Tag

,

Sebulan, berlalu, tapi Roderich tetap saja mengantar makanan ke rumah Gilbert. Sementara Gilbert sendiri, yang kirimannya juga tak kunjung datang, menerima makanan-makanan itu.

-Oke, kembali ke latar sekolah-

Sekarang ada pelajaran olahraga, pelajaran yang paling dibenci Roderich.Gilbert sangat menyukai pelajaran ini, Karena olahraga adalah satu-satunya pelajaran yang tidak dikuasai Roderich. Dengan begitu, ia bisa ‘menghancurkan’ Roderich dalam bidang ini.

Kali ini, mereka belajar renang. Roderich benci berenang, karena waktu ia masih kecil dulu, ia pernah tenggelam di sungai dekat rumahnya. Sejak itu, ia benci air yang banyak, apalagi kolam renang.

“Baik, anak-anak!” kata Pak Mathias, tapi biasa dipanggil Pak Den, di tepi kolam renang. “Kita akan praktek renang gaya dada! Ayo, cepat, pemanasan dulu, ntar kalian kakinya kram dan tenggelam dengan tak elit!”

“Hhh… Kenapa, coba…” kata Roderich frustrasi.

“Ha! Aku yang awesome ini, akhirnya mengalahkanmu di bidang ini!” kata Gilbert pede.

“Hei, Gil. Kali ini, aku benar-benar marah padamu. Bisakah kau sehari saja tidak melakukan sesuatu yang dianggap bahan besar oleh klub fotografi?” Tanya Roderich kesal.

Sebelum Gilbert menjawab, Pak Den sudah memanggilnya. “Gilbert, kau praktek pertama, Nak!”

“Eh, baik, Pak! Ini mah, mudah…” Gilbert langsung meloncat ke kolam renang, berenang ke ujung kolam, dan kembali ke tempat Pak Den dan juga teman-teman sekelasnya .
————

Setelah beberapa murid praktek… “Roderich, giliranmu!” kata Pak Den. Roderich hanya diam di tempatnya berdiri.

“Ayo, Nak! Kolamnya tidak dalam, cuman 1,5 meter juga!” kata Pak Den, berusaha membujuk Roderich agar memulai prakteknya. Roderich hanya diam dan mengeleng.

Gilbert yang iseng, menemukan seekor kepiting kecil yang ajaibnya hidup disitu. “Hehehe… tenang, Pak… Roderich akan segera mulai…” bisiknya pelan.

Gilbert mengendap-endap ke belakang Roderich, dan menunjukkan kepiting itu tepat di depan muka anak Tompel itu. Roderich yang kaget, langsung lari dan akhirnya terjun juga ke kolam.

“Hmmmh…” Roderich yang sudah ada di dalam kolam dengan cukup elit melirik tajam ke arah Gilbert yang hanya bersiul tanpa dosa.

“Roderich, kapan kau mau mulai berenangnya?” Tanya Pak Den. “…Baik, Pak.” Kata Roderich pasrah, dan mencoba berenang.

Setelah beberapa lama, dan cukup susah payah, Roderich akhirnya berhasil kembali ke tempat awal. Ia terus memandangi sebuah tempat terjun yang tingginya sekitar 5 meter, mengarah ke sebuah kolam berkedalaman 5 meter pula. Lalu, ia memandang Gilbert sinis, dengan sedikit kefrustrasian.
————

Setelah semua murid praktek dan Pak Den juga sudah menilai, semua murid berkumpul untuk kembali ke sekolah.

“Oke, Eliza, Eliza, ah, itu dia. Vash, Vash, oh, sudah. Roderich, Roderich… dimana dia?” Tanya Pak Den setelah ia menyadari bahwa Roderich telah hilang dari gerombolan teman-temannya.

“Mmm… Pak, dia lagi diatas, uji nyali…” kata Toris agak takut.

“APA?! Dimana?!” Tanya Pak Den panik.

“Diatas situ. Lihat saja, Pak.” Kata Toris, menunjuk Roderich yang sedang menaiki tangga menuju tempat terjun itu. Bagi Roderich, mungkin saja itu seperti ‘tangga menuju alam baka’.

“Ya tuhan, Roderich! Turun kau dari situ!” teriak Pak Den.

“Roderich! Kesambet apa kamu sampai naik ke sana?! Turun kau, dasar tak awesome!” Gilbert langsung mengambil langkah dengan cara mengikuti Roderich naik ke atas.

“Oh, tidak. Gilbert!” panggil Pak Den khawatir. “Bisa dipecat sama Pak Kepsek kalau begini jadinya…” katanya panik.

Para murid yang berada di bawah memperhatikan dan klub fotografi menyiapkan peralatan super canggih milik mereka untuk mendapatkan hint raksasa superlangka ini.

Di suatu tempat, di sekitar kolam renang, pak berwald mengintip kejadian itu, mumpung masih jam kosongnya. “Baguslah. Kau dipecat, aku lega…”
————

Di puncak tempat terjun itu, Roderich sudah BENAR-BENAR meloncat, tapi Gilbert masih berhasil menangkap tangannya sebelum Roderich berhasil terjun. “Roderich! Cepat kau naik!” teriaknya.

“Tidak akan! Kau sudah membuatku lelah! Apa kau tidak hitung ada berapa berita tentang kita dipairingkan di koran sekolah?! Jawab, gil! BERAPA KALI?!” jawab Roderich, membuat Gilbert sedikit bergidik. ‘Roderich jadi kayak kerasukan setan… ngeri, ah, tidak awesome…’

“Sepuluh! Roderich, dengar. Sama seperti malam sebelum ulangan fisika itu, aku ingin kau dengar. Kita teman, Rod. Kita teman. Apapun kata orang kalau kita bukan teman, atau istilahnya lebih dari teman, abaikan mereka! Mereka tidak tahu perbedaan antara perhatian sahabat dengan perhatian –ehem, pacar! Cepatlah, Roderich. Tapi, jika kau tetap teguh dalam keinginanmu,” Gilbert mengambil jeda. “Biarkan aku ikut terjun dan mengawasimu sebagai teman. Pamanku mengatakan, persahabatan adalah hal terbaik yang bisa diminta dalam hidup. Kalau kau ditakdirkan mati sekarang, setidaknya aku orang yang melihatnya pertama kali.” Jawab Gilbert.

“Cukup, Gilbert. Aku ingin terjun sekarang. Tolong bisakah kau lepaskan tanganmu?” Tanya Roderich.

Gilbert, terdiam, lalu menyadari sesuatu. “Hei, Tompel.” Katanya tersenyum. Bukan senyum yang biasanya ia berikan, tapi sebuah senyum yang biasa diberikan seorang ibu pada anaknya yang masih kecil. Matanya berkaca-kaca. “Kalau kau memang ingin jatuh, seharusnya kau berusaha melepaskan tanganmu dariku. Di hatimu yang terdalam, kau tidak mau, kan? Dasar, pengecut…”

Roderich, yang entah kenapa baru nyadar, langsung melepas pegangan tangannya dari Gilbert, lalu dengan tangannya yang satunya lagi, ia menyingkirkan jari-jari Gilbert dan terjun bebas.

Gilbert, yang tidak merasakan pegangan tangan lagi, ikut terjun bebas sambil berteriak, “Roderich, aku akan selalu menepati kata-kataku! Camkan itu!”

Roderich sampai di air terlebih dahulu, jatuh ke dalam air hingga nyaris mencapai dasarnya. Pak Den sudah tidak berani melihat, merutuki kegagalannya mencegah 2 muridnya celaka.

Gilbert sampai ke air, melihat Roderich yang nampaknya pingsan karena tidak terbiasa berenang sedalam ini. ‘Makanya, kalau berenang ambil napas dulu, dong! Yang dalem!’ pikirnya, berenang menuju anak nekat tersebut. ‘Hei, aku ingat! Dulu paman pernah menenggelamkanku di kolam!’

Beberapa lama kemudian, Gilbert kemvali ke atas, membawa Roderich yang pingsan, sambil berkata, “Roderich… dasar Tompel, kalau mau berenang di tempat dalam, bilang aku dulu, dong…”

Pak Den menghela napas lega melihat anak muridnya selamat, meski yang satunya agak diragukan keselamatannya. “Syukurlah… semoga aku tak jadi dipecat…” katanya.
————

Di UKS… “Uhuk-uhuk… Hei, aku dimana?” Tanya Roderich yang baru sadar dari pingsannya.

“Di UKS. Tindakanmu tadi itu tidak awesome sekali, belum bisa berenang malah nekat terjun ke tempat dalam. Ada Francis dan Antonio disini, dan sepertinya sepupumu itu ingin menyampaikan sesuatu.” Kata Gilbert.

Antonio mendekati tempat tidur, dan berkata, “Sepupuku, aku batalkan semua hutang tarian Flamenco-mu itu.” Roderich, saking senangnya, hendak berjingkrak-jingkrak di atas tempat tidur tapi langsung disuruh tidur lagi oleh sahabat-sahabatnya.

“Oh ya, Tompel, kau mau tahu kenapa pamanku bilang persahabatan adalah hal terbaik?” Tanya Gilbert.

“Kenapa?”

“Dulu, saat pamanku masih seumuran kita, ia juga pernah punya sahabat. Hobi mereka sama, dan mereka sangat akrab. Suatu hari, paman ingin kabur dari rumah karena didikan kakek yang… bisa dibilang… cukup keras. Temannya itu awalnya hendak membujuk paman agar tidak pergi, tapi akhirnya dia juga ikut membantu paman kabur. Tapi, rencana itu ketahuan dan mereka berdua ditangkap. Kakek tidak sanggsup menghukum paman seberat itu, jadi ia hanya menghukum sahabat pamanku saja. Karena sebuah kecelakaan dalam penghukuman itu, teman pamanku itu kehilangan nyawanya, dan pamanku tidak bisa mencegahnya. Ia merasa sangat bersalah sejak itu. Hei, jangan ceritakan ini ke siapapun, ya. Cukup kalian yang tahu.” Jelas Gilbert.

“Kakekmu… sadis.” Komentar Roderich agak takut.
————
Hello -tunggu sebentar. Biasanya aku bilang halo di awal post, kan? Ah sudahlah, lupakan.

Jadi, hari ini aku seneng banget. Ntar sore aku bakal NN (numpang nonton) Ao no Exorcist di rumah temenku! Ah, bangganya aku, punya temen penggemar anime!

Oh, adakah yang bisa menebak siapa orang yang disebut ‘sahabat pamannya gilbert’ di cerita ini? tokoh nyata, lho! Cuman ceritanya dirubah sedikit. Salam kekacauan dari Furaifurawa-san!

Iklan