Tag

“Sial, kesiangan!” kataku. “Setengah jam lagi keretanya pergi!” Aku segera bersiap-siap secepat kilat, dan berlari keluar menuju stasiun.

Sayangnya, begitu aku tiba disana, kereta itu baru saja pergi. Oh tidak. Jadwal berikutnya masih sangat lama, dan aku tidak mungkin menunggu. Lagipula, aku baru ingat bahwa uang yang kugunakan untuk membeli tiket itu adalah uang terakhirku. Aku tak bisa membeli tiket lagi. Habislah, habislah harapanku untuk pulang ke rumah.

Aku tidak mau tinggal disini! Aku harus sampai rumah! Aku menggendong kembali ranselku yang juga terduduk lemas di sebelahku, menaikkan kembali posisi kacamataku, dan melangkah keluar dari stasiun. Lagipula, jika jarak dari sini ke kota tempat rumahku hanya beberapa kilometer, aku mungkin akan segera sampai.

Aku akan berjalan ke rumah. Meski aku tidak tahu jalan yang tepat untuk kembali ke sana.

Jika Rumahku Bukan Rumahku

Fandom: Hetalia

Character: Roderich Edelstein/Austria

Warning: Diciptakan dengan kebingungan tentang konsep AU, disertai OOC, keabalan, dan juga kegajean. Jika merasakan keinginan untuk berdosa dengan tangan dan keyboard di kotak komen, segera hentikan proses.
.
.
.

Aku melangkah keluar stasiun. Oh, keluar dari bangunan itu saja merupakan sebuah kebanggaan bagiku. Karena, aku ini mudah tersesat. Bayangkan saja, aku sering tersesat di rumahku sendiri. Apa-apaan itu! Yah, salahku juga, sih, rumahku terlalu besar. Tapi, dulu banyak yang dapat menolongku jika aku tersesat. Sekarang, aku sendirian. Sendirian. Jika aku tersesat lagi, aku dapat tersesat selamanya di rumahku.

Aku terus berjalan, sementara melihat ke belakang. Stasiun itu makin kecil, menandai mulai jauhnya aku berjalan. Tiba-tiba, hape-ku berdering, dan kulihat siapa yang meneleponku

Obaka-san is calling…

Otomatis kutekan tombol merah pemutus sambungan. Aku tidak ingin menyebabkan masalah dengan diriku sendiri. Jika dia tahu aku ketinggalan kereta, pasti dia akan tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.

Satu milisekon kemudian, aku merasa sangat menyesal telah menekan tombol itu. Padahal, ada sedikit harapan dia akan membantuku pulang ke rumah. Ah, tiada gunanya menyesali yang telah terjadi. Aku pun terus berjalan lagi. Cepat atau lambat, aku akan menemukan rumahku.

Sepanjang jalan, aku berpikir. Aku telah membuat rumahku menjadi rumah ternyaman yang pernah kutempati. Semua perabotannya, furniturnya, sudah sesuai dengan keinginanku. Bahkan aku punya sebuah oven bara di rumahku, cocok untuk membuat kue.

Tapi, aku berpikir bahwa rumahku itu bukan rumahku sekarang. Karena aku sendirian. rumah itu bukan dimana kau tinggal, tapi dimana kau dimengerti, itulah kalimat yang sering kudengar. Aku jadi ragu, apakah sebenarnya rumahku adalah ‘rumahku’. Rumahku yang sebenarnya, tentunya.

Dulu, rumahku adalah rumahku. Banyak orang disana. Elizaveta yang banyak membantuku, si kecil Feli yang cukup kikuk, dan juga H-R-E. aku tidak mengerti kenapa dia bernama begitu. Setidaknya, dia memberikan nama yang lebih jelas kek, seperti Peter, George, ataupun Richard. Jika aku tersesat di rumahku, maka akan banyak orang yang akan membantuku mencari tempat yang kucari.

Aku berhenti di tengah perjalananku, dan melirik jam tanganku. “sudah jam 12. Aku harus makan siang.” Kataku pelan. Aku segera pergi ke kedai terdekat, dan keluar dengan sebuah sandwich tuna.

Aku kembali ke jalanan, tidak mempedulikan sebuah bola gas raksasa berwarna kuning yang terus bersinar, berusaha mempengaruhiku agar berhenti berjalan. Ia terlihat seperti mengejekku dan semua kesialan yang kualami hari ini.

Peluh terus bercucuran. Aku abaikan saja mereka. Tetesan kecil itu tidak akan menggangguku. Aku harus terus berjalan. Tiba-tiba, hape-ku berdering lagi.

Antonio Fernandez Carriedo is calling…

Aku sekilas bingung, untuk apa pecinta tomat itu meneleponku. Akhirnya, aku putuskan saja sambungannya.

Sekarang, aku berpikir. Jika rumahku bukan rumahku, maka rumahku yang sebenarnya itu dimana? Apakah di suatu tempat di sekitar sini? Apakah jauh di ujung dunia sana? Atau sebenarnya dekat, hanya saja aku tidak menyadarinya…

Matahari mulai turun, dan aku merasakan angin sejuk bergerak melewatiku. Menyenangkan. Sedetik kemudian, aku sadar. Ke arah manakah aku berjalan?

Oh, ini tambah buruk saja. Sekarang aku tersesat. Aku ingin menelepon seseorang sekarang. Pelan-pelan, aku memencet tombol-tombol nomor di hape-ku, nomornya Gilbert.

Aku menekan tombol hijau itu, dan berharap sepenuh hati Gilbert akan menjawab.

Tuuuutt… ayolah, jangan sampai aku berakhir disini.

Tuuuutt… aku tidak boleh berakhir di pinggiran jalan layaknya gelandangan.

Tuuuutt… aku kan aristokrat! Tindakan seperti itu sangat tidak elit! Kumohon, Gilbert, baru kali ini aku memohon padamu tapi, tolong angkat!

Tuut… tuut… tuut… habislah harapanku. Ia sepertinya marah dan memutuskan sambungannya. Aku jadi makin merasa bersalah karena telah memutuskan sambungan saat ia menelepon tadi pagi.

Hari mulai senja. Sudah 2 jam aku tersesat, yang kuhabiskan dengan berjalan sesuai arah yang kuyakini. Aku menemukan sebuah taman kecil di tengah sebuah persimpangan yang mulai sepi. Aku berhenti di sana dan
duduk di salah satu bangku, kududukkan juga tas ranselku bersamaku. Aku memandangi matahari yang sekarang berubah jingga. Melihat keadaanku sekarang, aku ingin menangis. Tapi, aku bukan seorang anak kecil. Bukankah akan terlihat lucu jika orang melihatku menangis layaknya anak kecil di bangku taman. Sebuah adegan klise.

Malam turun, ditandai dengan munculnya beberapa bintang dan sebuah bulan sabit kecil di langit. Aku terus berjalan, dan dalam hati memarahi kakiku yang lelah berjalan. Dasar kaki, kalian berdua tidak boleh berhenti hingga aku mencapai rumah!

Tiba-tiba, aku dihadang oleh 3 orang bertampang preman. Orang yang di tengah, membawa sebuah pentungan, berkata pada kedua rekannya. “ada orang baru, nih. Kawan-kawan, kita akan dapat makan malam hari ini.”

“K-Kalian mau apa?” tanyaku takut.

“Dengar. Kami tidak akan membuatmu kesakitan kalau kau diam dan melakukan yang kami minta.” Kata orang yang di tengah itu, memain-mainkan pentungannya dengan santai.

Aku diam saja. Ada dua alasan untuk itu. Satu, aku sedikit takut. Dua, aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa dan aku berpikiran bahwa tidak ada gunanya berkompromi dengan sekelompok preman.

Tiba-tiba, aku berkata secara bawah sadar, “Tidak.” Hei, tubuhku! Apa-apaan ini?! Kalian tidak sebanding dengan orang-orang itu!

“Wah, mau ngelawan, ya?” Tanya orang itu, membuat level ketakutanku bertambah 2. “Baiklah, itu yang kau katakan. Ayo, kawan.”

Dua orang lainnya itu langsung menyergapku dan memojokkanku ke dinding, tapi tanpa disangka-sangka aku berhasil lepas dari mereka dengan cara menyikut perut mereka keras-keras. Wah, ternyata sikuku tajam juga! Weits, aku harus segera kabur dari orang itu, dia terus mengayunkan pentungannya ke arahku.

Beberapa kali aku berhasil menghindar. Tapi sepertinya kakiku yang lelah ini tidak bisa diajak kompromi lagi. Beberapa kali aku terlambat menghindar, dan pada saat itu aku selalu kena.

Menyadari kelemahanku, salah satu dari dua orang tadi langsung menyandungku. Si pembawa pentungan itu berbisik pelan ke orang tadi, sepertinya mengucapkan terimakasih. Baguslah, preman-preman masih bisa berterimakasih, walau aku pun tahu mereka tidak akan berterimakasih atas apa yang mereka ambil dariku.

Aku berteriak pada diriku sendiri untuk bangun, tapi ia bahkan tidak mau bergerak sedikitpun. Tuh kan, rasain kamu! Jangan sembarangan nantang orang!

Dengan beberapa pukulan yang berhasil membuatku tambah lemas saja, orang itu akhirnya berhenti. Kemudian, ia merogoh sakuku dan menemukan sebuah dompet yang dengan bodohnya kusimpan disana.

Ada sedikit uang di dalam sana, dan jelas mereka mengambil semuanya. “Makasih, ya!” ia menjatuhkan dompetku ke tanah, tepat di depanku, dan pergi begitu saja dengan kedua kawannya. Wah, tak kusangka mereka berterimakasih! Tapi tetap saja, aku tidak akan bisa bertahan kalau begini caranya. Memang ada cerita orang bisa hidup hanya dengan ucapan terimakasih?

Dengan susah payah aku meraih dompetku, dan menemukan isinya yang kosong. Untungnya kartu-kartu pentingku masih ada. Aku memandang mereka yang pergi begitu saja, tertawa riang. Aku sedikit iri. Mereka bertiga, tertawa bahagia. Aku sendiri, kelelahan dan kesepian. Betapa tidak adilnya.

Tiba-tiba, pandanganku mengabur. Aku sudah memaksa tubuhku terlalu keras. Akhirnya, aku memutuskan untuk menurut dan ambruk begitu saja.
——————

“Mmmh…” aku berusaha membuka mataku yang mendeteksi keberadaan cahaya. Rasanya tadi tempat itu gelap.

“Ve~ Roderich sudah bangun~” aku mendengar suara seseorang. Suara itu; Feli?

“Sudah? Syukurlah. Bawakan ini untuknya.” Kata sebuah suara lainnya, sepertinya seorang perempuan.

Aku membuka mata, berusaha menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya. Kulihat Feli berjalan cepat ke arahku, membawa sebuah gelas berisi air.

Aku melihat ke sekitar, dan baru sadar bahwa aku sedang berada di sebuah kamar. Feli masuk, dan menaruh gelas itu di meja kecil yang terletak di sebelah ranjang tempat aku tidur. “Ve~ Roderich, minum dulu~” katanya.

“Eh… terimakasih, Feli.” Kataku, mendudukkan diri di ranjang itu dan mengambil gelasnya. Hei, aku ingat tempat tidurku tadi lebih keras dan dingin.

Dari luar, aku mendengar suara. “Haduh, si Roderich itu udah berat sekarang! Dasar tidak awesome, pasti dia kebanyakan makan kue!” itu… Gilbert?

“Bagaimana kau bisa menemukannya?” Tanya suara lainnya lagi.

“Kalian menyuruhku berbelanja bahan makanan, dan di tengah perjalanan pulang dari supermarket, aku menemukannya di dekat taman, dalam keadaan pingsan. Haha, rasakan kau!” jawab Gilbert.

Aku memutuskan untuk bangkit dari ranjang itu dan keluar dari kamar. “Apa yang terjadi?” tanyaku bingung.

“Tadi Gilbert menemukanmu, pingsan di taman.” Jawab Eliza. “Aah, bagaimana Gilbert membawamu ke sini, benar-benar romantiiis~” lanjutnya.

“Hah, kau bangun juga, Tompel. Kau tambah berat saja, tidak awesome.” Kata Gilbert.

Benar-benar tidak berubah, pikirku. “Bagaimana ceritanya?”

“Dengan tidak awesomenya, waktu itu…”
——————

“Baiklah, semuanya sudah dibeli, tinggal siap-siap dan mengundang Ludwig untuk datang. Makan-makan bareng di rumah perkumpulan benar-benar harus disiapkan dengan rapih dan awesome~” kata Gilbert pada dirinya sendiri, berjalan diantara orang-orang lainnya.

Ia berhenti di persimpangan, hendak menyebrang jalan. Sesuatu menarik perhatiannya di taman, sebuah kilatan cahaya kecil. “Apa itu?” ia menghampirinya.

“Hei, ini kacamata!” katanya, saat menyadari benda yang berkilat itu. Tak jauh dari kacamata tersebut, ia menemukan… seseorang.

“Si Tompel?” ia menghampiri orang itu. “Hei, tumbennya kau punya kesenangan tidur di –tunggu dulu. Kau… ah, dia tidak sadar.” Gilbert langsung berusaha mengangkatnya dan memapahnya sampai ke rumah perkumpulan.

“Teman-teman! Tolong siapkan tempat tidur!” teriaknya ketika ia membuka pintu.

“Ada a –kyaa~!” teriak Eliza histeris ketika melihat Gilbert,membawa Roderich yang pingsan.

“Jangan fangirling dulu! Cepat, aku sudah tidak tahan lagi…”

Antonio keluar dari dapur. “Ya ampun, apa karena ini dia tidak menjawab telepon dari kita sejak pagi?”

“Sepertinya begitu. Dia nekat jalan sendiri, dan berujung pada ini. Dasar tompel…”

Feli langsung pergi ke salah satu kamar, dan keluar 5 menit kemudian dengan senyum terkembang di wajahnya. “Sudah, ve~”

Gilbert langsung merangsek ke dalam dan meletakkan Roderich di tempat tidur. “Apa yang terjadi padanya, Gil?” Tanya Antonio dari dapur.

“Aku tidak terlalu tahu, kawan. Sepertinya dia baru saja bertemu grup preman itu.” Kata Gilbert.

“Untuk apa dia disini, menyempitkan tempat saja.” Komentar Lovino acuh.

“Gilbert, tadi itu caramu membawanya… pas sekaliii~ tapi akan lebih bagus jika kau membawanya secara bridal style, lho!” kata Eliza.

“Tidak akan. Ngomong-ngomong, sebaiknya kita lanjutkan persiapannya, dan kita bisa segera mengundang Ludwig kesini, lalu mulai!”

“Ayo!” semuanya langsung kembali ke tempat masing-masing, melanjutkan pekerjaan mereka.
——————

“…Begitu?” tanyaku ragu.

“Ya. Kapan-kapan sebaiknya kau diet, deh. Berat sekali membawamu dari taman sampai rumah.” Jawab Gilbert. “Sebentar lagi, akan ada beberapa orang. Kalau kau mau ke rumah sekarang…” Gilbert merogoh sakunya, dan mengeluarkan selembar uang.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku.

“Karena aku awesome. Aku juga melihat dompetmu tadi, dan kulihat isinya kosong. Pasti kau bertemu ‘mereka’, ‘kan? Terimalah. Malang sekali aku melihatmu tak bisa pulang.”

“Terimakasih.” Aku memutuskan untuk menerima uang itu.

“Jangan lupa melihat tanda jalan ke stasiun, beli tiket, dan latihan bela diri.” Kata Gilbert.

“Untuk apa?”

“Agar aku tak perlu repot-repot memapahmu sampai sini karena kamu pingsan akibat 3 preman. Benar-benar tidak elit, tidak awesome, dan tidak aristokrat.” Jawab Gilbert.

Aku memutuskan untuk segera pulang, karena kakiku sudah bisa diajak kompromi lagi. Aku segera menggendong kembali tas ranselku dan beranjak ke pintu.

“Hei, sebelum pulang, aku mau tanya dulu. Kenapa kau selalu memutuskan sambungan saat kami menelepon sejak tadi pagi?” tanya Antonio.

“I-Itu… saat Gilbert yang menelepon, aku tidak ingin dia tahu aku jalan kaki ke rumah karena ketinggalan kereta dan tertawa sampai air matanya keluar, jadi langsung kuputuskan. Saat kau yang menelepon, aku tidak tahu apa tujuanmu, jadi langsung kuputuskan. Aku juga tidak ingin kau tahu.” Jawabku.

“Apa?! Hahahaha~ Si Tompel berjalan ke rumah~ pasti dia sedang bokek~” kata Gilbert senang. Ia tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Benar dugaanku. Tidak baik jika Gilbert tahu apa yang terjadi padaku.

Aku keluar dari rumah. “Terimakasih, ya.” Kataku pelan di ambang pintu.

Aku menutup pintu, dan aku bisa mendengar jawaban “Sama-sama” dari dalam rumah.
——————

Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Di dalam kereta, aku ingin tertidur, tapi pikiranku terus terjaga. Rupanya, ia ingin aku merenungkan apa saja yang telah terjadi padaku hari ini.

Pertama, kesiangan dan berujung jalan kaki. Itu pertama kalinya aku jalan jauh dalam hidupku. Aku jadi merasa bodoh, seperti seekor katak dalam tempurung.

Kedua, bertemu 3 preman. Benar juga kata Gilbert, aku harus belajar bela diri. Nanti aku minta ajarin Yao, ah…

Ketiga, berakhir di rumah itu. Aku mempelajari hal yang paling penting sekarang. Rumah terkadang bukanlah sebuah tempat. Ia adalah seseorang. Dimanapun mereka berada, maka merekalah rumahku yang sebenarnya.
-TAMAT-

Iklan