Tag

, ,

Summary: Dia dikenal penyendiri. Temannya pun cuma 2 orang, adiknya dan seorang gadis periang. “Kak, bagaimana ini? Tidak mungkin juga, kan, kalau begini terus?” For FFC Infantrum: Death Under the Moon
———

“Ayo cepat pergi! Jangan dekat-dekat dia!” segerombolan anak-anak berlari pergi begitu melihat seseorang di depan gerbang taman. Orang itu, yang masih anak-anak juga, ditemani oleh seorang anak laki-laki lain yang lebih pendek darinya.

“Kak, yang sabar, ya.” Kata laki-laki lain itu, berusaha menenangkannya sebelum marahnya keluar.

Orang itu menghela napas, dan berkata, “Tidak apa-apa, Ed. Ini sering terjadi.”
———

Di sekolah, orang itu selalu menyendiri. Ia jarang keluar, karena dia tidak mau dan tidak ada seorangpun yang mengajaknya. Tiap hari, ia selalu berkutat dengan buku teori seni yang ia bawa. Bersikap seperti tidak peduli orang lain, itulah yang selalu tampak di wajahnya. Atau dia mungkin memang tidak peduli. Sekarang juga, sang narator harus cabut lari karena dikejar orang itu sambil dilempari buku.

Saat pulang sekolah, saat yang selalu ia tunggu. Bukan karena ia ingin segera ke rumah dan main, toh main tidak ada gunanya karena semua orang akan pergi begitu ia datang. Ia ingin segera lepas dari perasaan tidak menyenangkan yang terus ia alami tiap hari. Sekarang, ia sedang berjalan pulang bersama Ed.

“Hei, Ed, sebenarnya aku ini yang mengerikan sebelah mananya, ya?” Tanya orang itu.

“Kakak tidak mengerikan, kok…” kata Ed pelan, meskipun sepertinya ia tidak terlalu jujur dan hanya ingin menyenangkan hati kakaknya.

“Jujurlah, Edmund. Kenyataan sebaiknya diberitahukan.” Kata orang itu.

“Eh, Kak…” Ed bingung. Ia tidak ingin menyakiti hati kakaknya, tapi ia disuruh jujur oleh kakaknya juga.

Tiba-tiba, terdengar suara dari belakang mereka. Terdengar samar-samar, seperti menyuruh mereka berhenti.

“Siapa itu?” Tanya Ed.

“Biarkan saja. Paling anak-anak yang biasa mengejek kita.” Orang itu berjalan terus, tapi langsung ditahan oleh Ed dengan menarik lengannya.

“Aku tidak percaya kalau orang yang biasa mengejek kita dapat terdengar seriang itu ketika memanggil kita.” Kata Ed.

“Bisa jadi itu keriangan karena berhasil menemukan target ejekan.” Kata orang itu lagi, melepaskan diri
dari Ed dan berjalan lagi.

“Hei, kalian! Tunggu!” teriakan itu makin jelas, dan kali ini menciptakan kata-kata yang dimengerti. Dari jauh, seorang gadis berambut pirang keemasan, bermata coklat, dan memakai sebuah tas selempang berlari mengejar mereka.

“Kak, jangan pergi dulu!” panggil Ed, tapi kakaknya tidak peduli. Ia masih saja berjalan.

Gadis itu berhasil mencapai Ed. Ia bertanya, “Mana kakakmu?”

Bagaimana dia bisa tahu kalau Wil kakakku? Pikir Ed bingung. Akhirnya ia menjawab, sambil membetulkan kacamatanya. “Dia sudah pergi duluan. Maaf, ya. Dia agak skeptis jika ada orang lain yang mencarinya. Hasil dari perlakuan tidak menyenangkan selama 10 tahun.”

“Oh, begitu, ya? Kasihan sekali…” kata gadis itu.

Tiba-tiba, mereka berdua dikagetkan oleh sebuah suara. Rupanya, orang itu berbalik ke mereka. “Apa maksudmu tadi dengan ‘perlakuan tidak menyenangkan selama 10 tahun’, Edmund?” tanyanya keras.

“Kak…” Ed mengumpulkan keberaniannya, kemudian berteriak kepada kakaknya. “Jangan disangkal, Kak! Itu benar-benar terjadi, perlakuan seperti itu pada kakak! Saksinya adalah aku dan Tuhan!”

Orang itu tersentak. Tidak salah apa yang dikatakan adiknya. Aku selalu menyangkal semua perlakuan buruk yang ditujukan padaku, membuatku menjadi seorang skeptis. “Baiklah, tapi sebaiknya lain kali kau
berhati-hati saat bersumpah atas nama Tuhan.” Katanya sambil menepuk pundak Ed.

“Jadi, ada apa dengan gadis ini dan untuk apa dia berlari mengejar kita?” Tanya orang itu.

“Aku dititipi pesan dari Bu Frost, kau dapat nilai tertinggi waktu praktek melukis. Dia juga bilang kau punya bakat dalam kekuatan melukis. Tadi kalian langsung pergi, jadi aku yang disuruh menyampaikan ke kalian. Trus,” ia mendekat ke orang itu tanpa rasa takut sama sekali, sedikit membuatnya salah tingkah.
“Dia bilang gaya lukisanmu sudah hampir sekaliber Velazquez dan Rubens!” bisiknya keras.

Orang itu malah menepisnya, dan berkata dengan marah, “Kau kira aku melukis orang-orang tanpa baju?!” lalu langsung pergi tanpa melihat ke belakang.

“Kak!” Ed mengejar kakaknya itu. “Dia tidak bermaksud! Dia hanya bilang gaya lukisannya, kan? Bukan apa yang dilukis?” katanya.

Setelah beberapa detik penuh pertarungan sengit dengan dirinya sendiri akan kemarahan yang siap dilepaskan, orang itu menghela napasnya dan berkata, “…Kau benar.” Ia berjalan kembali ke gadis itu.

“Tolong maafkan dia soal yang tadi…” kata Ed pada gadis itu.

“Tidak apa-apa,” kata gadis itu sambil tersenyum. “Kita belum kenalan, ya? Perkenalkan, Amalie. Amalie Imhoff.” Ia menjulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan.

“Aku Edmund Charion, dan ini kakakku-”

“Wilhelm.” potong orang itu. Ia berusaha tersenyum, meski sepertinya gadis itu agak kaget melihat senyumannya yang terkategori cukup menakutkan. Seperti seorang drakula, kata orang-orang.

Amalie berjabat tangan dengan Wilhelm. Amalie berpikir, tangannya… kasar juga. Bagaimana tangan sekasar ini bisa memperlakukan kuas dan kanvas dengan lembut, itu benar-benar hebat.

“Jadi, kalian dari keluarga Charion? Orangtua kalian kemana?” Tanya Amalie.

“Itu… kau bisa bilang mereka tinggal di bawah tanah.” Kata Edmund, memberikan kiasan.

“Bukan di bawah tanah, Ed. Di langit.” Sanggah Wilhelm.

“Orangtua kalian… bisa terbang? Atau seekor burung? Atau…” Amalie berhenti, mengingat bahwa ‘di langit’ biasanya juga merupakan kiasan untuk ‘di alam baka’; orangtua mereka sudah meninggal.

“Tidak apa-apa. Kami pulang dulu.” Edmund berbalik, mengajak kakaknya kembali berjalan.
———
3 tahun kemudian…

Sebenarnya, ini apa? Pikir Wilhelm bingung. Ia sedang merenung di kamarnya, di hadapan alat-alat melukisnya. Ia merasakan keanehan setiap kali ia dekat dengan Amalie. Awalnya hanya merinding. Iya, merinding. Lalu ditambah dengan kecepatan detak jantungnya, dan sebuah perasaan senang.

Sudah hampir waktunya ujian akhir. Ia tidak boleh gagal hanya karena semua sindrom aneh itu. Ia pun berdoa. Oh Tuhan, jangan buat aku gagal dalam ujian ini hanya karena sahabatku, kumohon…

Ia bertanya pada semua peralatannya. “Apa yang mesti kulakukan sekarang, kawan-kawanku?”

Kau harus belajar, kata kuas.

Kau harus banyak latihan, kata kanvas.

Kau harus melakukan latihan mental untuk melupakan gadis itu sejenak, kata palet.

“Apa? Tidak bisa! Aku tidak ingin melupakannya!” jawab Wilhelm tidak terima.

Barang sejenakpun? Tanya palet.

“…Ya. Aku tidak ingin, dan tidak bisa.”

Cieeee~ koor peralatan yang lain, termasuk penyangga kanvas dan cat.

Aku tahu yang terjadi padamu, anak muda. Kata penyangga kanvas. Kau menyukai gadis itu, kan? Jujurlah. Kau sering mengucapkan kata itu pada adikmu, kan?

“Iya.”

Tiba-tiba, adiknya masuk ke kamarnya. “Kak, kakak bicara dengan siapa?”

“Bukan dengan siapa-siapa, kok.” Jawab Wilhelm, berusaha menutupi pembicaraan imajinasinya dengan peralatan lukis.

“Ed,” panggilnya, memutar kursi putarnya menghadap Edmund. “Apa kau pernah mengalami perasaan khusus terhadap seseorang?”

“Apa? Senang, takut, tertarik, suka?” Tanya Ed balik.

“Sepertinya antara tertarik dan suka.” Jawab Wilhelm.

“…Wah, kakak baru merasakannya sekarang? Kakak sudah hampir 18 tahun, lho…” kata Ed sambil membuka tirai kamar kakaknya. “Ini perasaan yang normal, kok. Setiap orang pernah merasakannya. Ngomong-ngomong, pada siapa?”

“Sebelum aku menjawab, apa kau tidak keberatan?” Tanya Wilhelm.

“Keberatan akan?”

“Jika orang itu mungkin sama dengan orang yang juga kau beri perasaan yang sama.”

“Oh, tidak apa-apa.”

“Baiklah. Selama kau tahu aku tidak pernah menyukai semua orang yang mengejekku, maka pilihan tinggal satu.”

Edmund tersentak. “Maksud kakak… Amalie?”

“Ya,” jawab Wilhelm. “Kau sudah janji kan, untuk tidak keberatan?”

“Aku tidak keberatan, meskipun sebenarnya… aku juga menyukainya.” Kata Ed.

“Ah, begitu.” Kata Wilhelm, kembali dengan kesan tidak pedulinya.
———

Setelah beberapa lama, perasaan itu malah makin menjadi pada mereka berdua. Karena sekarang mereka sudah cukup umur untuk ‘itu’, mereka harus mempertimbangkan soal Amalie sebelum ada orang berikutnya.

“Jadi menurut Kakak, bagaimana ini? Tidak mungkin juga kan, kalau begini terus?” Tanya Ed dalam sebuah konferensi rahasia dengan kakaknya di ruang tamu rumah mereka.

“Kau kan sudah menyukainya, sudahlah, bilang saja. Merepotkan sekali.” Kata Wilhelm sebal.

“Tapi kakak juga, kan? Kakak punya hak yang sama.”

“Memang, tapi jika dipertimbangkan lagi, sebaiknya kau saja yang bersama Amalie.”

“Tidak. Aku tidak ingin kakak sendirian lagi. Kakak sudah sendirian hampir seumur hidup kakak.” Tolak Ed tegas.

Melihat keteguhan (baca: sikap keras kepala) adiknya, Wilhelm mulai naik darah. Ia mengeluarkan sebilah kuas dari sakunya, dan terus mengacungkan benda itu ke wajah adiknya sampai terpojok. “Dengarkan baik-baik, Edmund,” kata Wilhelm, membuat adiknya itu sedikit ketakutan melihat kakaknya. “Aku tidak ingin dia ketakutan hanya karena penampilanku ini. Dia akan memerlukan orang yang lebih mudah tersenyum sepertimu. Aku juga ingin kau bahagia; menikahlah dengannya.”
———

Akhirnya, Edmund menikahi Amalie. Beberapa bulan kemudian, mereka dikaruniai anak pertama mereka.

“Kau namai anakmu itu apa?” Tanya Wilhelm di telepon. “Maaf aku tidak bisa datang, aku sedang banyak pesanan.”

“Aku berencana menamainya Leopold.” Jawab Edmund.

“Nama yang bagus. Oh ya, sebentar lagi aku harus mengantar potret ke pemesannya. Sudah dulu, ya.” Wilhelm langsung memutuskan sambungan.
———

Wilhelm memandang sebuah potret. Buatannya sendiri, tentunya. Disana, terlihat adiknya, berdiri di sebelah Amalie yang duduk sambil menggendong seorang anak.

“Ah, sudah waktunya melanjutkan lukisanku. Sander, tolong jagakan rumah selama aku melukis.” Katanya pada kucing kuning kecoklatan yang selalu mengikutinya.

Kucing itu mengeong, dan duduk santai di ‘pos’-nya dekat jendela ruang tamu. Wilhelm sendiri pergi ke ruangannya di lantai atas.

“Peralatan sudah siap, dan tinggal sedikit lagi yang perlu dilukis.” Ia mulai melukis, dan sesekali kucingnya datang membawakan air.

Setelah beberapa jam, ia teringat. Pernikahan adiknya dan Amalie dilaksanakan di malam dengan bulan sabit kecil; bulan baru yang akan ia lukis.

Bukan masalah, pikirnya. Ia mulai membuat goresan untuk bulan kecil itu, menggunakan kuas terkecil yang ia punya.

“Sedikit lagi…” ia menggoreskan kuasnya, menciptakan bentuk lengkungan kecil berwarna kuning pucat yang sangat indah.

Tiba-tiba, ia merasakan sebuah kesakitan di dadanya. “Oh, jangan s-sekarang…” ia menggoreskan kuasnya sekali lagi, menegaskan keberadaan sang bulan di atas langit, menyembul diatas hutan.

“Sander, cepat datang…” panggilnya. Sang kucing langsung berlari ke atas.

Ketika sang kucing sampai, ia terhenyak melihat pemandangan di sekitarnya.
———

“Hei, kucing itu mengeong terus sejak kemarin. Ada apa, sih?” Tanya seseorang yang lewat di depan rumah itu.

“Coba kita lihat.” Kata temannya.

Mereka membuka pintu rumah yang tidak dikunci. Kucing yang menyadari kedatangan mereka segera turun dan menyambut.

“Meong~ Meong~ Meong~” kucing itu pergi ke atas, seakan mengajak mereka naik.

“Mungkin kucing itu ingin menunjukkan sesuatu pada kita.” Orang itu naik ke atas, diikuti temannya.

Sesampainya di depan ruangan milik Wilhelm, kucing itu berhenti. Ia berusaha berdiri dan meraih-raih kenop pintu.

Teman dari orang itu membuka pintu, dan spontan berkata, “Ya Tuhan… inilah yang hendak diberitahukan
oleh kucing itu.”

“Turut berduka, kucing malang.” Kata orang itu ketika masuk ke dalam ruangan, memperhatikan jasad seseorang di dekat kanvas, dengan lukisan yang telah terselesaikan; sebuah gambar pemakaman dengan bulan sabit mungil di sudut kanan lukisan itu.

“Hei, ada tulisan dekat orang ini!” katanya, menggeser tangan dari jasad itu dan menemukan sebuah pesan: Kirimkan maaf ke Edmund. Tertanda, Wilhelm dan Sander.

-TAMAT-
————–_____————–

Balik lagi ke blog, akhirnya. ini satu orific yang kuciptakan untuk sebuah challenge di infantrum, Death Under the Moon. Nggak yakin menang sih, wong masih baru nan abal gini… tapi, tetep aja, harapan mesti dipasang!

Iklan