Tag

, ,

Summary: Kejadian itu membuatnya sangat melindungi adik asuhnya, lebih dari ia melindungi dirinya sendiri. For FFC Infantrum: Hidden Reality. Prompt: Trauma
———

Seorang gadis kecil berambut lurus pendek warna pirang dengan pita kecil di sisi kanan rambutnya sedang berjalan pelan menuju sekolahnya. diantara bangunan-bangunan rumah di sekitar gadis itu, sekelebat bayangan muncul dan menghilang, berganti-ganti.

Semoga dia baik-baik saja, pikir si pemilik bayangan itu. Ia terus menyelinap diantara gelapnya bangunan, mengikuti gadis itu sampai sekolah.

Di dekat tembok sekolah, ia berhenti, dan melihat gadis itu masuk. Baiklah, dia sudah masuk, pikir sang pemilik bayangan.
———

Si pemilik bayangan itu terus mengamati keadaan gadis kecil. Sampai jam setengah 3, ia segera kabur kembali ke rumah.
———

Saat gadis itu pulang ke rumahnya… “Kak Vash, aku pulang~”

“Akhirnya kau pulang juga, Lily.” Kata sesorang di dalam rumah itu. Ia sedang sibuk mengelap senapan barunya.

“Kakak mau latihan lagi?”

“Tidak, Cuma dibersihkan saja. Sudah cukup berdebu.”

Semuanya kembali sunyi ketika Lily pergi ke kamarnya untuk berganti baju. Ketika Lily keluar dari kamar, Vash memanggilnya dari bawah. “Lily, bisa kau bantu siapkan makan malam hari ini? Bahan-bahannya sudah kusiapkan tadi.”

“Baik, Kak.”
———

Tak lama kemudian, mereka sudah siap menyantap hidangan di meja makan.

“Mmm… Kak, aku akhir-akhir ini agak bingung…” kata Lily.

“Kenapa?” Tanya Vash, menusuk potongan daging di piringnya dengan garpu.

“Aku merasa ada orang yang mengikutiku tadi pagi, saat aku berangkat sekolah. Lalu, orang itu juga sepertinya memata-mataiku selama pelajaran berlangsung.”

“Begitu, ya? Nanti coba kakak cari orang itu.” Kata Vash, kemudian dia memasukkan potongan daging itu ke mulutnya.

“Terimakasih, Kak.” Bisik Lily pelan.
———

Beberapa bulan kemudian…

Ah, orang itu. Aku merasakannya lagi. Kenapa, makin hari, auranya makin terasa tak asing bagiku? Pikir Lily bingung. Ia melewati jembatan kayu menuju sekolah dengan langkah-langkah yang pelan.

Orang itu terus mengikuti Lily, melewati jembatan yang sama. Mengikuti jalan yang persis dilewati Lily, tapi berhenti dan beberapa puluh meter sebelum mencapai sekolah. Ia mengambil jalan memutar, menuju bagian belakang sekolah.

-jam 3 sore-

Telepon genggam Vash berbunyi. “Halo? Oh, Lily. Apa? Kau diajak pergi ke mal? Sama Elizaveta dan Kiku, ya? Baiklah, kau boleh ikut. Iya, sama-sama.” Sambungan diputus, dan Vash segera mengambil dompetnya lalu bergegas pergi ke mal yang dimaksudkan oleh Lily di telepon.

———

Saat sedang berjalan-jalan di mal, Kiku tak sengaja melihat Vash di sebuah kafe. “Lily-chan, bukannya itu kakakmu, ya?” tanyanya.

“Ha? Dimana?”

“Itu. Di kafe, lagi minum cappuccino. Dia kelihatan sedih. Kenapa?”

Lily tersentak. ia merasakan aura itu lagi, dari Vash. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin, pikir Lily. “Teman-teman, aku coba kesana sebentar, ya.” Katanya sopan, lalu beralih menghampiri Vash yang sedang minum cappuccino dengan mata berkaca-kaca.

“Kak,” panggil Lily. Vash langsung kaget dan nyaris saja tersedak.

“Eh, a-ada apa, Lily?”

“Kakak ikut juga?” Tanya Lily polos.

“Nggak, kakak hanya ingin sedikit bersantai.” Jawab Vash beralasan.

Lily terdiam. Kemudian, ia berkata, “Kakak, tolong jujur. Aku rasa, bersantai bukan satu-satunya alasan kakak kesini. Kalau kakak bersantai, kenapa mata kakak berkaca-kaca?”

Sekumpulan kata-kata itu langsung membuat Vash kalah telak. Ia tak bisa berbohong lagi. Akhirnya ia mengusap air matanya dan berkata, “Baiklah, nanti kakak jelaskan soal itu di rumah.” Ia beranjak dari tempatnya, dan pergi tanpa bisa dihentikan oleh Lily.
———

Di ruang keluarga rumahnya Lily…

“Jadi, Kak, kenapa?”

“S-sebenarnya… begini, kakak sering khawatir bagaimana keadaanmu di sekolah, apalagi jika diajak oleh teman-temanmu untuk pergi ke suatu tempat.”

“Kak,” panggil Lily. “Kakak ini sebenarnya kakakku atau bukan, sih? Kenapa semuanya terlihat tersembunyi bagiku?”

“Mmmh… kau tak perlu banyak tahulah, Lily.”

“Kak, aku bukan tipe adik yang tidak peduli. Aku hanya ingin tahu, kenapa aku merasa orang yang mengikutiku tiap aku berangkat sekolah itu mirip kakak.”

“E-Eh, itu…” Vash kebingungan mencari alasan. Ia mendesah pelan, dan akhirnya berkata dengan kepelanan yang sama. “Memang aku yang mengikutimu ke sekolah, Lily.”

“Itu… benar-benar kakak?”

“Ya.”

“Kenapa, Kak? Aku ‘kan sudah besar, untuk apa diikuti terus sampai sekolah?”

“Dulu, waktu kakak masih seusiamu, lebih kecil lagi malah, kakak pernah punya teman. Kemana-mana selalu dengannya. Ia benar-benar teman yang menyenangkan. Sampai suatu hari…”
———

“Vash, kau tidak ke sekolah besok?” Tanya seseorang, kira-kira berumur 14 tahun, sebaya dengan Vash pada saat itu.

“Ah, tidak. Aku mau coba ikut latihan menembak di desa, mumpung teman ayahku yang mengadakannya.” Jawab Vash, sambil mengelus salah satu pistolnya. “Lagipula, besok bebas, ‘kan, ujiannya sudah selesai.”

“Wah, ngeri banget sih, kamu, ngelus-ngelus pistol begitu.” Komentar anak itu, melihat Vash tanpa takut mengelus sebuah pistol.

“Kita kan udah sahabatan lama, Roderich. Kamu tahulah aku bagaimana… ”

“Ya, aku tahu. Seorang pria berambut agak panjang yang rajin, super hemat, tapi berani ngabisin duit buat senjata api. Tahu dirilah, masih SMP kita. Kamu udah mau jadi pembunuh bayaran?” Tanya Roderich.

“Nggak. Ini buat berburu. Sebagai orang hemat, aku lebih suka berburu sendiri.” Kata Vash, yang memang rumahnya dekat dengan sebuah hutan.

“Tuh kan, hematnya nggak ketulungan.” Komentar Roderich, tersenyum kecil.
———

Keesokan harinya, pagi sekali, Vash berangkat ke tempat latihannya, sengaja tidak masuk sekolah. Sampai ketika ia melewati sekolahnya, ia melihat kerumunan di dekat portal yang menjadi pintu gerbang sekolah.

“Ayah, itu ada apa, ya?” Tanya Vash.

“Tumben juga rame begitu. Kau mau lihat?”

“Coba kulihat dulu. Cuman sebentar, kok, Yah.” Vash turun dari mobil, dan menghampiri kerumunan itu.

Ia berlari, dan melihat sesuatu yang tak terlupakan. Sesosok tubuh kurus yang kepalanya berlumuran darah, dan portal yang telah jatuh ke tanah dengan bekas darah di sebagiannya. Lebih lagi, sesosok tubuh itu adalah teman baiknya. Roderich.

“H-Halo, Vash… Kau… T-Tidak jadi berangkat?” Tanya Roderich pelan. Dengan kepala seperti itu, ia tersenyum.

“Jangan pikirkan itu! Keadaanmu sudah sebegininya, masih saja memikirkan aku!” kata Vash setengah berteriak. Lalu ia beralih kepada kerumunan dan bertanya, “apa kalian sudah telpon ambulans?!”

“Sudah, tapi tidak datang-datang. Gerbang sekolah masih ditutup, kami tidak bisa membawanya ke UKS.” kata Toris, salah seorang teman Vash. Vash baru sadar, seluruh orang di kerumunan itu membawa tas mereka.

“V-Vash… tidak apa-apa…”Roderich mengulurkan tangannya, berusaha menggapai pundak Vash dan mengusapnya pelan. “Kau jangan sedih… Sahabat akan sedih kalau sahabatnya sedih…” ucapnya pelan, membuat Vash tak tahan lagi. Tetes kecil di matanya mulai terlihat.

“T-Terimakasih, Vash… untuk selama ini…” Roderich menutup matanya dengan tenang, dan setelah itu hening.

Gilbert memegangi tangan Roderich untuk memeriksa denyut nadinya, dan berkata dengan pelan, menyiratkan kesedihan. “Yang sabar, ya.”

Vash ingin berteriak, berteriak sekuat tenaga, tapi semua kekuatannya hilang. Ia hanya mampu menutup mulutnya dan menangis dalam diam.
———

“Dan, sejak itu kakak selalu berusaha melindungi siapapun yang dekat dengan kakak, karena kakak tak mau mengulang kejadian yang sama lagi.” Vash mengakhiri ceritanya sambil mengusap air yang tiba-tiba saja muncul di matanya dengan selembar saputangan.

Lily yang kaget dengan cerita Vash akan masa lalunya, spontan berkata , “Maaf, Kak! Maaf…” dan berlari ke atas, menuju kamarnya.
———

Keesokan harinya…

“Kak, aku berangkat dulu, ya. Jangan ikuti aku. Aku akan baik-baik saja, kok.” Kata Lily, mengangkat tasnya dan membuka pintu. Vash hanya diam saja.

Beberapa saat setelah Lily pergi, Vash berpikir. Tunggu. Kemarin itu… portal pembatasnya rusak! Aku harus awasi dia. Kemudian, ia pergi menyusul Lily ke sekolah.
———
Di dekat sekolah, Vash melihat Lily berjalan menuju portal itu. Ia juga dapat mendengar portal lapuk itu berkerit-kerit sebelum Lily melewatinya. Oh ya tuhan… pikir Vash.

Saat Lily mendekati portal itu, suara deritannya makin keras. Duh, bagaimana ini? Tak ada jalan lain…

Vash berlari, menuju portal itu. Saat Lily melewatinya portal itu sudah nyaris jatuh. Tapi, Vash mendorong Lily ke depan, dan portal itu berakhir mengenai kepalanya.

“Arkh… Lily…” kata Vash pelan, tertahan oleh beratnya portal.

“Kakak?!” Lily menoleh dengan kaget.

“Lily… Entah kenapa sahabat kadang mati dengan cara yang sama…”

“Jangan bilang begitu, Kak! Kakak belum mati!”

Sey dan Peter yang lewat langsung tersuguhi dengan pemandangan berdarah ini. “Lily! Apa yang terjadi?!”

“Tak ada waktu. Cepat singkirkan portalnya!” kata Lily, berusaha mengangkat portal yang berat itu, langsung dibantu oleh mereka berdua.

“Ada apa ini?!”

“Portalnya baru saja jatuh, dan mengenai orang…” kata Lily pelan, melihat kakaknya, dengan darah mengucur dari kepalanya.

“Kenapa gerbangnya masih dikunci… Jerk… ” kata Peter yang ternyata berlari duluan ke gerbang dan mencoba membukanya.

“Aku sudah coba telepon ambulans, tapi sambungannya putus terus. Bagaimana ini?” Tanya Sey, masih berusaha menekan-nekan tombol di telepon genggamnya.

“Kak, tunggu sebentar, ya… kak?” Lily menoleh ke arah kakaknya.

“Lily… Tak usah repotlah. Terimakasih untuk mengerti. Aku mau tidur dulu…” Vash menutup matanya, bersamaan dengan satu hembusan terakhir.

“K-Kak…”
———

Keesokan harinya, setelah pemakaman…

“Kak, semoga kakak bahagia di alam sana.” Kata Lily pelan, kemudian pergi setelah meletakkan setangkai bunga di dekat makam baru yang masih basah itu.

“Mmm… hei, itu…” Lily menghampiri sebuah makam lain, hanya berjarak beberapa pusara dari makam itu, dengan sebuah batu nisan bertuliskan, ‘Here Lies Roderich Edelstein, 26-10 – 24-5’

“I-Ini… makam temannya Kak Vash?”
———————————

Halo #sindromtelatmenyapa. Cerita ini dikontribusikan untuk FFC Hidden Reality yang saya ikuti bersama dengan beberapa challenge lainnya.

Silahkan berkomen-ria.

Salam,

Furaifurawa-san

Iklan