Comeback setelah Kabur

Tag

,

Hellow semuanya! Emm… begini, saya minta maaf sebesar-besarnya, karena sekarang sibuk nulis cerita berchapter-chapter, akhirnya malah nggak nge-post lagi di sini. Biasalah, bawaan males. Harus editing, lah, dkk. yang bikin malesnya. Ntar kalo udah nggak pegel ngedit lagi, paling balik dan ngebawain serial baru.

Oh, sebagai catatan, tolong komen, ya, yang selalu ngikutin cerita-cerita postinganku. Khawatirnya aja nggak ada yang ngeliat sebenernya, orz…

Portal Petaka dan Masa Lalu (FFC Hidden Reality)

Tag

, ,

Summary: Kejadian itu membuatnya sangat melindungi adik asuhnya, lebih dari ia melindungi dirinya sendiri. For FFC Infantrum: Hidden Reality. Prompt: Trauma
———

Seorang gadis kecil berambut lurus pendek warna pirang dengan pita kecil di sisi kanan rambutnya sedang berjalan pelan menuju sekolahnya. diantara bangunan-bangunan rumah di sekitar gadis itu, sekelebat bayangan muncul dan menghilang, berganti-ganti.

Semoga dia baik-baik saja, pikir si pemilik bayangan itu. Ia terus menyelinap diantara gelapnya bangunan, mengikuti gadis itu sampai sekolah.

Di dekat tembok sekolah, ia berhenti, dan melihat gadis itu masuk. Baiklah, dia sudah masuk, pikir sang pemilik bayangan.
———

Si pemilik bayangan itu terus mengamati keadaan gadis kecil. Sampai jam setengah 3, ia segera kabur kembali ke rumah.
———

Saat gadis itu pulang ke rumahnya… “Kak Vash, aku pulang~”

“Akhirnya kau pulang juga, Lily.” Kata sesorang di dalam rumah itu. Ia sedang sibuk mengelap senapan barunya.

“Kakak mau latihan lagi?”

“Tidak, Cuma dibersihkan saja. Sudah cukup berdebu.”

Semuanya kembali sunyi ketika Lily pergi ke kamarnya untuk berganti baju. Ketika Lily keluar dari kamar, Vash memanggilnya dari bawah. “Lily, bisa kau bantu siapkan makan malam hari ini? Bahan-bahannya sudah kusiapkan tadi.”

“Baik, Kak.”
———

Tak lama kemudian, mereka sudah siap menyantap hidangan di meja makan.

“Mmm… Kak, aku akhir-akhir ini agak bingung…” kata Lily.

“Kenapa?” Tanya Vash, menusuk potongan daging di piringnya dengan garpu.

“Aku merasa ada orang yang mengikutiku tadi pagi, saat aku berangkat sekolah. Lalu, orang itu juga sepertinya memata-mataiku selama pelajaran berlangsung.”

“Begitu, ya? Nanti coba kakak cari orang itu.” Kata Vash, kemudian dia memasukkan potongan daging itu ke mulutnya.

“Terimakasih, Kak.” Bisik Lily pelan.
———

Beberapa bulan kemudian…

Ah, orang itu. Aku merasakannya lagi. Kenapa, makin hari, auranya makin terasa tak asing bagiku? Pikir Lily bingung. Ia melewati jembatan kayu menuju sekolah dengan langkah-langkah yang pelan.

Orang itu terus mengikuti Lily, melewati jembatan yang sama. Mengikuti jalan yang persis dilewati Lily, tapi berhenti dan beberapa puluh meter sebelum mencapai sekolah. Ia mengambil jalan memutar, menuju bagian belakang sekolah.

-jam 3 sore-

Telepon genggam Vash berbunyi. “Halo? Oh, Lily. Apa? Kau diajak pergi ke mal? Sama Elizaveta dan Kiku, ya? Baiklah, kau boleh ikut. Iya, sama-sama.” Sambungan diputus, dan Vash segera mengambil dompetnya lalu bergegas pergi ke mal yang dimaksudkan oleh Lily di telepon.

———

Saat sedang berjalan-jalan di mal, Kiku tak sengaja melihat Vash di sebuah kafe. “Lily-chan, bukannya itu kakakmu, ya?” tanyanya.

“Ha? Dimana?”

“Itu. Di kafe, lagi minum cappuccino. Dia kelihatan sedih. Kenapa?”

Lily tersentak. ia merasakan aura itu lagi, dari Vash. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin, pikir Lily. “Teman-teman, aku coba kesana sebentar, ya.” Katanya sopan, lalu beralih menghampiri Vash yang sedang minum cappuccino dengan mata berkaca-kaca.

“Kak,” panggil Lily. Vash langsung kaget dan nyaris saja tersedak.

“Eh, a-ada apa, Lily?”

“Kakak ikut juga?” Tanya Lily polos.

“Nggak, kakak hanya ingin sedikit bersantai.” Jawab Vash beralasan.

Lily terdiam. Kemudian, ia berkata, “Kakak, tolong jujur. Aku rasa, bersantai bukan satu-satunya alasan kakak kesini. Kalau kakak bersantai, kenapa mata kakak berkaca-kaca?”

Sekumpulan kata-kata itu langsung membuat Vash kalah telak. Ia tak bisa berbohong lagi. Akhirnya ia mengusap air matanya dan berkata, “Baiklah, nanti kakak jelaskan soal itu di rumah.” Ia beranjak dari tempatnya, dan pergi tanpa bisa dihentikan oleh Lily.
———

Di ruang keluarga rumahnya Lily…

“Jadi, Kak, kenapa?”

“S-sebenarnya… begini, kakak sering khawatir bagaimana keadaanmu di sekolah, apalagi jika diajak oleh teman-temanmu untuk pergi ke suatu tempat.”

“Kak,” panggil Lily. “Kakak ini sebenarnya kakakku atau bukan, sih? Kenapa semuanya terlihat tersembunyi bagiku?”

“Mmmh… kau tak perlu banyak tahulah, Lily.”

“Kak, aku bukan tipe adik yang tidak peduli. Aku hanya ingin tahu, kenapa aku merasa orang yang mengikutiku tiap aku berangkat sekolah itu mirip kakak.”

“E-Eh, itu…” Vash kebingungan mencari alasan. Ia mendesah pelan, dan akhirnya berkata dengan kepelanan yang sama. “Memang aku yang mengikutimu ke sekolah, Lily.”

“Itu… benar-benar kakak?”

“Ya.”

“Kenapa, Kak? Aku ‘kan sudah besar, untuk apa diikuti terus sampai sekolah?”

“Dulu, waktu kakak masih seusiamu, lebih kecil lagi malah, kakak pernah punya teman. Kemana-mana selalu dengannya. Ia benar-benar teman yang menyenangkan. Sampai suatu hari…”
———

“Vash, kau tidak ke sekolah besok?” Tanya seseorang, kira-kira berumur 14 tahun, sebaya dengan Vash pada saat itu.

“Ah, tidak. Aku mau coba ikut latihan menembak di desa, mumpung teman ayahku yang mengadakannya.” Jawab Vash, sambil mengelus salah satu pistolnya. “Lagipula, besok bebas, ‘kan, ujiannya sudah selesai.”

“Wah, ngeri banget sih, kamu, ngelus-ngelus pistol begitu.” Komentar anak itu, melihat Vash tanpa takut mengelus sebuah pistol.

“Kita kan udah sahabatan lama, Roderich. Kamu tahulah aku bagaimana… ”

“Ya, aku tahu. Seorang pria berambut agak panjang yang rajin, super hemat, tapi berani ngabisin duit buat senjata api. Tahu dirilah, masih SMP kita. Kamu udah mau jadi pembunuh bayaran?” Tanya Roderich.

“Nggak. Ini buat berburu. Sebagai orang hemat, aku lebih suka berburu sendiri.” Kata Vash, yang memang rumahnya dekat dengan sebuah hutan.

“Tuh kan, hematnya nggak ketulungan.” Komentar Roderich, tersenyum kecil.
———

Keesokan harinya, pagi sekali, Vash berangkat ke tempat latihannya, sengaja tidak masuk sekolah. Sampai ketika ia melewati sekolahnya, ia melihat kerumunan di dekat portal yang menjadi pintu gerbang sekolah.

“Ayah, itu ada apa, ya?” Tanya Vash.

“Tumben juga rame begitu. Kau mau lihat?”

“Coba kulihat dulu. Cuman sebentar, kok, Yah.” Vash turun dari mobil, dan menghampiri kerumunan itu.

Ia berlari, dan melihat sesuatu yang tak terlupakan. Sesosok tubuh kurus yang kepalanya berlumuran darah, dan portal yang telah jatuh ke tanah dengan bekas darah di sebagiannya. Lebih lagi, sesosok tubuh itu adalah teman baiknya. Roderich.

“H-Halo, Vash… Kau… T-Tidak jadi berangkat?” Tanya Roderich pelan. Dengan kepala seperti itu, ia tersenyum.

“Jangan pikirkan itu! Keadaanmu sudah sebegininya, masih saja memikirkan aku!” kata Vash setengah berteriak. Lalu ia beralih kepada kerumunan dan bertanya, “apa kalian sudah telpon ambulans?!”

“Sudah, tapi tidak datang-datang. Gerbang sekolah masih ditutup, kami tidak bisa membawanya ke UKS.” kata Toris, salah seorang teman Vash. Vash baru sadar, seluruh orang di kerumunan itu membawa tas mereka.

“V-Vash… tidak apa-apa…”Roderich mengulurkan tangannya, berusaha menggapai pundak Vash dan mengusapnya pelan. “Kau jangan sedih… Sahabat akan sedih kalau sahabatnya sedih…” ucapnya pelan, membuat Vash tak tahan lagi. Tetes kecil di matanya mulai terlihat.

“T-Terimakasih, Vash… untuk selama ini…” Roderich menutup matanya dengan tenang, dan setelah itu hening.

Gilbert memegangi tangan Roderich untuk memeriksa denyut nadinya, dan berkata dengan pelan, menyiratkan kesedihan. “Yang sabar, ya.”

Vash ingin berteriak, berteriak sekuat tenaga, tapi semua kekuatannya hilang. Ia hanya mampu menutup mulutnya dan menangis dalam diam.
———

“Dan, sejak itu kakak selalu berusaha melindungi siapapun yang dekat dengan kakak, karena kakak tak mau mengulang kejadian yang sama lagi.” Vash mengakhiri ceritanya sambil mengusap air yang tiba-tiba saja muncul di matanya dengan selembar saputangan.

Lily yang kaget dengan cerita Vash akan masa lalunya, spontan berkata , “Maaf, Kak! Maaf…” dan berlari ke atas, menuju kamarnya.
———

Keesokan harinya…

“Kak, aku berangkat dulu, ya. Jangan ikuti aku. Aku akan baik-baik saja, kok.” Kata Lily, mengangkat tasnya dan membuka pintu. Vash hanya diam saja.

Beberapa saat setelah Lily pergi, Vash berpikir. Tunggu. Kemarin itu… portal pembatasnya rusak! Aku harus awasi dia. Kemudian, ia pergi menyusul Lily ke sekolah.
———
Di dekat sekolah, Vash melihat Lily berjalan menuju portal itu. Ia juga dapat mendengar portal lapuk itu berkerit-kerit sebelum Lily melewatinya. Oh ya tuhan… pikir Vash.

Saat Lily mendekati portal itu, suara deritannya makin keras. Duh, bagaimana ini? Tak ada jalan lain…

Vash berlari, menuju portal itu. Saat Lily melewatinya portal itu sudah nyaris jatuh. Tapi, Vash mendorong Lily ke depan, dan portal itu berakhir mengenai kepalanya.

“Arkh… Lily…” kata Vash pelan, tertahan oleh beratnya portal.

“Kakak?!” Lily menoleh dengan kaget.

“Lily… Entah kenapa sahabat kadang mati dengan cara yang sama…”

“Jangan bilang begitu, Kak! Kakak belum mati!”

Sey dan Peter yang lewat langsung tersuguhi dengan pemandangan berdarah ini. “Lily! Apa yang terjadi?!”

“Tak ada waktu. Cepat singkirkan portalnya!” kata Lily, berusaha mengangkat portal yang berat itu, langsung dibantu oleh mereka berdua.

“Ada apa ini?!”

“Portalnya baru saja jatuh, dan mengenai orang…” kata Lily pelan, melihat kakaknya, dengan darah mengucur dari kepalanya.

“Kenapa gerbangnya masih dikunci… Jerk… ” kata Peter yang ternyata berlari duluan ke gerbang dan mencoba membukanya.

“Aku sudah coba telepon ambulans, tapi sambungannya putus terus. Bagaimana ini?” Tanya Sey, masih berusaha menekan-nekan tombol di telepon genggamnya.

“Kak, tunggu sebentar, ya… kak?” Lily menoleh ke arah kakaknya.

“Lily… Tak usah repotlah. Terimakasih untuk mengerti. Aku mau tidur dulu…” Vash menutup matanya, bersamaan dengan satu hembusan terakhir.

“K-Kak…”
———

Keesokan harinya, setelah pemakaman…

“Kak, semoga kakak bahagia di alam sana.” Kata Lily pelan, kemudian pergi setelah meletakkan setangkai bunga di dekat makam baru yang masih basah itu.

“Mmm… hei, itu…” Lily menghampiri sebuah makam lain, hanya berjarak beberapa pusara dari makam itu, dengan sebuah batu nisan bertuliskan, ‘Here Lies Roderich Edelstein, 26-10 – 24-5’

“I-Ini… makam temannya Kak Vash?”
———————————

Halo #sindromtelatmenyapa. Cerita ini dikontribusikan untuk FFC Hidden Reality yang saya ikuti bersama dengan beberapa challenge lainnya.

Silahkan berkomen-ria.

Salam,

Furaifurawa-san

Jika Rumahku Bukan Rumahku (FFC Pulang)

Tag

“Sial, kesiangan!” kataku. “Setengah jam lagi keretanya pergi!” Aku segera bersiap-siap secepat kilat, dan berlari keluar menuju stasiun.

Sayangnya, begitu aku tiba disana, kereta itu baru saja pergi. Oh tidak. Jadwal berikutnya masih sangat lama, dan aku tidak mungkin menunggu. Lagipula, aku baru ingat bahwa uang yang kugunakan untuk membeli tiket itu adalah uang terakhirku. Aku tak bisa membeli tiket lagi. Habislah, habislah harapanku untuk pulang ke rumah.

Aku tidak mau tinggal disini! Aku harus sampai rumah! Aku menggendong kembali ranselku yang juga terduduk lemas di sebelahku, menaikkan kembali posisi kacamataku, dan melangkah keluar dari stasiun. Lagipula, jika jarak dari sini ke kota tempat rumahku hanya beberapa kilometer, aku mungkin akan segera sampai.

Aku akan berjalan ke rumah. Meski aku tidak tahu jalan yang tepat untuk kembali ke sana.

Jika Rumahku Bukan Rumahku

Fandom: Hetalia

Character: Roderich Edelstein/Austria

Warning: Diciptakan dengan kebingungan tentang konsep AU, disertai OOC, keabalan, dan juga kegajean. Jika merasakan keinginan untuk berdosa dengan tangan dan keyboard di kotak komen, segera hentikan proses.
.
.
.

Aku melangkah keluar stasiun. Oh, keluar dari bangunan itu saja merupakan sebuah kebanggaan bagiku. Karena, aku ini mudah tersesat. Bayangkan saja, aku sering tersesat di rumahku sendiri. Apa-apaan itu! Yah, salahku juga, sih, rumahku terlalu besar. Tapi, dulu banyak yang dapat menolongku jika aku tersesat. Sekarang, aku sendirian. Sendirian. Jika aku tersesat lagi, aku dapat tersesat selamanya di rumahku.

Aku terus berjalan, sementara melihat ke belakang. Stasiun itu makin kecil, menandai mulai jauhnya aku berjalan. Tiba-tiba, hape-ku berdering, dan kulihat siapa yang meneleponku

Obaka-san is calling…

Otomatis kutekan tombol merah pemutus sambungan. Aku tidak ingin menyebabkan masalah dengan diriku sendiri. Jika dia tahu aku ketinggalan kereta, pasti dia akan tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.

Satu milisekon kemudian, aku merasa sangat menyesal telah menekan tombol itu. Padahal, ada sedikit harapan dia akan membantuku pulang ke rumah. Ah, tiada gunanya menyesali yang telah terjadi. Aku pun terus berjalan lagi. Cepat atau lambat, aku akan menemukan rumahku.

Sepanjang jalan, aku berpikir. Aku telah membuat rumahku menjadi rumah ternyaman yang pernah kutempati. Semua perabotannya, furniturnya, sudah sesuai dengan keinginanku. Bahkan aku punya sebuah oven bara di rumahku, cocok untuk membuat kue.

Tapi, aku berpikir bahwa rumahku itu bukan rumahku sekarang. Karena aku sendirian. rumah itu bukan dimana kau tinggal, tapi dimana kau dimengerti, itulah kalimat yang sering kudengar. Aku jadi ragu, apakah sebenarnya rumahku adalah ‘rumahku’. Rumahku yang sebenarnya, tentunya.

Dulu, rumahku adalah rumahku. Banyak orang disana. Elizaveta yang banyak membantuku, si kecil Feli yang cukup kikuk, dan juga H-R-E. aku tidak mengerti kenapa dia bernama begitu. Setidaknya, dia memberikan nama yang lebih jelas kek, seperti Peter, George, ataupun Richard. Jika aku tersesat di rumahku, maka akan banyak orang yang akan membantuku mencari tempat yang kucari.

Aku berhenti di tengah perjalananku, dan melirik jam tanganku. “sudah jam 12. Aku harus makan siang.” Kataku pelan. Aku segera pergi ke kedai terdekat, dan keluar dengan sebuah sandwich tuna.

Aku kembali ke jalanan, tidak mempedulikan sebuah bola gas raksasa berwarna kuning yang terus bersinar, berusaha mempengaruhiku agar berhenti berjalan. Ia terlihat seperti mengejekku dan semua kesialan yang kualami hari ini.

Peluh terus bercucuran. Aku abaikan saja mereka. Tetesan kecil itu tidak akan menggangguku. Aku harus terus berjalan. Tiba-tiba, hape-ku berdering lagi.

Antonio Fernandez Carriedo is calling…

Aku sekilas bingung, untuk apa pecinta tomat itu meneleponku. Akhirnya, aku putuskan saja sambungannya.

Sekarang, aku berpikir. Jika rumahku bukan rumahku, maka rumahku yang sebenarnya itu dimana? Apakah di suatu tempat di sekitar sini? Apakah jauh di ujung dunia sana? Atau sebenarnya dekat, hanya saja aku tidak menyadarinya…

Matahari mulai turun, dan aku merasakan angin sejuk bergerak melewatiku. Menyenangkan. Sedetik kemudian, aku sadar. Ke arah manakah aku berjalan?

Oh, ini tambah buruk saja. Sekarang aku tersesat. Aku ingin menelepon seseorang sekarang. Pelan-pelan, aku memencet tombol-tombol nomor di hape-ku, nomornya Gilbert.

Aku menekan tombol hijau itu, dan berharap sepenuh hati Gilbert akan menjawab.

Tuuuutt… ayolah, jangan sampai aku berakhir disini.

Tuuuutt… aku tidak boleh berakhir di pinggiran jalan layaknya gelandangan.

Tuuuutt… aku kan aristokrat! Tindakan seperti itu sangat tidak elit! Kumohon, Gilbert, baru kali ini aku memohon padamu tapi, tolong angkat!

Tuut… tuut… tuut… habislah harapanku. Ia sepertinya marah dan memutuskan sambungannya. Aku jadi makin merasa bersalah karena telah memutuskan sambungan saat ia menelepon tadi pagi.

Hari mulai senja. Sudah 2 jam aku tersesat, yang kuhabiskan dengan berjalan sesuai arah yang kuyakini. Aku menemukan sebuah taman kecil di tengah sebuah persimpangan yang mulai sepi. Aku berhenti di sana dan
duduk di salah satu bangku, kududukkan juga tas ranselku bersamaku. Aku memandangi matahari yang sekarang berubah jingga. Melihat keadaanku sekarang, aku ingin menangis. Tapi, aku bukan seorang anak kecil. Bukankah akan terlihat lucu jika orang melihatku menangis layaknya anak kecil di bangku taman. Sebuah adegan klise.

Malam turun, ditandai dengan munculnya beberapa bintang dan sebuah bulan sabit kecil di langit. Aku terus berjalan, dan dalam hati memarahi kakiku yang lelah berjalan. Dasar kaki, kalian berdua tidak boleh berhenti hingga aku mencapai rumah!

Tiba-tiba, aku dihadang oleh 3 orang bertampang preman. Orang yang di tengah, membawa sebuah pentungan, berkata pada kedua rekannya. “ada orang baru, nih. Kawan-kawan, kita akan dapat makan malam hari ini.”

“K-Kalian mau apa?” tanyaku takut.

“Dengar. Kami tidak akan membuatmu kesakitan kalau kau diam dan melakukan yang kami minta.” Kata orang yang di tengah itu, memain-mainkan pentungannya dengan santai.

Aku diam saja. Ada dua alasan untuk itu. Satu, aku sedikit takut. Dua, aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa dan aku berpikiran bahwa tidak ada gunanya berkompromi dengan sekelompok preman.

Tiba-tiba, aku berkata secara bawah sadar, “Tidak.” Hei, tubuhku! Apa-apaan ini?! Kalian tidak sebanding dengan orang-orang itu!

“Wah, mau ngelawan, ya?” Tanya orang itu, membuat level ketakutanku bertambah 2. “Baiklah, itu yang kau katakan. Ayo, kawan.”

Dua orang lainnya itu langsung menyergapku dan memojokkanku ke dinding, tapi tanpa disangka-sangka aku berhasil lepas dari mereka dengan cara menyikut perut mereka keras-keras. Wah, ternyata sikuku tajam juga! Weits, aku harus segera kabur dari orang itu, dia terus mengayunkan pentungannya ke arahku.

Beberapa kali aku berhasil menghindar. Tapi sepertinya kakiku yang lelah ini tidak bisa diajak kompromi lagi. Beberapa kali aku terlambat menghindar, dan pada saat itu aku selalu kena.

Menyadari kelemahanku, salah satu dari dua orang tadi langsung menyandungku. Si pembawa pentungan itu berbisik pelan ke orang tadi, sepertinya mengucapkan terimakasih. Baguslah, preman-preman masih bisa berterimakasih, walau aku pun tahu mereka tidak akan berterimakasih atas apa yang mereka ambil dariku.

Aku berteriak pada diriku sendiri untuk bangun, tapi ia bahkan tidak mau bergerak sedikitpun. Tuh kan, rasain kamu! Jangan sembarangan nantang orang!

Dengan beberapa pukulan yang berhasil membuatku tambah lemas saja, orang itu akhirnya berhenti. Kemudian, ia merogoh sakuku dan menemukan sebuah dompet yang dengan bodohnya kusimpan disana.

Ada sedikit uang di dalam sana, dan jelas mereka mengambil semuanya. “Makasih, ya!” ia menjatuhkan dompetku ke tanah, tepat di depanku, dan pergi begitu saja dengan kedua kawannya. Wah, tak kusangka mereka berterimakasih! Tapi tetap saja, aku tidak akan bisa bertahan kalau begini caranya. Memang ada cerita orang bisa hidup hanya dengan ucapan terimakasih?

Dengan susah payah aku meraih dompetku, dan menemukan isinya yang kosong. Untungnya kartu-kartu pentingku masih ada. Aku memandang mereka yang pergi begitu saja, tertawa riang. Aku sedikit iri. Mereka bertiga, tertawa bahagia. Aku sendiri, kelelahan dan kesepian. Betapa tidak adilnya.

Tiba-tiba, pandanganku mengabur. Aku sudah memaksa tubuhku terlalu keras. Akhirnya, aku memutuskan untuk menurut dan ambruk begitu saja.
——————

“Mmmh…” aku berusaha membuka mataku yang mendeteksi keberadaan cahaya. Rasanya tadi tempat itu gelap.

“Ve~ Roderich sudah bangun~” aku mendengar suara seseorang. Suara itu; Feli?

“Sudah? Syukurlah. Bawakan ini untuknya.” Kata sebuah suara lainnya, sepertinya seorang perempuan.

Aku membuka mata, berusaha menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya. Kulihat Feli berjalan cepat ke arahku, membawa sebuah gelas berisi air.

Aku melihat ke sekitar, dan baru sadar bahwa aku sedang berada di sebuah kamar. Feli masuk, dan menaruh gelas itu di meja kecil yang terletak di sebelah ranjang tempat aku tidur. “Ve~ Roderich, minum dulu~” katanya.

“Eh… terimakasih, Feli.” Kataku, mendudukkan diri di ranjang itu dan mengambil gelasnya. Hei, aku ingat tempat tidurku tadi lebih keras dan dingin.

Dari luar, aku mendengar suara. “Haduh, si Roderich itu udah berat sekarang! Dasar tidak awesome, pasti dia kebanyakan makan kue!” itu… Gilbert?

“Bagaimana kau bisa menemukannya?” Tanya suara lainnya lagi.

“Kalian menyuruhku berbelanja bahan makanan, dan di tengah perjalanan pulang dari supermarket, aku menemukannya di dekat taman, dalam keadaan pingsan. Haha, rasakan kau!” jawab Gilbert.

Aku memutuskan untuk bangkit dari ranjang itu dan keluar dari kamar. “Apa yang terjadi?” tanyaku bingung.

“Tadi Gilbert menemukanmu, pingsan di taman.” Jawab Eliza. “Aah, bagaimana Gilbert membawamu ke sini, benar-benar romantiiis~” lanjutnya.

“Hah, kau bangun juga, Tompel. Kau tambah berat saja, tidak awesome.” Kata Gilbert.

Benar-benar tidak berubah, pikirku. “Bagaimana ceritanya?”

“Dengan tidak awesomenya, waktu itu…”
——————

“Baiklah, semuanya sudah dibeli, tinggal siap-siap dan mengundang Ludwig untuk datang. Makan-makan bareng di rumah perkumpulan benar-benar harus disiapkan dengan rapih dan awesome~” kata Gilbert pada dirinya sendiri, berjalan diantara orang-orang lainnya.

Ia berhenti di persimpangan, hendak menyebrang jalan. Sesuatu menarik perhatiannya di taman, sebuah kilatan cahaya kecil. “Apa itu?” ia menghampirinya.

“Hei, ini kacamata!” katanya, saat menyadari benda yang berkilat itu. Tak jauh dari kacamata tersebut, ia menemukan… seseorang.

“Si Tompel?” ia menghampiri orang itu. “Hei, tumbennya kau punya kesenangan tidur di –tunggu dulu. Kau… ah, dia tidak sadar.” Gilbert langsung berusaha mengangkatnya dan memapahnya sampai ke rumah perkumpulan.

“Teman-teman! Tolong siapkan tempat tidur!” teriaknya ketika ia membuka pintu.

“Ada a –kyaa~!” teriak Eliza histeris ketika melihat Gilbert,membawa Roderich yang pingsan.

“Jangan fangirling dulu! Cepat, aku sudah tidak tahan lagi…”

Antonio keluar dari dapur. “Ya ampun, apa karena ini dia tidak menjawab telepon dari kita sejak pagi?”

“Sepertinya begitu. Dia nekat jalan sendiri, dan berujung pada ini. Dasar tompel…”

Feli langsung pergi ke salah satu kamar, dan keluar 5 menit kemudian dengan senyum terkembang di wajahnya. “Sudah, ve~”

Gilbert langsung merangsek ke dalam dan meletakkan Roderich di tempat tidur. “Apa yang terjadi padanya, Gil?” Tanya Antonio dari dapur.

“Aku tidak terlalu tahu, kawan. Sepertinya dia baru saja bertemu grup preman itu.” Kata Gilbert.

“Untuk apa dia disini, menyempitkan tempat saja.” Komentar Lovino acuh.

“Gilbert, tadi itu caramu membawanya… pas sekaliii~ tapi akan lebih bagus jika kau membawanya secara bridal style, lho!” kata Eliza.

“Tidak akan. Ngomong-ngomong, sebaiknya kita lanjutkan persiapannya, dan kita bisa segera mengundang Ludwig kesini, lalu mulai!”

“Ayo!” semuanya langsung kembali ke tempat masing-masing, melanjutkan pekerjaan mereka.
——————

“…Begitu?” tanyaku ragu.

“Ya. Kapan-kapan sebaiknya kau diet, deh. Berat sekali membawamu dari taman sampai rumah.” Jawab Gilbert. “Sebentar lagi, akan ada beberapa orang. Kalau kau mau ke rumah sekarang…” Gilbert merogoh sakunya, dan mengeluarkan selembar uang.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku.

“Karena aku awesome. Aku juga melihat dompetmu tadi, dan kulihat isinya kosong. Pasti kau bertemu ‘mereka’, ‘kan? Terimalah. Malang sekali aku melihatmu tak bisa pulang.”

“Terimakasih.” Aku memutuskan untuk menerima uang itu.

“Jangan lupa melihat tanda jalan ke stasiun, beli tiket, dan latihan bela diri.” Kata Gilbert.

“Untuk apa?”

“Agar aku tak perlu repot-repot memapahmu sampai sini karena kamu pingsan akibat 3 preman. Benar-benar tidak elit, tidak awesome, dan tidak aristokrat.” Jawab Gilbert.

Aku memutuskan untuk segera pulang, karena kakiku sudah bisa diajak kompromi lagi. Aku segera menggendong kembali tas ranselku dan beranjak ke pintu.

“Hei, sebelum pulang, aku mau tanya dulu. Kenapa kau selalu memutuskan sambungan saat kami menelepon sejak tadi pagi?” tanya Antonio.

“I-Itu… saat Gilbert yang menelepon, aku tidak ingin dia tahu aku jalan kaki ke rumah karena ketinggalan kereta dan tertawa sampai air matanya keluar, jadi langsung kuputuskan. Saat kau yang menelepon, aku tidak tahu apa tujuanmu, jadi langsung kuputuskan. Aku juga tidak ingin kau tahu.” Jawabku.

“Apa?! Hahahaha~ Si Tompel berjalan ke rumah~ pasti dia sedang bokek~” kata Gilbert senang. Ia tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Benar dugaanku. Tidak baik jika Gilbert tahu apa yang terjadi padaku.

Aku keluar dari rumah. “Terimakasih, ya.” Kataku pelan di ambang pintu.

Aku menutup pintu, dan aku bisa mendengar jawaban “Sama-sama” dari dalam rumah.
——————

Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Di dalam kereta, aku ingin tertidur, tapi pikiranku terus terjaga. Rupanya, ia ingin aku merenungkan apa saja yang telah terjadi padaku hari ini.

Pertama, kesiangan dan berujung jalan kaki. Itu pertama kalinya aku jalan jauh dalam hidupku. Aku jadi merasa bodoh, seperti seekor katak dalam tempurung.

Kedua, bertemu 3 preman. Benar juga kata Gilbert, aku harus belajar bela diri. Nanti aku minta ajarin Yao, ah…

Ketiga, berakhir di rumah itu. Aku mempelajari hal yang paling penting sekarang. Rumah terkadang bukanlah sebuah tempat. Ia adalah seseorang. Dimanapun mereka berada, maka merekalah rumahku yang sebenarnya.
-TAMAT-

Secret Hobby Chapter 3

Tag

Heya! Makasih banyak buat yang baca, yang buka doang tapi gak baca, yang baca tapi gak buka #keajaiban, yang baca dan review, yang review tapi gak baca #tunggudulu, yang baca tapi gak review, Makasiiiih~
Langsung baca aja, ya?

________________________________________

Hari Sabtu sore…

Gilbert sibuk memakai lensa kontaknya, mengambil jaket dan topi. Kemudian, Ludwig yang lagi membawa sapu datang ke kamarnya dan bertanya, “Bruder, mau kemana? Bantuin aku bersih-bersih sono!”

“Ga bisa, West! Aku yang awesome ini ada janji latihan nge-pump sama-sama di rumahnya Rosalie! Jumat pekan lalu aku udah janjian!” kata Gilbert yang langsung cabut.

“Jiah, mesti sendirian aku beres-beresnya. Bruder! Woi!” Ludwig mencoba menghentikan Gilbert, tapi tak berhasil; Gilbert sudah keburu pergi naik pasukan burung ke rumah Rosalie.
________________________________________

Di rumah Rosalie…

“Hmm… George datang nggak, ya?” tanya Rosalie penasaran.

Tiba-tiba, Dominik datang. “Rosalie, ada orang aneh tuh di depan, nyariin kamu. Aku balik ke rumah dulu, ambil doujin setumpuk lagi.” Dia pun cabut ke bawah.

“Terserah, silahkan, gak balik juga gak apa-apa, bagus malah!” kata Rosalie.

Dari bawah terdengar suara, “Tumben ngusir!”

“Terserah aku dong! Rumahku juga!” balas Rosalie. Setelah tak terdengar balasan dari Dominik, Rosalie turun ke bawah.

“Ya, silahkan ma- GEORGE! Kau datang!” kata Rosalie senang.

“Ya iyalah! Aku kan awe-eh, keren! Orang keren masa’ tidak menepati janji?” kata Gilbert.

“Ayo, silahkan masuk! Kau mau minum apa?” kata Rosalie, mengajak Gilbert masuk. “Apapun itu, jangan minta bir, nanti kamu malah mabuk dan gak bisa main!”

Gilbert duduk dengan tenang di kursi tamu. Rosalie pergi ke dapur, dan tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah nampan berisi teko, dua cangkir teh, dan sepiring kue. “Ah, ini tehnya.” Ia menuangkan teh ke cangkir Gilbert dan memberikannya.

“Eh George,” kata Rosalie. “Waktu itu, aku dikirimi surat misterius. Isinya puisi cinta, bertema pump pula! Kamu tahu nggak, siapa yang berpeluang jadi penulis puisi itu?” tanyanya.

Gilbert tersentak. ‘Pasti puisi itu yang dia maksud!’ pikirnya. “Aku tidak tahu. Namanya saja surat misterius. Ngomong-ngomong, bagaimana isi suratnya?” tanyanya balik.

Rosalie mengeluarkan kertas dari saku bajunya. “Karena aku penasaran, aku membawanya kemana-mana. Oh, sepertinya ada yang lupa kubaca waktu itu.” Rosalie membuka lipatan kertas itu. “…Nah, disini. Pesan, jika kau menyukaiku juga, jangan sampai kisah cinta kita seperti lagu Oh! Rosa. Dan jika kau penasaran, tolong kirim balasan. Puisi, tema Pump It Up.”

Tiba-tiba, Rosalie menutupi wajahnya dan terisak pelan. “Rosalie, kau kenapa?” tanya Gilbert panik.

“Aku… belum mau mati… ” jawab Rosalie sambil tetap terisak.

“Tenang…” Gilbert berusaha menenangkannya. Dalam hati Gilbert… ‘Bego bego bego! Kok bego banget aku bisa lupa kalau namanya Rosalie? Aaaah… Gak awesome! Baru kali ini aku bilang diriku nggak awesome!’

Beberapa saat kemudian, Rosalie berhenti menangis. “Mau mulai sekarang?” tanyanya.

“Boleh! Dimana mesinnya?” tanya Gilbert bersemangat.

“Di kamarku. Ayo.” Rosalie mengajak Gilbert ke lantai atas.

Di kamar Rosalie… “Woa… gede juga kamarmu!” kata Gilbert. ‘Yes! Aku berhasil masuk kamarnya! Lebih baik langsung kutaruh dia di kasur dan kuraep dia! Eh, jangan. Nanti penyamaranku ketahuan!’ pikirnya.

“Nah, ini mesinnya!” kata Rosalie, menunjukkan sebuah mesin besar yang langsung dikenali Gilbert sebagai mesin pump. “Ngomong-ngomong, aku juga merancang Sleep It Up *?* Siesta untuk membantuku tidur~” katanya, sambil menunjuk sebuah mesin lain di sebelah mesin pump itu. “Baru ada tiga lagu sih…”

“Kau mau latihan lagu apa?” tanya Rosalie.

“Chimera! Aku payah banget sama lagu itu!” kata Gilbert. ‘Apa? aku mengakui kelemahanku sendiri pada seorang wanita, terutama dia? Sudahlah, yang penting aku bisa belajar…’ pikir Gilbert.

“Nah, begini saja. Dulu, kalau aku belum bisa, biasanya aku buat diagram langkahnya, atau cari video orang lain memainkan lagu tersebut dan menirunya. Untuk diagram, aku bisa buat, cari sendiri, atau kalau kau mau, kau bisa pinjam punyaku!” kata Rosalie. “Kalau video sih, aku yakin di luar sana ada banyak, kecuali untuk lagu yang tak terlalu terkenal, mungkin.”

“Lalu, aku mulai dari mana?” tanya Gilbert.

“Hmm… mungkin kau perlu lihat video dulu. Lihat, bukan tiru. Pahami pola yang terlihat disana, dan kalau ada yang membuatmu bingung, tanya aku. Aku bisa bantu peragakan gerakan itu.”

Rosalie mengeluarkan laptopnya, menyalakannya, dan membuka satu video. “Nah, ini video saat aku memainkan lagu Chimera di reuni sekolah tahun lalu. Sebenarnya, ada satu hal yang kubenci dari video ini, karena setelah aku main, ada yang menantangku, dan aku… kalah.” Katanya.

Gilbert duduk di depan laptopnya Rosalie, menekuni video itu, memperhatikan setiap langkah disana, mengingat pola yang muncul beberapa kali. ‘Aku harus bisa! aku tak mau mempermalukan diriku yang awesome ini di depannya!’ pikirnya.

Tiba-tiba, Rosalie berkata, “Aku ke bawah dulu sebentar, mau memeriksa apa Dominik sudah kembali dari rumahnya.” Lalu ia beranjak ke pintu. “Lakukan itu beberapa kali, sampai kau mengerti beberapa bagian. Sisanya kau bisa tanya nanti.” Rosalie keluar kamar.

Gilbert terus memutar video itu berkali-kali. “Oh, jadi begitu… kalau dilihat, simpel juga…” katanya melihat salah satu bagian.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Rosalie masuk. “Bagaimana? Sudah mengerti?”

“Aku mengerti beberapa bagian, tapi ada yang masih bikin pusing…” jawab Gilbert.

“Yang mana?” tanya Rosalie.

“Eh, yang ini, bagian yang sebelum terakhir.” Jawab Gilbert.

“Ohh… yang itu. biar kuperagakan.” Rosalie mengambil tempat di ubin lantai kamarnya dan memperagakan bagian itu.

“Sebenarnya, kalau kau jeli, George, Chimera ini seperti bentuk muter dengan variasinya. Emm… bukan muter seperti di Starian, ya, bukan itu maksudku. Kalau sudah mengerti, pasti tinggal main aja dan bisa dapat A, bahkan S atau juga SS aka The Absolute Perfect. Kalau kata orang yang sudah ngerti sih, ini kayak muter-muter doang.” Kata Rosalie.

‘UAPAH? Itu mah kata seorang ahli sepertimu, Rosa…’ pikir Gilbert.
________________________________________

Mereka terus berlatih sampai malam. “Sudah lebih paham?” tanya Rosalie.

“Ya, sangat. Boleh aku bawa pulang kertas ini? Aku juga hendak latihan di rumah.” Pinta Gilbert.

“Silahkan, ambil aja, aku masih punya salinannya.” Kata Rosalie. “Aku pulang dulu, ya.” kata Gilbert, beranjak ke pintu.
________________________________________

Esoknya, Gilbert berlatih keras. Ia melakukan semua hal sambil nge-pump, mulai dari masak, menjemur baju, memberi makan Gilbird, bahkan saat ia mandi pun ia nge-pump, dan berakhir dengan… “Whoaa..!” BRUKK… Gilbert terpeleset dan jatuh.

“Bruder! Sudah kubilang, jangan mandi sambil nge-pump!” teriak Ludwig dari dapur.

Setelah diobati sebentar oleh adiknya, Gilbert rupanya tidak kapok untuk nge-pump sambil mengepel lantai, dan berujung pada kejadian yang sama.
________________________________________

Hari Seninnya…

Aaahh… hari Senin, hari yang sangat menyebalkan, terutama untuk orang yang masih ingin libur lebih lama, seperti Lovina. Tunggu, kita tidak membicarakan Lovina disini, jadi tolong lupakan soal itu.

Rosalie datang ke kantor dengan ogah-ogahan, rambutnya masih sedikit berantakan, dan ia sesekali menguap. “Hoaahm… Semoga saja mereka tidak menggangguku hari ini. Ngomong-ngomong, tumben mereka tidak kelihatan.” Katanya.

Tiba-tiba, Gilbert datang… sambil nge-pump. Ludwig di sebelahnya hanya facepalm. ‘Ayolah, Bruder… kau nampak seperti orang terkena koreomania…’ pikirnya.

Feliks yang kebetulan lewat langsung berteriak, “Pony! Wabah tarian itu kembali setelah lima ratus tahun! Kita akan mati~ like, Toris, bagaimana ini?”

Rosalie hanya menatap Gilbert kebingungan. Meski beberapa orang panik karena mengira wabah koreomania telah kembali, tarian pump Gilbert malah mengajak orang-orang lain untuk menari bersama, seperti Alfred yang juga mengajak Arthur. Francis dan Antonio juga bergabung bersama ketua *?* mereka. Sayangnya, Francis menari bugil dengan sensor mawar seperti biasanya, membuat Rosalie pergi dan mengunci diri di ruangannya.

Pony! Mereka tertular wabahnya! Tapi wabah ini seru juga, like pony. Ayo!” Feliks mengajak Toris untuk bergabung. Rupanya, Feliks sendiri corettertularwabahcoret tertarik untuk menari bersama rekan-rekannya.

Akhirnya, wabah koreomania berakhir jam setengah sembilan, saat jam masuk kerja. Ludwig sudah menyiapkan pentungan di sebelahnya, kalau-kalau ada orang yang masih menari. Semua bergidik, dan akhirnya berhenti juga. Dan, hari itu pun berjalan dengan cukup normal, kalau bagian Bad Trio menjahili Rosalie tidak dihitung.
________________________________________

Makasih udah baca~ ngomong-ngomong soal koreomania, dulu ceritanya saya pernah lihat buku kakak kelas yang membahas tentang itu, dimana orang-orang menari berhari-hari sampai pada jatoh kelelahan. Akhirnya, saya buat versi saya sendiri dengan pump sebagai pengganti tarian. Tunggu, bukannya pump juga dihitung tarian? #dilemparduit #kesenengan #ditendangkelaut #baliklagi

Makasih banyak buat Review-nya yarnballVandal yang udah ngasih pendidikan EYD gratis ke saya~ Kalau bisa, nanti saya coba cari diksi yang lebih baik~

Apapun itu, Review-nya, monggo~

In Loneliness (Orific | FFC DUtM)

Tag

, ,

Summary: Dia dikenal penyendiri. Temannya pun cuma 2 orang, adiknya dan seorang gadis periang. “Kak, bagaimana ini? Tidak mungkin juga, kan, kalau begini terus?” For FFC Infantrum: Death Under the Moon
———

“Ayo cepat pergi! Jangan dekat-dekat dia!” segerombolan anak-anak berlari pergi begitu melihat seseorang di depan gerbang taman. Orang itu, yang masih anak-anak juga, ditemani oleh seorang anak laki-laki lain yang lebih pendek darinya.

“Kak, yang sabar, ya.” Kata laki-laki lain itu, berusaha menenangkannya sebelum marahnya keluar.

Orang itu menghela napas, dan berkata, “Tidak apa-apa, Ed. Ini sering terjadi.”
———

Di sekolah, orang itu selalu menyendiri. Ia jarang keluar, karena dia tidak mau dan tidak ada seorangpun yang mengajaknya. Tiap hari, ia selalu berkutat dengan buku teori seni yang ia bawa. Bersikap seperti tidak peduli orang lain, itulah yang selalu tampak di wajahnya. Atau dia mungkin memang tidak peduli. Sekarang juga, sang narator harus cabut lari karena dikejar orang itu sambil dilempari buku.

Saat pulang sekolah, saat yang selalu ia tunggu. Bukan karena ia ingin segera ke rumah dan main, toh main tidak ada gunanya karena semua orang akan pergi begitu ia datang. Ia ingin segera lepas dari perasaan tidak menyenangkan yang terus ia alami tiap hari. Sekarang, ia sedang berjalan pulang bersama Ed.

“Hei, Ed, sebenarnya aku ini yang mengerikan sebelah mananya, ya?” Tanya orang itu.

“Kakak tidak mengerikan, kok…” kata Ed pelan, meskipun sepertinya ia tidak terlalu jujur dan hanya ingin menyenangkan hati kakaknya.

“Jujurlah, Edmund. Kenyataan sebaiknya diberitahukan.” Kata orang itu.

“Eh, Kak…” Ed bingung. Ia tidak ingin menyakiti hati kakaknya, tapi ia disuruh jujur oleh kakaknya juga.

Tiba-tiba, terdengar suara dari belakang mereka. Terdengar samar-samar, seperti menyuruh mereka berhenti.

“Siapa itu?” Tanya Ed.

“Biarkan saja. Paling anak-anak yang biasa mengejek kita.” Orang itu berjalan terus, tapi langsung ditahan oleh Ed dengan menarik lengannya.

“Aku tidak percaya kalau orang yang biasa mengejek kita dapat terdengar seriang itu ketika memanggil kita.” Kata Ed.

“Bisa jadi itu keriangan karena berhasil menemukan target ejekan.” Kata orang itu lagi, melepaskan diri
dari Ed dan berjalan lagi.

“Hei, kalian! Tunggu!” teriakan itu makin jelas, dan kali ini menciptakan kata-kata yang dimengerti. Dari jauh, seorang gadis berambut pirang keemasan, bermata coklat, dan memakai sebuah tas selempang berlari mengejar mereka.

“Kak, jangan pergi dulu!” panggil Ed, tapi kakaknya tidak peduli. Ia masih saja berjalan.

Gadis itu berhasil mencapai Ed. Ia bertanya, “Mana kakakmu?”

Bagaimana dia bisa tahu kalau Wil kakakku? Pikir Ed bingung. Akhirnya ia menjawab, sambil membetulkan kacamatanya. “Dia sudah pergi duluan. Maaf, ya. Dia agak skeptis jika ada orang lain yang mencarinya. Hasil dari perlakuan tidak menyenangkan selama 10 tahun.”

“Oh, begitu, ya? Kasihan sekali…” kata gadis itu.

Tiba-tiba, mereka berdua dikagetkan oleh sebuah suara. Rupanya, orang itu berbalik ke mereka. “Apa maksudmu tadi dengan ‘perlakuan tidak menyenangkan selama 10 tahun’, Edmund?” tanyanya keras.

“Kak…” Ed mengumpulkan keberaniannya, kemudian berteriak kepada kakaknya. “Jangan disangkal, Kak! Itu benar-benar terjadi, perlakuan seperti itu pada kakak! Saksinya adalah aku dan Tuhan!”

Orang itu tersentak. Tidak salah apa yang dikatakan adiknya. Aku selalu menyangkal semua perlakuan buruk yang ditujukan padaku, membuatku menjadi seorang skeptis. “Baiklah, tapi sebaiknya lain kali kau
berhati-hati saat bersumpah atas nama Tuhan.” Katanya sambil menepuk pundak Ed.

“Jadi, ada apa dengan gadis ini dan untuk apa dia berlari mengejar kita?” Tanya orang itu.

“Aku dititipi pesan dari Bu Frost, kau dapat nilai tertinggi waktu praktek melukis. Dia juga bilang kau punya bakat dalam kekuatan melukis. Tadi kalian langsung pergi, jadi aku yang disuruh menyampaikan ke kalian. Trus,” ia mendekat ke orang itu tanpa rasa takut sama sekali, sedikit membuatnya salah tingkah.
“Dia bilang gaya lukisanmu sudah hampir sekaliber Velazquez dan Rubens!” bisiknya keras.

Orang itu malah menepisnya, dan berkata dengan marah, “Kau kira aku melukis orang-orang tanpa baju?!” lalu langsung pergi tanpa melihat ke belakang.

“Kak!” Ed mengejar kakaknya itu. “Dia tidak bermaksud! Dia hanya bilang gaya lukisannya, kan? Bukan apa yang dilukis?” katanya.

Setelah beberapa detik penuh pertarungan sengit dengan dirinya sendiri akan kemarahan yang siap dilepaskan, orang itu menghela napasnya dan berkata, “…Kau benar.” Ia berjalan kembali ke gadis itu.

“Tolong maafkan dia soal yang tadi…” kata Ed pada gadis itu.

“Tidak apa-apa,” kata gadis itu sambil tersenyum. “Kita belum kenalan, ya? Perkenalkan, Amalie. Amalie Imhoff.” Ia menjulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan.

“Aku Edmund Charion, dan ini kakakku-”

“Wilhelm.” potong orang itu. Ia berusaha tersenyum, meski sepertinya gadis itu agak kaget melihat senyumannya yang terkategori cukup menakutkan. Seperti seorang drakula, kata orang-orang.

Amalie berjabat tangan dengan Wilhelm. Amalie berpikir, tangannya… kasar juga. Bagaimana tangan sekasar ini bisa memperlakukan kuas dan kanvas dengan lembut, itu benar-benar hebat.

“Jadi, kalian dari keluarga Charion? Orangtua kalian kemana?” Tanya Amalie.

“Itu… kau bisa bilang mereka tinggal di bawah tanah.” Kata Edmund, memberikan kiasan.

“Bukan di bawah tanah, Ed. Di langit.” Sanggah Wilhelm.

“Orangtua kalian… bisa terbang? Atau seekor burung? Atau…” Amalie berhenti, mengingat bahwa ‘di langit’ biasanya juga merupakan kiasan untuk ‘di alam baka’; orangtua mereka sudah meninggal.

“Tidak apa-apa. Kami pulang dulu.” Edmund berbalik, mengajak kakaknya kembali berjalan.
———
3 tahun kemudian…

Sebenarnya, ini apa? Pikir Wilhelm bingung. Ia sedang merenung di kamarnya, di hadapan alat-alat melukisnya. Ia merasakan keanehan setiap kali ia dekat dengan Amalie. Awalnya hanya merinding. Iya, merinding. Lalu ditambah dengan kecepatan detak jantungnya, dan sebuah perasaan senang.

Sudah hampir waktunya ujian akhir. Ia tidak boleh gagal hanya karena semua sindrom aneh itu. Ia pun berdoa. Oh Tuhan, jangan buat aku gagal dalam ujian ini hanya karena sahabatku, kumohon…

Ia bertanya pada semua peralatannya. “Apa yang mesti kulakukan sekarang, kawan-kawanku?”

Kau harus belajar, kata kuas.

Kau harus banyak latihan, kata kanvas.

Kau harus melakukan latihan mental untuk melupakan gadis itu sejenak, kata palet.

“Apa? Tidak bisa! Aku tidak ingin melupakannya!” jawab Wilhelm tidak terima.

Barang sejenakpun? Tanya palet.

“…Ya. Aku tidak ingin, dan tidak bisa.”

Cieeee~ koor peralatan yang lain, termasuk penyangga kanvas dan cat.

Aku tahu yang terjadi padamu, anak muda. Kata penyangga kanvas. Kau menyukai gadis itu, kan? Jujurlah. Kau sering mengucapkan kata itu pada adikmu, kan?

“Iya.”

Tiba-tiba, adiknya masuk ke kamarnya. “Kak, kakak bicara dengan siapa?”

“Bukan dengan siapa-siapa, kok.” Jawab Wilhelm, berusaha menutupi pembicaraan imajinasinya dengan peralatan lukis.

“Ed,” panggilnya, memutar kursi putarnya menghadap Edmund. “Apa kau pernah mengalami perasaan khusus terhadap seseorang?”

“Apa? Senang, takut, tertarik, suka?” Tanya Ed balik.

“Sepertinya antara tertarik dan suka.” Jawab Wilhelm.

“…Wah, kakak baru merasakannya sekarang? Kakak sudah hampir 18 tahun, lho…” kata Ed sambil membuka tirai kamar kakaknya. “Ini perasaan yang normal, kok. Setiap orang pernah merasakannya. Ngomong-ngomong, pada siapa?”

“Sebelum aku menjawab, apa kau tidak keberatan?” Tanya Wilhelm.

“Keberatan akan?”

“Jika orang itu mungkin sama dengan orang yang juga kau beri perasaan yang sama.”

“Oh, tidak apa-apa.”

“Baiklah. Selama kau tahu aku tidak pernah menyukai semua orang yang mengejekku, maka pilihan tinggal satu.”

Edmund tersentak. “Maksud kakak… Amalie?”

“Ya,” jawab Wilhelm. “Kau sudah janji kan, untuk tidak keberatan?”

“Aku tidak keberatan, meskipun sebenarnya… aku juga menyukainya.” Kata Ed.

“Ah, begitu.” Kata Wilhelm, kembali dengan kesan tidak pedulinya.
———

Setelah beberapa lama, perasaan itu malah makin menjadi pada mereka berdua. Karena sekarang mereka sudah cukup umur untuk ‘itu’, mereka harus mempertimbangkan soal Amalie sebelum ada orang berikutnya.

“Jadi menurut Kakak, bagaimana ini? Tidak mungkin juga kan, kalau begini terus?” Tanya Ed dalam sebuah konferensi rahasia dengan kakaknya di ruang tamu rumah mereka.

“Kau kan sudah menyukainya, sudahlah, bilang saja. Merepotkan sekali.” Kata Wilhelm sebal.

“Tapi kakak juga, kan? Kakak punya hak yang sama.”

“Memang, tapi jika dipertimbangkan lagi, sebaiknya kau saja yang bersama Amalie.”

“Tidak. Aku tidak ingin kakak sendirian lagi. Kakak sudah sendirian hampir seumur hidup kakak.” Tolak Ed tegas.

Melihat keteguhan (baca: sikap keras kepala) adiknya, Wilhelm mulai naik darah. Ia mengeluarkan sebilah kuas dari sakunya, dan terus mengacungkan benda itu ke wajah adiknya sampai terpojok. “Dengarkan baik-baik, Edmund,” kata Wilhelm, membuat adiknya itu sedikit ketakutan melihat kakaknya. “Aku tidak ingin dia ketakutan hanya karena penampilanku ini. Dia akan memerlukan orang yang lebih mudah tersenyum sepertimu. Aku juga ingin kau bahagia; menikahlah dengannya.”
———

Akhirnya, Edmund menikahi Amalie. Beberapa bulan kemudian, mereka dikaruniai anak pertama mereka.

“Kau namai anakmu itu apa?” Tanya Wilhelm di telepon. “Maaf aku tidak bisa datang, aku sedang banyak pesanan.”

“Aku berencana menamainya Leopold.” Jawab Edmund.

“Nama yang bagus. Oh ya, sebentar lagi aku harus mengantar potret ke pemesannya. Sudah dulu, ya.” Wilhelm langsung memutuskan sambungan.
———

Wilhelm memandang sebuah potret. Buatannya sendiri, tentunya. Disana, terlihat adiknya, berdiri di sebelah Amalie yang duduk sambil menggendong seorang anak.

“Ah, sudah waktunya melanjutkan lukisanku. Sander, tolong jagakan rumah selama aku melukis.” Katanya pada kucing kuning kecoklatan yang selalu mengikutinya.

Kucing itu mengeong, dan duduk santai di ‘pos’-nya dekat jendela ruang tamu. Wilhelm sendiri pergi ke ruangannya di lantai atas.

“Peralatan sudah siap, dan tinggal sedikit lagi yang perlu dilukis.” Ia mulai melukis, dan sesekali kucingnya datang membawakan air.

Setelah beberapa jam, ia teringat. Pernikahan adiknya dan Amalie dilaksanakan di malam dengan bulan sabit kecil; bulan baru yang akan ia lukis.

Bukan masalah, pikirnya. Ia mulai membuat goresan untuk bulan kecil itu, menggunakan kuas terkecil yang ia punya.

“Sedikit lagi…” ia menggoreskan kuasnya, menciptakan bentuk lengkungan kecil berwarna kuning pucat yang sangat indah.

Tiba-tiba, ia merasakan sebuah kesakitan di dadanya. “Oh, jangan s-sekarang…” ia menggoreskan kuasnya sekali lagi, menegaskan keberadaan sang bulan di atas langit, menyembul diatas hutan.

“Sander, cepat datang…” panggilnya. Sang kucing langsung berlari ke atas.

Ketika sang kucing sampai, ia terhenyak melihat pemandangan di sekitarnya.
———

“Hei, kucing itu mengeong terus sejak kemarin. Ada apa, sih?” Tanya seseorang yang lewat di depan rumah itu.

“Coba kita lihat.” Kata temannya.

Mereka membuka pintu rumah yang tidak dikunci. Kucing yang menyadari kedatangan mereka segera turun dan menyambut.

“Meong~ Meong~ Meong~” kucing itu pergi ke atas, seakan mengajak mereka naik.

“Mungkin kucing itu ingin menunjukkan sesuatu pada kita.” Orang itu naik ke atas, diikuti temannya.

Sesampainya di depan ruangan milik Wilhelm, kucing itu berhenti. Ia berusaha berdiri dan meraih-raih kenop pintu.

Teman dari orang itu membuka pintu, dan spontan berkata, “Ya Tuhan… inilah yang hendak diberitahukan
oleh kucing itu.”

“Turut berduka, kucing malang.” Kata orang itu ketika masuk ke dalam ruangan, memperhatikan jasad seseorang di dekat kanvas, dengan lukisan yang telah terselesaikan; sebuah gambar pemakaman dengan bulan sabit mungil di sudut kanan lukisan itu.

“Hei, ada tulisan dekat orang ini!” katanya, menggeser tangan dari jasad itu dan menemukan sebuah pesan: Kirimkan maaf ke Edmund. Tertanda, Wilhelm dan Sander.

-TAMAT-
————–_____————–

Balik lagi ke blog, akhirnya. ini satu orific yang kuciptakan untuk sebuah challenge di infantrum, Death Under the Moon. Nggak yakin menang sih, wong masih baru nan abal gini… tapi, tetep aja, harapan mesti dipasang!