Tag

, , ,

“Bagaimana keadaannya, Vash?” Tanya Antonio.

“Apa dia baik-baik saja?” Tanya Francis. “Aku sangat berharap begitu, mon ami. Tadi itu, bagian mana yang terkena pisau?”

“Matanya.” Semuanya langsung hening seketika.
~~~~~

“Sepertinya dia sudah bangun. Ayo.” Vash masuk kembali ke ruangan tempat ‘dia’ tersebut. Antonio dan Francis mengikutinya.

Terlihat seseorang di ranjang ruangan itu. Seseorang sedang duduk, dengan mata tertutup dan luka di mata kirinya.

Vash mengambil sehelai kain, melipatnya beberapa kali, dan menutupkannya ke mata orang itu. “Ada teman-teman dekatmu datang ke sini.” Kata Vash pelan.

Vash menghampiri Francis dan berbisik, “Pisau itu menghancurkan bagian penting dari matanya. Kecil sekali kemungkinan dia bisa melihat kembali.”

Francis terhenyak. “Ada apa?” Tanya Antonio penasaran. Francis membisikkan sesuatu di telinga Antonio, dan lelaki itu ikut tersentak.

“Hei kalian,” orang itu tiba-tiba memanggil. “Tadi kalian bisik-bisik apa sih? Tidak awesome, ah. Kalian… dimana?”

Antonio makin kaget. “Ia… memang tidak bisa melihat?”

“Waktu itu…” Vash mulai bercerita, dengan nada agak berbelasungkawa.
~~~~~

“Halo, Gil.” Sapa Vash, berjalan ke tempat tidur orang itu.

“Vash? Tumbennya kau ramah padaku.” Katanya sambil duduk di tempat tidurnya. Senyum lebar terpampang di wajahnya yang berwarna pucat. Rambutnya entah kenapa sudah putih padahal ia masih berusia 20-an. Selama ini, ia diduga mengalami kekurangan pigmen.

“Kau masih sakit, Gil. Kita harus berbuat baik terhadap orang sakit, bukan?” kata Vash.

“Tapi begitu aku sudah sehat, pasti kau mulai ketus lagi padaku.” Kata orang itu, masih dengan senyum lebarnya.

Vash meletakkan senampan makanan yang ia bawa di pangkuan orang itu. “Makanlah. Ini pisau dan garpunya.” Katanya agak tidak enak.

Sementara orang itu –well, namanya Gilbert- makan, Vash merapikan ruangan dan membuka jendela. Matahari menyembul pelan diantara rumah-rumah. Ia memandang bola kuning itu dengan sedih, mengingat adiknya yang menderita sebuah kelainan mata yang membuat gadis itu tak bisa melihat warna, dan Gilbert yang baru saja kehilangan pengelihatannya.

“Vash, Vash, apa kau mau membawakan ini ke dapur?” suara Gilbert terdengar lagi. Vash menghampirinya, dan mengambil nampan dari pangkuan lelaki itu.

Vash berjalan menuju pintu. sesaat sebelum pergi, ia bertanya, tak menoleh ke belakang karena tak tega melihat wajah orang itu.“Gil… tolong jawab. Jujur, warna apa yang kau lihat?”

“Aku yang awesome ini hanya melihat hitam.” Jawab Gilbert tenang, sambil tetap tersenyum. Sebuah senyum damai nan bahagia, yang di mata Vash terloihat agak ironis, mengingat semua kejadian yang telah menimpa lelaki malang itu.

“Vash? Kau disana?” Tanya Gilbert lagi. “Kenapa denga urusan warna-yang-kulihat?”

“Tidak apa-apa, Gil. Kusarankan kau istirahat dulu. Kau belum sembuh benar.” Kata Vash membuat alasan.

Ia menengok pelan ke belakang, menemukan Gilbert yang sepertinya sudah tertidur. Ia pun keluar kamar, dan pergi ke dapur dengan tetes sebening embun di pipinya, baru saja keluar dari matanya.
~~~~~

“Begitulah.” Vash menunduk sedih. Ia nyaris saja membungkuk kepada Francis dan Antonio kalau tidak dicegah oleh dua orang itu.

Tibat-tiba, pintu didobrak, dan terlihat seorang lelaki rapi dengan rambut pirang yang disisir ke belakang semuanya. Mata birunya menyiratkan berbagai perasaan yang tercampur-campur jadi satu. Ludwig, adik dari Gilbert, dan satu-satunya anggota keluarga Gilbert yang masih tersisa.

“Dimana Bruder?” tanyanya. Ia terlihat cukup lelah, sepertinya ia baru saja berlari jauh.

“Dia di kamar. Tapi, tolong jangan masuk dulu.” Kata Vash. Ludwig terlihat agak kecewa.

“Kenapa?”

“Dia sedang istirahat, Ludwig. Bersabarlah sedikit.”

“Bagaimana keadaannya?”

“… Aku… Sangat minta maaf atas semua ini, tapi… Kakakmu… Matanya tidak bisa tertolong lagi. Dia terpaksa kehilangan pengelihatannya.”

Ludwig langsung terguncang. Ia tak akan melihat mata kakaknya lagi, mata merah itu. Sepasang iris merah darah yang terpajang indah di kedua bola mata kakaknya.

“Boleh aku menengoknya sekarang?” Tanya Ludwig, setelah keheningan yang cukup lama.

“Kurasa ia sudah bisa bangun sekarang.” Vash bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamar. Ludwig masuk, sementara Francis dan Antonio sudah pamit pulang.

Di dalam, Gilbert sedang tertidur. Kain penutup mata itu masih ada, menutupi matanya.

“Gilbert, bangunlah. Adikmu datang.” Kata Vash pelan.

Gilbert pelan-pelan bangun, dan akhirnya terduduk di ranjangnya. “West? Dia datang? Mana?” tanyanya.

Vash berbalik ke Ludwig, dan berbisik pelan, “Aku sengaja memasang penutup mata. Aku tak tahan melihat matanya…”

“Hei, kenapa semua orang berbisik-bisik di dekatku hari ini? Wah, pasti membicarakan hal yang tidak awesome tentangku, ya?” Tanya Gilbert bingung.

“Bruder,” panggil Ludwig. “Kau tak apa-apa?”

Awesome seperti biasanya, West. Tapi, aku bingung juga dengan hitam-hitam yang aneh bin awesome di mataku ini. Ia sangat menghalangi pandangan. Kenapa, ya?” Tanya Gilbert. Semua perkataannya terdengar tanpa dosa. Seakan dia terlahir kembali… tanpa mata.

Ludwig, ia tak pernah menangis kecuali saat ia masih kecil, tapi kali ini ia tak bisa menahan perasaannya. “Bru… der… kau… I-Itu…” katanya terbata-bata.

“Apa? Awesome? Hebat?” Tanya Gilbert dengan inosennya.

“Bukan, Bruder. Kau… itu… bu… ta…” kata Ludwig. Pandangannya mulai mengabur, tertutup oleh lapisan airmata.

“Apa? Aku yang awesome ini? Buta? Masa’?”

“Iya. Kau hanya melihat hitam, kan? Berarti Bruder sudah buta…” jawab Ludwig. “kau harus belajar membaca lagi, Bruder…”

“Wah, berarti gadis pelempar pisau itu jahat juga, ya…” celetuk Gilbert.

“Pelempar pisau?” Tanya Ludwig.

“Iya. Seorang wanita awesome yang pandai melempar. Salah satu lemparannya mengenai mataku.”

“Bagaimana rupanya, Bruder? Kalau ada waktu, mungkin aku akan ‘mengunjungi’-nya.”

“Dia rambutnya lurus, sangat lurus. Tatapannya cukup dingin. Dia bersama seorang lelaki tinggi dengan aura tak mengenakkan yang mengelilinginya. Aku ingat, aku pernah merasakan aura yang mirip sebelumnya, tapi itu sudah lumayan lama.”

“Hei, sepertinya itu jaringan bawah tanah.” Kata Vash, sedikit menginterupsi percakapan Gilbert dan Ludwig. “Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan dari Gilbert, tapi sepertinya mereka langsung kabur karena Gilbert menyerang balik.”

“Dimana mereka?!” Tanya Ludwig berapi-api.

“Mereka sulit sekali dilacak. Kau selalu menemui mereka secara tiba-tiba.” Jawab Vash.

“Hei, jaringan bawah tanah? Apa itu?” Tanya Gilbert penasaran.

“Bukan apa-apa. Ludwig, kau boleh membawanya pulang dalam beberapa hari.” Kata Vash mengalihkan pembicaraan.
~~~~~

Gilbert sudah kembali pulang ke rumah. Dengan dituntun oleh Ludwig, ia dibantu untuk melakukan banyak hal dalam kesehariannya.

“Ah, ini kamarku yang awesome. Lama tak jumpa…” katanya pelan.

“Kau mengenalinya?” Tanya Ludwig.

“Iya. Bagaimana aku tidak kenal kamar yang sudah kutempati bertahun-tahun?” Tanya Gilbert balik.

“Emmm… Bruder?” panggil Ludwig setelah beberapa lama diam.

“Apa?”

“Kusarankan Bruder jangan memanggil diri awesome, deh… Bruder sudah kehilangan mata…” kata Ludwig pelan.

“Wah, tidak bisa, West! Aku ini memang awesome dari dulu!” kata Gilbert. “Apapun yang hilang, aku tetap awesome! Sampai mati pun aku masih bisa awesome!”
~~~~~

Dalam beberapa hari, ada banyak orang yang menjenguk Gilbert. Seperti biasanya, musuh bebuyutan Gilbert aka Roderich tidak terlihat, hampir selalu seperti itu.

Tapi, hari ini… TOK-TOK-TOK… “Halo, ada orang?” terdengar suara dari luar.

“West! Ada orang! Boleh aku buka pintunya?” Tanya Gilbert.

“Silahkan, Bruder. Hati-hati jalannya.” Jawab Ludwig.

Gilbert berjalan pelan, meraba semua di sekelilingnya dengan tongkat ‘awesome’-nya. Setelah sebuah perjalanan susah payah dan terhitung sebuah guci pecah, Gilbert berhasil mencapai kenop pintu.

Gilbert membuka pintu. “Wah, lama sekali dibukanya… oh, Gilbert.” Kata orang di depan pintu tadi.

“Roderich?” Tanya Gilbert, memastikan orang di depannya.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya orang itu.

“Aku hafal sekali suaramu, Tompel.” Jawab Gilbert.

“Ayolah, kau sudah kualat karena mengejekku terus, tuh. Jangan mengejekku terlalu banyak, nanti kau malah ikutan tuli dan bisu, lho.” Kata Roderich.

“Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa kau tidak tertawa?” Tanya Gilbert. “Biasanya, kalau aku kena sial atau ada hal buruk menimpaku, kau tertawa keras. Sekarang aku sial permanen; kenapa kau tak tertawa seperti biasanya?”

“Aku… Aku…” Roderich kebingungan mencari alasan.

“Kenapa? Ayolah, masa’ kau tak menjawab? Kalau kau tak bicara, aku akan mengira kau sudah pergi. Telingaku mengambil alih tugas mata untuk melacak orang.” Kata Gilbert.

“Aku… Aku tidak tahu.” Jawab Roderich akhirnya.

“Yaah… gak awesome, ah! Nggak tahu!” kata Gilbert. “Oh ya, aku baru ingat…”

“Bruder! Sejak kapan seorang tuan rumah membiarkan tamu mengobrol dengannya di depan pintu sambil berdiri?! Etika macam apa itu?!” teriak Ludwig dari ruang tengah.

“Nah, itu dia. Silahkan masuk.” Kata Gilbert, membuat Roderich memunculkan asap dari kepalanya.

“Kenapa nggak dari tadi, sih?!” tanyanya marah.

“Lupa. Padahal orang awesome tidak boleh lupa.” Jawab Gilbert.

Roderich masuk, dan melihat pecahan guci di ruang tamu. “Wah, kalau begini, bukannya Ludwig bakal marah?”

“Dia udah janji nggak bakal marah meski aku memecahkan sesuatu. Benar-benar adik yang awesome.” Jawab Gilbert. “Soal yang tadi, mengapa kau tidak tahu?”

“Aku… sebenarnya ingin sekali tertawa. Tapi, aku berpikir, jika aku tertawa, aku rasanya akan jadi orang yang jahat sekali. Jika aku menangisimu, aku pasti akan diejek lagi olehmu, dibilang orang rapuhlah, atau apalah ejekan yang kau pikirkan.” Jawab Roderich. Gilbert terdiam.

“Bruder, Roderich, ini tehnya.” Kata Ludwig dari dapur, membawa sebuah nampan berisi 3 cangkir teh.

Ia ikut duduk di sofa, menaruh 2 cangkir di meja, dan memberikan satu cangkir ke kakaknya, untuk mengantisipasi agar ia tidak salah ambil atau malah memecahkannya.

“West, kenapa tidak kasih bir, sih?” protes Gilbert.

“Meski Bruder sudah buta sekarang, keinginan-keinginan Bruder tidak akan dipenuhi semua. Lagipula, rumah akan jadi berantakan jika ada seorang buta yang mabuk di dalamnya.” Jawab Ludwig.

“Hei, Lud, kapan kau ajari dia membaca?” Tanya Roderich ke Ludwig.

“…Entahlah. Aku sendiri belum tahu. Aku harus carikan kumpulan huruf Braille untuknya, dan berbagai buku dengan huruf-huruf itu.” Kata Ludwig.

“Hmmm…” Roderich terdiam, dan kemudian berurusan dengan pikirannya sendiri.sesekali ia meminum teh yang telah dibuatkan Ludwig untuknya.

Setelah pemikiran yang cukup lama, tiba-tiba ponselnya berbunyi. “Hah? Apa? Oh, baiklah.” Kata Roderich, berbincang dengan orang di telepon.

Ia memutuskan sambungannya, dan berkata ke Ludwig, “Aku harus segera pergi. Bos memanggilku lagi.” Ia beranjak ke pintu. “Terimakasih untuk tehnya.” Katanya, membuka pintu dan langsung pergi.
~~~~~

Beberapa minggu kemudian…

Roderich datang lagi ke rumah Gilbert. Kali ini, Ludwig yang membukakan pintu. “Ah, Roderich. Ada apa kau datang?”

“Aku hanya ingin mengunjunginya. Apa dia sekarang sedang belajar?”

“Ya.” jawab Ludwig. “Apa kau mau lihat?” tanyanya.

“Itulah tujuanku kesini.” Jawab Roderich.

Ludwig diam, mempersilahkan Roderich masuk hanya dengan isyarat, dan mengajaknya masuk lebih jauh, menuju kamar Gilbert.

Di dalam, Gilbert sedang berkutat dengan selempbar kertas. Di sekitarnya terlihat banyak sekali kertas lain. Di kertas-kertas itu, hanya terbentuk titik-titik yang tidak jelas.

“A, hm… lalu berarti ini B…” Gilbert bergumam-gumam sendiri sambil meraba titiktitik itu.

“Dia baru mulai belajar. Sulit juga mendapatkan huruf-huruf itu.” Kata Ludwig.

“Oh ya, Ludwig, katanya kau pernah bilang pada Gilbert untuk menghentikan kata-kata ‘awesome’-nya itu, ya?” Tanya Roderich dengan berbisik.

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Jangan larang dia. Semua itu akan mendorongnya belajar.” Kata Roderich yang tumben-tumbennya bijak.

“Wah, West ada disini, ya?” Tanyanya tiba-tiba.

“Iya, lanjutkan saja belajarnya.” Kata Ludwig tenang. Ia terdengar penuh dukungan. Roderich yang masih di depan pintu kamar Gilbert hanya tersenyum kecil.

“West, ada orang lain disini?” Tanya Gilbert. “Kenapa nggak bilang? Nggak awesome, ah.”

“Eh, itu… kau tahu dari mana?” Tanya Ludwig.

“Ada sebuah senyuman kecil, dan aku tahu itu pasti bukan West yang sedang tersenyum.” Jawab Gilbert sambil tersenyum lebar.

“Bruder bisa tebak siapa yang tersenyum?”

“Senyuman itu, seperti yang sudah kubilang, kecil. Senyuman itu juga dilakukan oleh seseorang yang cukup jarang tersenyum. Makin ke pintu, makin terasa.”

“Laki-laki atau perempuan?” Tanya Ludwig.

“Kayaknya sih, laki-laki.”

Hebat, dia bisa menyebutkan ciri yang benar! Tinggal tunggu apa dia bisa menyebutkan nama orangnya, pikir Ludwig.

“Bruder, kau pakai apa untuk menebak ini?” tanyanya.

“Semacam kemampuan mendeteksi aura. Aku mengembangkan kemampuan ini saat aku masih ‘diasuh’ oleh Ivan. Dengan begitu, aku bisa membuat radar Ivan dan radar Natalia.”

“Oh iya, kalau dikuatkan, aku bisa merasakan bahwa orang itu memiliki aura suara yang bagus. Semuanya alat-alat musik klasik. Hmmm… pasti Roderich, kan?” katanya tenang, dengan nada yang terdengar bahagia.

Ludwig kaget. Kemampuan terpendam kakaknya ini belum pernah ia tahu sebelumnya. Terbentuk karena kebiasaan selama bertahun-tahun, kemampuan itu menjadi sangat kuat.

“Ya. Hebat, hebat sekali, Gilbert.” Kata Roderich yang menghampiri mereka, sambil menepuka tangannya 3 kali.

“Ngapain si Tompel ikut datang?” Tanya Gilbert inosen.

“Hhh… kau bilang itu lagi, akan kubuat kau tuli.” Kata Roderich sebal.

“Haha~” Gilbert tertawa lepas, jauh lebih bahagia dari biasanya.

Roderich kembali tersenyum.
~~~~~

Setelah cukup mahir membaca ‘titik’ (sebutan Roderich bagi huruf braille), Gilbert mengucapkan sebuah keinginan yang menciptakan persoalan baru bagi Ludwig. “West, aku mau membuat cerita!”

Membuat cerita pendek, sebenarnya bukanlah tindakan berbahaya bagi orang buta. Tapi, mengingat Gilbert yang belum terlalu mahir berjalan dan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Ludwig mempertimbangkan untuk membelikan kakaknya sebuah laptop.

Akhirnya, Ludwig menghubungi Eduard, koleganya yang bekerja sebagai seorang desainer komputer.

“Ha? Bukannya Gilbert masih bisa menulis di kertas?”

“Sebenarnya aku khawatir nanti kertas-kertasnya pada hilang atau rusak, karena ia sendiri belum mahir berjalan tanpa mata.”

“Oh, begitu. Jadi, aku perlu membuat sebuah laptop dengan keyboard yang memiliki huruf Braille, ditambah huruf-huruf alfabet yang timbul, begitu?”

“Ya, terimakasih.”
~~~~~

Sejak laptop itu tiba, Gilbert selalu sibuk bersamanya. Suara keyboard ditekan-tekan terdengar tiap hari.

“Bruder, boleh kubaca ceritanya?” Tanya Ludwig.

“Eh~ Tidak bisa, West. Ceritaku yang awesome ini, adalah properti pribadi selama aku masih mengerjakannya! Baru boleh dibaca setelah ceritanya selesai!” larang Gilbert.

“Oh, ya sudah…” Ludwig kembali keluar bersama urusannya. “Bruder, sudah dengar, belum?”

“Apa?”

“Roderich katanya dipecat dari pekerjaannya di perusahaan percetakan itu.”

“Baguslah, akhirnya dia kena sial juga! Tiap hari dulu aku sial terus.” Kata Gilbert senang.

“Bruder, jangan bilang begitu! Nanti Bruder ikutan bisu, lho! Kualat!” kata Ludwig khawatir.

Tiba-tiba, pintu diketuk lagi. “Wah, itu pasti si pengangguran!” kata Gilbert, sementara Ludwig hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap jail Bruder-nya kembali lagi.

Ludwig membukakan pintu, dan benar kata Gilbert; orang itu adalah Roderich, yang baru saja mereka bicarakan tadi. “Halo. Hei, apa salah kalau aku berkunjung lagi?” tanyanya bingung.

“T-Tidak apa-apa…” jawab Ludwig.

“Kalian sudah dengar beritanya?” Tanya Roderich.

“Sudah! Kau dipecat, kan? Indahnya hidup kalau kau kena sial~!” jawab Gilbert senang.

“Beruntung aku datang kesini untuk menjelaskan.” Kata Roderich. “Bolehkah aku duduk?” Tanyanya.

“Silahkan.” Jawab Ludwig.

Roderich duduk di kursi tamu, sementara Ludwig pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Gilbert yang untungnya bisa jalan ke sofa tanpa memecahkan apapun, duduk di kursi berlengan yang sedang diduduki Roderich.

“Jadi, apa tujuanmu datang kesini, Tompel? Mau curhat karena dipecat?” Tanya Gilbert.

“Dasar. Justru aku datang kesini untuk menjelaskan berita itu.” jawab Roderich.

Ludwig keluar dari dapur, membawakan teh. Ia ikut bergabung, duduk di sebelah Roderich.

“Jadi, sebenarnya apa yang kalian dengar itu salah besar. Aku sengaja mengundurkan diri, untuk mendukung secara penuh hobi menulismu, Gilbert. Aku juga sengaja meminta bosku untuk menyebarkan kabar bahwa aku dipecat. Aku mengundurkan diri karena aku ingin mendirikan perusahaan penerbitanku sendiri.” Jelas Roderich.

“Jadi kau tidak dipecat? Yaah… tidak awesome…” keluh Gilbert.

“Ya, seperti yang kalian dengar.”
~~~~~

Gilbert makin bersemangat menulis, dengan Ludwig yang dia gelari ‘editor pribadi’-nya, juga Roderich yang selalu siap sedia menerbitkan –jika sesuai syarat dan layak terbit-.

Selama 5 tahun Gilbert latihan, perusahaan penerbitan Roderich telah berkembang menjadi perusahaan sekelas tempat Roderich bekerja dulu. Sudah banyak buku terkenal yang diterbitkan oleh perusahaan itu.

Awalnya, Gilbert menciptakan sebuah ‘rubrik langganan’ cerita buatannya, yang biasa mendapat respon-respon semacam pujian dan beberapa masukan dari teman-temannya, ditambah Antonio dan Francis menjadi pelanggan setianya.

Setelah ia cukup berani, Gilbert mengirimkan beberapa cerpennya ke penerbitannya Roderich, dan 9 kali ditolak dengan alasan ‘belum layak terbit’.

Gilbert terus berusaha, dan di usahanya yang ke-10, ia tidak menemukan surat pengembalian naskahnya. Karena, memang tidak ada surat seperti itu untuknya kali ini.

Setelah penungguan, yang ia isi dengan menulis lagi tentunya, Gilbert mendapat kabar bahwa bukunya sudah terbit. Ia tetap senang, meski Roderich dan Gilbert memalaknya untuk ditraktir.
~~~~~

Seorang pria inggris sedang membaca koran minggunya. Ia membaca artikel tentang ‘Penulis baru yang mendirikan tombak tren kumpulan cerpen dan genre action’.

Di artikel itu tertulis, ‘Seorang penulis yang tergolong baru di dunia penulisan telah menciptakan tren genre action dalam kumpulan cerpen.

Adalah Mr. Beilschmidt, sang penulis yang disebut di atas. Ia yang ternyata adalah seorang tunanetra, berhasil menjadi trendsetter penulisan di awal karir menulisnya. Kumpulan cerpen ketiganya yang dijuduli ‘Apartemen, dan Villa di Atas Bukit’, menghebohkan dunia penulisan dengan ide-ide yang tergolong ‘aneh’ dan segar, mengobati kehausan para penikmat literatur akan ide-ide baru, dan kejenuhan akan literature romansa yang terus mendominasi rak toko-toko buku di seluruh negeri.

Dalam wawancara dengan salah satu wartawan kami, ia sempat menjawab kenapa ia membuat cerita ‘Apartemen, dan Villa di Atas Bukit’ sebagai satu-satunya cerita yang tidak mengandung unsur aksi, tapi malah memiliki nilai filosofis, dan kandungan metafora yang cukup tinggi. “Jadi, waktu itu kalau saya menulis semua cerita aksi, pasti orang akan cepat jenuh, jadi aku menambah sebuah cerita kecil yang semoga saja cukup mengena di hati pembaca. Awesome, kan?” ujarnya.

Dalam wawancara itu, Mr. Beilschmidt juga mengisyaratkan untuk menciptakan karya berikutnya. ‘Apartemen, dan Villa di Atas Bukit’ adalah kumpulan cerpennya yang ketiga, berisi sekitar 15 buah cerpen, dengan tema aksi, filosofi, dan persahabatan.

2 karya Mr. Beilschmidt yang sebelumnya, ‘Di Balik Layar Komputerku’ dan ‘Pesta Prasmanan Bebas’, juga membuat kegemparan di dunia literatur negeri ini. Ide-idenya yang tak biasa langsung tergambar di cerpen ‘Di Balik Layar Komputerku’, yang menceritakan tentang sebuah dunia kecil di balik layar sebuah komputer, yang disebutnya ‘mengatur kerja seluruh komputer, juga saling terhubung dengan komputer-komputer lainnya di seluruh dunia.’ Lalu, dari cerpennya yang berjudul ‘Pesta Prasmanan Bebas’, idenya yang aneh-aneh tertuang lagi. Seorang cerpenis, kritikus, dan penikmat literatur asal Inggris menyebut cerita itu ‘segar, unik, sekaligus aneh yang tercampur dalam harmoni’. Cerita itu sendiri berkisah tentang sebuah meja prasmanan raksasa, dimana semua orang yang datang ke sana dapat makan dan membuat makanan untuk orang lain.

Tapi, beberapa orang terpandang dari grup penikmat literatur elit FF (Fiction Favourers) menganggap ada niatan tersembunyi di balik tulisan-tulisan Mr. Beilschmidt. “Jika diteliti, penggunaan ‘Apartemen’ dan ‘Villa’ di cerpen Mr. Beilschmidt itu agak seperti metafora. Kami rasa dia hendak membuat pembagaian akan sesuatu, yang kami sendiri tidak tahu.” Ujar Elizaveta Hedervary, seorang petinggi wanita dari grup FF, ditemani oleh Honda kiku,

Bagaimanapun, keberadaan cerita pendek bertema dan bergenre baru sangat didambakan oleh pecinta cerpen. Kedatangan cerpen dari penulis pendatang baru ini semoga dapat mengobati kerinduan akan ‘pembaruan’ di dunia cerpen negeri ini.’

TAMAT

Iklan