seorang perempuan yang sedang memilih lagu untuk bonus stage.

“Hei West, cewek itu mirip sama Rosalie, ya?” Tanya Gilbert.

“Benar juga, Bruder. Rambut coklat yang sama. Tapi, mana mungkin dia main ini?” Kata Ludwig.

“Benar. Cewek sok berlagak aristokrat itu mana mungkin main beginian. Paling dapatnya F, FAIL!” Kata Gilbert, yang tanpa ia sadari meremehkan kemampuan Rosalie yang berada tepat DI BELAKANGNYA.

“Eh, Bruder, lihat!” Kata Ludwig. Gilbert menoleh, dan melihat gadis itu memainkan lagu ‘Chimera’.

“C-Chimera? Lagu cepat itu?” Gilbert terkesima.

“Yup. Diaransemen ulang oleh Yahpp, berasal dari lagu klasik seriosa ‘Queen of the Night’ di opera buatan Mozart, ‘The Magic Flute’.” Kata gadis itu, tak beralih dari permainannya, kakinya bergerak lincah di tempat injakannya, menghasilkan tulisan ‘perfect’ warna biru yang nyaris menetap di layar.

Lagu berakhir, dan gadis itu mengambil saputangan dari saku celananya untuk menyeka keringatnya.

“Hhh…” Ia berbalik, dan melihat duo Jerman itu. Tapi, ia tidak mengenali mereka karena Gilbert memakai topi dan lensa kontak berwarna coklat, sementara Ludwig mengacak-acak rambutnya dan memakai topi juga.

“Oh, jadi kalian yang bertanya tadi? Ngomong-ngomong, nama kalian siapa?”

‘Gila! Beneran Rosalie! Cewek awesome!’ Pikir Gilbert. ‘Jangan sampai dia tahu ini aku! Ntar dia nantang aku yang awesome ini main pump dan aku malah… kalah! Gak awesome! Aku gak mau!’ Pikirnya khawatir.

“Namaku… George! Dan ini adikku, Luke!” Jawab Gilbert.

“Hei, namaku Lud- hmmmph…” Ludwig langsung dibekep sama Gilbert.

“Itu beneran Rosalie, West! Kalau dia sampai tahu ini aku, dia akan menemukan celah untuk membuatku malu berat!” Bisik Gilbert keras.

“Apa?” Bisik Ludwig.

“Tepat di bawah kakinya.” Jawab Gilbert, merujuk ke mesin itu.

“Mau main?” Tanya Rosalie ramah.

Gilbert dan Ludwig kaget. ‘Orang awesome harus berani! Harus jantan! Harus kuterima tantangan itu! Aku juga penasaran cewek ini mainnya gimana.’ Pikir Gilbert.

“Boleh!” Jawab Gilbert. Ludwig pun kaget dan pingsan. Seorang anak kecil menghampirinya, dan berusaha membangunkannya.

“Hei Om, bangun! Udah malem! Gak keren tidur di mal! Om! Bangun! Aaaah… Om ini gak keren banget dah! Ayo Jerk Arthur, kita beli lolipop!” Ajak anak itu, yang ternyata adalah Peter, menarik tangan kakaknya *?*, Arthur, ke toko lolipop.

“Anak nakal! Jangan panggil aku Jerk!” Arthur marah-marah.

“Tenanglah, Iggy~ namanya juga anak-anak~” Kata Alfred.

Arthur yang malang karena telah terkena krisis identitas berkata, “Tapi Alfred, kalau anak-anak sudah bisa bilang begitu, berarti mereka adalah generasi yang tak baik. Dan, ayolah. NAMAKU ARTHUR, GIT! Kau memanggilku Iggy, Peter memanggilku Jerk. Lalu NAMAKU SIAPA?” Dia berteriak frustrasi.
————–

Gilbert melangkah ke tempat player 1, di sebelah kiri Rosalie. “Apa aku perlu beli koin?” Tanyanya.

“Tak perlu. Kau bisa pakai koinku. Aku punya banyak.” Kata Rosalie, masih dengan ramahnya, menunjukkan sekantung penuh koin. Ia mengambil empat dan memasukkannya ke dalam mesin itu. ‘Duh, ni cewek gak awesome ternyata ramah banget! Kok sama aku ketus, ya? Padahal aku melakukan semua itu (baca: menjahili, mengganggu) untuk menarik perhatiannya, jadi ia tak selalu memperhatikan pianonya, atau kuenya, atau pekerjaannya…’ Pikir Gilbert.

“Nah, sudah! Injaklah!” Kata Rosalie.

“Mau lagu apa? Kismin? Gadis terbang? Virus spesial Pak Beethoven? Musim dingin bersama Vivaldi? Canon D-nya Pachelbel? Sebaiknya kau saja yang pilih duluan.” Kata Rosalie mempersilahkan. Gilbert mulai menginjak-injak panah untuk memilih lagu.

“Oh ya, aku belum perkenalkan diriku, ya? Perkenalkan, namaku Rosalie.” Kata Rosalie sambil menjulurkan tangannya, mengajak Gilbert berjabat tangan. Gilbert awalnya agak ragu, tapi akhirnya ia membalas uluran tangan Rosalie.

“Sesama pumper harus jadi teman, ingat ya~” Kata gadis itu.
————–

Setelah beberapa lama… “Hei George, apa kau sudah mendapat lagu yang kau inginkan?”

“Sudah! Aku yang… keren ini ambil Amadeus saja!” Kata Gilbert.

“Kau bisa tingkat enam?” Tanya Rosalie.

“Tentu saja! Aku kan… keren!” Jawab Gilbert yang terpaksa merubah catchphrase-nya.

“Haha…” Rosalie tertawa. TERTAWA, saudara-saudara! Apakah yang telah merasuki jiwa Rosalie sehingga ia TERTAWA? Pastilah jin tawa! #geplaked

Stage 1 dimulai, dan mereka terus menginjaki panah-panah di bawah kaki mereka, lalu berakhir dengan… nilai Rosalie S, tanpa Good, Bad, ataupun Miss sedikitpun, sementara nilai Gilbert A, lengkap dengan 20 Good, 13 Bad, dan 5 Miss.

“Wah, kau pemain yang baik!” Puji Rosalie. Hati Gilbert pun berbunga-bunga, serasa terbang ke Paris, memakai baju hitam putih garis-garis, meluncur bareng teri akrobatis, menuju rasi bintang yang saking manisnya, Gilbert eneg dan gak kesana lagi #dilempar. ‘Dia muji aku! Hebat! Tapi, masa’ aku yang awesome harus jadi George yang kurang awesome dulu baru dipuji? Mendingan tetap jadi Gilbert!’ Pikirnya.

“Mau coba Pumptris?” Ajak Rosalie. “Oke!” Kata Gilbert setuju.
————–

Di stage 3… “Ayo cepetan! Mau habis nih waktunya!” Kata Rosalie memperingatkan. Gilbert masih sibuk memilihi beberapa lagu bergenre classical crossover dan waktu habis di lagu –sayang sekali- Chimera. ‘Bencana. BENCANA!’ Pikir Gilbert panik.

Mereka mulai main dan Gilbert hanya bisa nginjek seadanya karena ia belum bisa mengikuti lagu yang terkenal dengan BPM-nya yang tinggi itu.

Hasiiil… Rosalie dapat S, hanya dengan 1 miss, sementara Gilbert dapat –sebenarnya aku agak malu mengatakannya- sekitar 300 miss, ditambah cukup banyak perfect, dan sisanya tersebar di great, good, dan bad.

“Oh, kemampuanku meningkat! Eh? Kau belum bisa, ya? Tenang, nanti kita belajar sama-sama~” Kata Rosalie santai. ‘Apa? Latihan bersamanya di rumahnya? Ohh~ akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di rumahnya tanpa dimarahi atau dilempari cetakan kue atau dipukuli dengan penggesek biola!’ Pikir Gilbert bahagia, sementara author yang membaca pikirannya hanya bisa berkata, “Gil, Gil, malangnya nasibmu… Tolong maafin kelakuan anak-rajin-main-piano itu ya, mumpung lebaran *?*” Lalu memulai latihan Turkey March dengan asisten author.
————–

“Mau apa nih buat bonus?” Tanya Rosalie.

“Turkey March! Turkey March!” Kata Gilbert semangat.

“Oke, oke…” Rosalie segera mencari lagu tersebut.

“Udah nih! Langsung aja!” Gilbert (secara simbolis) menginjak center step dan permainan mulai.

Gilbert sebenarnya memilih lagu tersebut karena ia sangat pandai memainkannya. Tak hanya sekali terlihat ia memainkannya dengan absolute perfect, tanpa great, good, bad, apalagi miss sedikitpun.

Gilbert nampak tidak konsentrasi saat bermain. Lebih tepatnya, ia melakukan percakapan dengan dirinya sendiri dalam pikirannya. ‘Aku menyukainya, cara dia main, rambut coklatnya yang entah kenapa berbau seperti cokelat, dan… Banyak lagi yang kusukai darinya…’

Tiba-tiba, muncullah ‘Gilbert kedua’, atau mungkin diri keduanya. ‘Aaah~ bilang saja kau menyukai eh, salah. MENCINTAINYA, kan?’

‘Eh, nggak kok! Dia kan tidak awesome! Orang awesome tidak boleh mencintai orang yang tidak awesome!’ bantah Gilbert.

‘Gilbert’ langsung mengambil sebuah gulungan. ‘Mari kita lihat. Daftar orang awesome. Satu, Gilbert Beilschmidt. Dua, hmmm… Agak samar, tapi karena aku awesome, aku pasti bisa membacanya. Emm… Ro…Rosa…Lie Ed…El…Stein! Ha! Gadis itu ada di daftar orang awesome milikmu! Berarti, kau bisa mencintainya, bukan?’
Gilbert tersudut. ‘E-Eh…’ Dan tiba-tiba ia tersadar dengan sebuah teriakan dari sebelah kanannya. “George, awas! Tumbennya kau jadi tidak konsen begitu!”

“Whoa!” Gilbert secepat kilat kembali ke permainan. Dari percakapan dengan dirinya sendiri itu, ia mendapat cukup banyak miss. Meski begitu, ia berhasil memenuhi life gauge-nya kembali, dan berakhir dengan cukup baik.

Setelah permainan berakhir, Rosalie berkata sambil agak terengah-engah. “Kau mau latihan sama-sama, tidak?”

“Hmm… Boleh! Dimana?” Tanya Gilbert.

“Di rumahku. Aku ada mesinnya. Fiesta EX.” Jawab Rosalie.

“Apa? Siesta?” Tanya Gilbert salah dengar.

“Bukan~ Fiesta, kawan. Kalau siesta, aku sambil tidur pun bisa.” Kata Rosalie.

“Kapan?” Tanya Gilbert.

“Emm… kau bisa sabtu sore? Sekitar jam tiga, begitu?”

“Jam berapapun, bukan masalah! Aku kan keren, jam tiga pagi sekalipun juga boleh! Tapi jangan hari Senin sampai Jumat, aku kerja~” Jawab Gilbert.

“Tenang, aku juga sama.” Kata Rosalie. “Deal ya, Sabtu sore. Awas ga dateng, tak bacok kamu!” Ancamnya main-main.

“Kamu ini jadi cewek sadis amat, nyaingin yang itu tuh…” kata Gilbert menunju seorang gadis yang lewat di depan tempat itu sambil membawa pisau, mengejar seorang lelaki tinggi besar yang kelihatan takut.

“Hahaha…” Mereka tertawa bersama. Author yang melihat di kejauhan berkata, “Mereka bisa akrab juga rupanya. Sudahlah, pengamatan selesai. Aku mau coba latihan BVH dulu.” Author pun pergi.

“Udah malem, aku pulang dulu. Dah, George~” Rosalie mengambil tasnya, dan pergi dari tempat itu.

“…Dah, Rosa.” Kata Gilbert pelan.

“CIEEEE~” Ludwig dengan jahilnya mengitari kakaknya sambil menyorakinya. “Ow! Ow! Ampun, Brudeeeer~” Teriak Ludwig begitu diserang sepasukan burung pimpinan Gilbird. “Kapok kan?” Kata Gilbert tenang
________________________________________

Gimana ya…? mungkin yang bisa ngertiin fic ini cuman readers yang biasa main pump, ya? Ini juga tujuannya agar saia bisa tahu siapa aja yang pemain pump disini~ #ditendang
Nah, buat para pumpers~ siapa yang tahu, lagu apa yang dimaksud di cerita dengan nama-nama yang aneh itu? #sangauthorkabursejauhmungkin

Iklan