Heya! Makasih banyak buat yang baca, yang buka doang tapi gak baca, yang baca tapi gak buka #keajaiban, yang baca dan review, yang review tapi gak baca #tunggudulu, yang baca tapi gak review, Makasiiiih~
Langsung baca aja, ya?
________________________________________
Hari Sabtu sore…
Gilbert sibuk memakai lensa kontaknya, mengambil jaket dan topi. Kemudian, Ludwig yang lagi membawa sapu datang ke kamarnya dan bertanya, “Bruder, mau kemana? Bantuin aku bersih-bersih sono!” “ga bisa, west! Aku yang awesome ini ada janji latihan nge-pump sama-sama di rumahnya Rosalie! Jumat pekan lalu aku udah janjian!” kata Gilbert yang langsung cabut. “Jiah, mesti sendirian aku beres-beresnya. Bruder! Woi!” Ludwig mencoba menghentikan Gilbert, tapi tak berhasil; Gilbert sudah keburu pergi naik pasukan burung ke rumah Rosalie.
________________________________________
Di rumah Rosalie…
“Hmm… George datang nggak, ya?” tanya Rosalie penasaran. Tiba-tiba, Dominik datang. “Rosalie, ada orang aneh tuh di depan, nyariin kamu. Aku balik ke rumah dulu, ambil doujin setumpuk lagi.” Dia pun cabut ke bawah.
“Terserah, silahkan, gak balik juga gak apa-apa, bagus malah!” kata Rosalie. Dari bawah terdengar suara, “Tumben ngusir!” “Terserah aku dong! Rumahku juga!” balas Rosalie. Setelah tak terdengar balasan dari Dominik, Rosalie turun ke bawah.
“Ya, silahkan ma- GEORGE! Kau datang!” kata Rosalie senang. “Ya iyalah! Aku kan awe-eh, keren! Orang keren masa’ tidak menepati janji?” kata Gilbert. “Ayo, silahkan masuk! Kau mau minum apa?” kata Rosalie, mengajak Gilbert masuk. “Apapun itu, jangan minta bir, nanti kamu malah mabuk dan gak bisa main!”
Gilbert duduk dengan tenang di kursi tamu. Rosalie pergi ke dapur, dan tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah nampan berisi teko, dua cangkir the, dan sepiring kue. “Ah, ini tehnya.” Ia menuangkan teh ke cangkir Gilbert dan memberikannya.
“Eh George,” kata Rosalie. “Waktu itu, aku dikirimi surat misterius. Isinya puisi cinta, bertema pump pula! Kamu tahu nggak, siapa yang berpeluang jadi penulis puisi itu?” tanyanya.
Gilbert tersentak. ‘Pasti puisi itu yang dia maksud!’ pikirnya. “Aku tidak tahu. Namanya saja surat misterius. Ngomong-ngomong, bagaimana isi suratnya?” tanyanya balik. Rosalie mengeluarkan kertas dari saku bajunya. “Karena aku penasaran, aku membawanya kemana-mana. Oh, sepertinya ada yang lupa kubaca waktu itu.” Rosalie membuka lipatan kertas itu. “…Nah, disini. Pesan, jika kau menyukaiku balik, jangan sampai kisah cinta kita seperti lagu Oh! Rosa. Dan jika kau penasaran, tolong kirim balasan. Puisi, tema Pump It Up.”
Tiba-tiba, Rosalie menutupi wajahnya dan terisak pelan. “Hiks – hiks” “Rosalie, kau kenapa?” tanya Gilbert panik. “Aku -hiks- belum mau mati… -hiks- ” jawab Rosalie sambil tetap terisak. “Tenang…” Gilbert berusaha menenangkannya. Dalam hati Gilbert… ‘Bego bego bego! Kok bego banget aku bisa lupa kalau namanya Rosalie? Aaaah… Gak awesome! Baru kali ini aku bilang diriku nggak awesome!’
Beberapa saat kemudian, Rosalie berhenti menangis. “Mau mulai sekarang?” tanyanya. “Boleh! Dimana mesinnya?” tanya Gilbert bersemangat. “Di kamarku. Ayo.” Rosalie mengajak Gilbert ke lantai atas.
Di kamar Rosalie… “Woa… gede juga kamarmu!” kata Gilbert. ‘Yes! Aku berhasil masuk kamarnya! Lebih baik langsung kutaruh dia di kasur dan kuraep dia! Eh, jangan. Nanti penyamaranku ketahuan!’ pikirnya.
“Nah, ini mesinnya!” kata Rosalie, menunjukkan sebuah mesin besar yang langsung dikenali Gilbert sebagai mesin pump. “Ngomong-ngomong, aku juga merancang Sleep It Up *?* siesta untuk membantuku tidur~” katanya, sambil menunjuk sebuah mesin lain di sebelah mesin pump itu. “Baru ada tiga lagu sih…”
“Kau mau latihan lagu apa?” tanya Rosalie. “Chimera! Aku payah banget sama lagu itu!” kata Gilbert. ‘Apa? aku mengakui kelemahanku sendiri pada seorang wanita, terutama dia? Sudahlah, yang penting aku bisa belajar…’ pikir Gilbert.
“Nah, begini saja. Dulu, kalau aku belum bisa, biasanya aku buat diagram langkahnya, atau cari video orang lain memainkan lagu tersebut dan menirunya. Untuk diagram, aku bisa buat, cari sendiri, atau kalau kau mau, kau bisa pinjam punyaku!” kata Rosalie. “Kalau video sih, aku yakin di luar sana ada banyak, kecuali untuk lagu yang tak terlalu terkenal, mungkin.”
“Lalu, aku mulai dari mana?” tanya Gilbert. “Hmm… mungkin kau perlu lihat video dulu. Lihat, bukan tiru. Pahami pola yang terlihat disana, dan kalau ada yang membuatmu bingung, tanya aku. Aku bisa bantu peragakan gerakan itu.”
Rosalie mengeluarkan laptopnya, menyalakannya, dan membuka satu video. “Nah, ini video saat aku memainkan lagu Chimera di reuni sekolah tahun lalu. Sebenarnya, ada satu hal yang kubenci dari video ini, karena setelah aku main, ada yang menantangku, dan aku… kalah.” Katanya.
Gilbert duduk di depan laptopnya Rosalie, menekuni video itu, memperhatikan setiap langkah disana, mengingat pola yang muncul beberapa kali. ‘Aku harus bisa! aku tak mau mempermalukan diriku yang awesome ini di depannya!’ pikirnya.
Tiba-tiba, Rosalie berkata, “Aku ke bawah dulu sebentar, mau memeriksa apa Dominik sudah kembali dari rumahnya.” Lalu ia beranjak ke pintu. “Lakukan itu beberapa kali, sampai kau mengerti beberapa bagian. Sisanya kau bisa tanya nanti.” Rosalie keluar kamar.
Gilbert terus memutar video itu berkali-kali. “Oh, jadi begitu… kalau dilihat, simpel juga…” katanya melihat salah satu bagian.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Rosalie masuk. “Bagaimana? Sudah mengerti?” “Aku mengerti beberapa bagian, tapi ada yang masih bikin pusing…” jawab Gilbert. “Yang mana?” tanya Rosalie. “Eh, yang ini, bagian yang sebelum terakhir.” Jawab Gilbert. “Ohh… yang itu. biar kuperagakan.” Rosalie mengambil tempat di ubin lantai kamarnya dan memperagakan bagian itu.
“Sebenarnya, kalau kau jeli, George, Chimera ini seperti bentuk muter dengan variasinya. Emm… bukan muter seperti di Starian, ya, bukan itu maksudku. Kalau sudah mengerti, pasti tinggal main aja dan bisa dapat A, bahkan S atau juga SS aka The Absolute Perfect. Kalau kata orang yang sudah ngerti sih, ini kayak muter-muter doang.” Kata Rosalie. ‘UAPAH? Itu mah kata seorang ahli sepertimu, Rosa…’ pikir Gilbert.
Mereka terus berlatih sampai malam. “Sudah lebih paham?” tanya Rosalie. “Ya, sangat lebih. Boleh aku bawa pulang kertas ini? Aku juga hendak latihan di rumah.” Pinta Gilbert. “Silahkan, ambil aja, aku masih punya salinannya.” Kata Rosalie. “Aku pulang dulu, ya.” kata Gilbert, beranjak ke pintu.
________________________________________
Esoknya, Gilbert berlatih keras. Ia melakukan semua hal sambil nge-pump, mulai dari masak, menjemur baju, memberi makan gilbird, bahkan saat ia mandi pun ia nge-pump, dan berakhir dengan… “Whoaa..!” BRUKK… Gilbert terpeleset dan jatuh.”Bruder! Sudah kubilang, jangan mandi sambil nge-pump!” teriak Ludwig dari dapur.
Setelah diobati sebentar oleh adiknya, Gilbert rupanya tidak kapok untuk nge-pump sambil mengepel lantai, dan berujung pada kejadian yang sama.
________________________________________
Hari Seninnya…
Aaahh… hari Senin, hari yang sangat menyebalkan, terutama untuk orang yang masih ingin libur lebih lama, seperti Lovina. Tunggu, kuta tidak membicarakan Lovina disini, jadi tolong lupakan soal itu.
Rosalie datang ke kantor dengan ogah-ogahan, rambutnya masih sedikit berantakan, dan ia sesekali menguap. “Hoaahm… Semoga saja mereka tidak menggangguku hari ini. Ngomong-ngomong, tumben mereka tidak kelihatan.” Katanya.
Tiba-tiba, Gilbert datang… sambil nge-pump. Ludwig di sebelahnya hanya facepalm. ‘Ayolah, Bruder… kau nampak seperti orang terkena koreomania…’ pikirnya. Feliks yang kebetulan lewat langsung berteriak, “Pony! Wabah tarian itu kembali setelah lima ratus tahun! Kita akan mati~ like, Toris, bagaimana ini?”
Rosalie hanya menatap Gilbert kebingungan. Meski beberapa orang panik karena mengira wabah koreomania telah kembali, tarian pump Gilbert malah mengajak orang-orang lain untuk menari bersama, seperti Alfred yang juga mengajak Arthur. Francis dan Antonio juga bergabung bersama ketua *?* mereka. Sayangnya, Francis menari bugil dengan sensor mawar seperti biasanya, membuat Rosalie pergi dan mengunci diri di ruangannya.
“Pony! Mereka tertular wabahnya! Tapi wabah ini seru juga, like pony. Ayo!” Feliks mengajak Toris untuk bergabung. Rupanya, Feliks sendiri corettertularwabahcoret tertarik untuk menari bersama rekan-rekannya.
Akhirnya, wabah koreomania berakhir jam setengah sembilan, saat jam masuk kerja. Ludwig sudah menyiapkan pentungan di sebelahnya, kalau-kalau ada orang yang masih menari. Semua bergidik, dan akhirnya berhenti juga. Dan, hari itu pun berjalan dengan cukup normal, kalau bagian Bad Trio menjahili Rosalie tidak dihitung.
________________________________________
Makasih udah baca~ ngomong-ngomong soal koreomania, dulu ceritanya saya pernah lihat buku kakak kelas yang membahas tentang itu, dimana orang-orang menari berhari-hari sampai pada jatoh kelelahan. Akhirnya, saya buat versi saya sendiri dengan pump sebagai pengganti tarian. Tunggu, bukannya pump juga dihitung tarian? #dilemparduit #kesenengan #ditendangkelaut #baliklagi
Makasih banyak buat Review-nya yarnballVandal yang udah ngasih pendidikan EYD gratis ke saya~ Kalau bisa, nanti saya coba cari diksi yang lebih baik~
Apapun itu, Review-nya, monggo~

Iklan